Salah satu penemuan terbesar dalam proses refleksi itu adalah kerinduannya terhadap sosok ibu. Bagi Hendita, rumah bukan sekadar bangunan atau tempat untuk kembali. Rumah adalah sosok ibu. Sebuah ruang aman yang selalu ingin ia datangi kembali, bahkan ketika waktu telah berjalan begitu jauh.
“Saya sadar ada hal-hal yang perlu saya sembuhkan dalam diri, dan itu ada di ibu saya. Rumah bagi saya adalah ibu,” ungkapnya.
Kesadaran tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk visual yang memenuhi ruang pamer. Warna-warna yang lembut maupun kontras, komposisi yang dinamis, hingga struktur visual yang kompleks menjadi representasi dari perjalanan batin yang tidak selalu mudah untuk dijalani.
Perjalanan Pemulihan
Setiap karya dalam Epiphany bukan hanya sebuah lukisan, setiap kanvas merupakan catatan perjalanan menuju pemulihan. Sebuah kesaksian tentang bagaimana seseorang berdamai dengan masa lalu, menerima luka yang pernah ada, dan perlahan menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Tidak hanya menghadirkan karya seni rupa, Hendita juga meluncurkan sebuah buku berjudul Epiphany. Buku tersebut berisi kumpulan narasi dan refleksi personal yang menjadi pelengkap bagi karya-karya yang dipamerkan.
Melalui buku dan pameran ini, Hendita membagikan karya seni yang juga membuka ruang bagi publik untuk melihat proses penyembuhan yang dialami. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa pemulihan bukanlah tentang melupakan luka, melainkan memahami keberadaannya dan menerima peran Tuhan dalam setiap prosesnya.
Pada akhirnya, Epiphany menjadi dokumentasi perjalanan hidup seorang perempuan yang, setelah puluhan tahun berjalan, akhirnya menemukan makna baru tentang rumah, tentang dirinya sendiri, dan tentang bagaimana Tuhan selalu hadir dalam proses pembenahan kembali hidup manusia. (jpg)
Salah satu penemuan terbesar dalam proses refleksi itu adalah kerinduannya terhadap sosok ibu. Bagi Hendita, rumah bukan sekadar bangunan atau tempat untuk kembali. Rumah adalah sosok ibu. Sebuah ruang aman yang selalu ingin ia datangi kembali, bahkan ketika waktu telah berjalan begitu jauh.
“Saya sadar ada hal-hal yang perlu saya sembuhkan dalam diri, dan itu ada di ibu saya. Rumah bagi saya adalah ibu,” ungkapnya.
Kesadaran tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk visual yang memenuhi ruang pamer. Warna-warna yang lembut maupun kontras, komposisi yang dinamis, hingga struktur visual yang kompleks menjadi representasi dari perjalanan batin yang tidak selalu mudah untuk dijalani.
Perjalanan Pemulihan
Setiap karya dalam Epiphany bukan hanya sebuah lukisan, setiap kanvas merupakan catatan perjalanan menuju pemulihan. Sebuah kesaksian tentang bagaimana seseorang berdamai dengan masa lalu, menerima luka yang pernah ada, dan perlahan menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Tidak hanya menghadirkan karya seni rupa, Hendita juga meluncurkan sebuah buku berjudul Epiphany. Buku tersebut berisi kumpulan narasi dan refleksi personal yang menjadi pelengkap bagi karya-karya yang dipamerkan.
Melalui buku dan pameran ini, Hendita membagikan karya seni yang juga membuka ruang bagi publik untuk melihat proses penyembuhan yang dialami. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa pemulihan bukanlah tentang melupakan luka, melainkan memahami keberadaannya dan menerima peran Tuhan dalam setiap prosesnya.
Pada akhirnya, Epiphany menjadi dokumentasi perjalanan hidup seorang perempuan yang, setelah puluhan tahun berjalan, akhirnya menemukan makna baru tentang rumah, tentang dirinya sendiri, dan tentang bagaimana Tuhan selalu hadir dalam proses pembenahan kembali hidup manusia. (jpg)