Puluhan perupa dari Surabaya dan sekitarnya ambil bagian dalam pameran tersebut. Beragam karya ditampilkan dengan berbagai aliran, mulai dari realisme, ekspresionisme, surealisme, abstrak, hingga gaya kontemporer. Keberagaman itu menjadi cerminan bahwa kebebasan berekspresi merupakan kekuatan utama dalam dunia seni rupa.
Setiap karya menyuguhkan sudut pandang yang berbeda. Ada yang menyampaikan kritik sosial, menggambarkan harapan, hingga mengajak pengunjung merenungkan pentingnya menjaga nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Muit berharap masyarakat tidak hanya menikmati karya seni dari sisi estetika, tetapi juga menangkap pesan-pesan yang ingin disampaikan para seniman. Menurutnya, seni dapat menjadi ruang dialog yang mampu membangun kesadaran bersama tanpa harus menggurui.
“Melukis itu bebas. Berkarya itu merdeka. Seni akan selalu menjadi suara ketika kata-kata tak lagi cukup didengar,” pungkasnya. (sam/jpg)
Puluhan perupa dari Surabaya dan sekitarnya ambil bagian dalam pameran tersebut. Beragam karya ditampilkan dengan berbagai aliran, mulai dari realisme, ekspresionisme, surealisme, abstrak, hingga gaya kontemporer. Keberagaman itu menjadi cerminan bahwa kebebasan berekspresi merupakan kekuatan utama dalam dunia seni rupa.
Setiap karya menyuguhkan sudut pandang yang berbeda. Ada yang menyampaikan kritik sosial, menggambarkan harapan, hingga mengajak pengunjung merenungkan pentingnya menjaga nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Muit berharap masyarakat tidak hanya menikmati karya seni dari sisi estetika, tetapi juga menangkap pesan-pesan yang ingin disampaikan para seniman. Menurutnya, seni dapat menjadi ruang dialog yang mampu membangun kesadaran bersama tanpa harus menggurui.
“Melukis itu bebas. Berkarya itu merdeka. Seni akan selalu menjadi suara ketika kata-kata tak lagi cukup didengar,” pungkasnya. (sam/jpg)