Jarak Pandang hanya Berkisar 100-200 Meter, Aktivitas Penerbangan di Muara Teweh Dibatalkan

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berdampak terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Hingga saat ini, penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh masih belum dapat beroperasi karena jarak pandang yang belum memenuhi standar keselamatan penerbangan.

General Manager AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya, Hengki Rudianto mengatakan, kondisi berbeda masih terjadi di sejumlah unit pelayanan navigasi penerbangan yang berada di bawah pengelolaan AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya.

“Untuk daerah-daerah unit di bawah pengelolaan AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya seperti Muara Teweh, Kuala Kurun, dan Buntok, semenjak kurang lebih minggu ketiga Agustus sudah tidak ada penerbangan atau dibatalkan karena jarak pandang berada di bawah batas minimum,” ujarnya saat diwawancarai di Kantor AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya, Jumat (11/9/2026).

Menurut Hengki, kondisi kabut asap di sejumlah wilayah tersebut sempat menyebabkan jarak pandang hanya berkisar 100 hingga 200 meter. Dengan kondisi demikian, aktivitas penerbangan dinilai tidak memungkinkan untuk dilaksanakan demi menjaga keselamatan penerbangan.

Baca Juga :  Jalan Poros Wilayah Pesisir Ditargetkan Rampung 2023

“Ada yang menyentuh 100 meter sampai 200 meter saja. Jadi tidak memungkinkan dilakukan penerbangan di unit-unit tersebut,” katanya.

Dia menjelaskan, sejumlah maskapai dan operator penerbangan yang melayani rute menuju wilayah pedalaman Kalimantan Tengah turut terdampak kondisi tersebut. Beberapa di antaranya melayani penerbangan dari Balikpapan, termasuk Airfast, pesawat jenis ATR, serta Susi Air yang melayani rute Palangka Raya–Muara Teweh.

Electronic money exchangers listing

Meski sempat terjadi pergerakan penerbangan pada 24 Agustus lalu, Hengki menyebut hal itu terjadi karena kondisi cuaca saat itu memenuhi persyaratan operasional penerbangan.

“Pada tanggal 24 Agustus ada pergerakan karena jarak pandang memenuhi syarat sesuai aturan yang berlaku,” ungkapnya.

Namun hingga saat ini, berdasarkan laporan terbaru dari kepala unit AirNav di Muara Teweh, seluruh penerbangan masih dibatalkan. Operator penerbangan terus melakukan evaluasi harian untuk menentukan kemungkinan pembukaan kembali layanan penerbangan.

Baca Juga :  Tingkatkan Kewaspadaan Cegah Karhutla Sejak Dini

“Sampai hari ini informasi dari kepala unit di Muara Teweh masih cancel, tidak ada penerbangan. Untuk kapan dimulainya kembali penerbangan akan disampaikan oleh operator setelah melihat perkembangan kondisi setiap hari,” jelas Hengki.

Dia menegaskan AirNav Indonesia tetap siap memberikan pelayanan navigasi penerbangan kapan pun operator memutuskan untuk kembali beroperasi. Namun, keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama.

“AirNav tetap memberikan pelayanan. Namun apabila kondisi visibility atau jarak pandang berada di bawah batas minimum, dipastikan penerbangan tidak akan dilakukan demi alasan keselamatan,” tegasnya.

Kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah menjadi tantangan tersendiri bagi sektor transportasi udara, terutama untuk penerbangan perintis yang menghubungkan daerah-daerah pedalaman dengan pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan. Hingga kondisi cuaca membaik, sejumlah rute penerbangan di wilayah tersebut diperkirakan masih akan mengalami gangguan operasional. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berdampak terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Hingga saat ini, penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh masih belum dapat beroperasi karena jarak pandang yang belum memenuhi standar keselamatan penerbangan.

General Manager AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya, Hengki Rudianto mengatakan, kondisi berbeda masih terjadi di sejumlah unit pelayanan navigasi penerbangan yang berada di bawah pengelolaan AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya.

Electronic money exchangers listing

“Untuk daerah-daerah unit di bawah pengelolaan AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya seperti Muara Teweh, Kuala Kurun, dan Buntok, semenjak kurang lebih minggu ketiga Agustus sudah tidak ada penerbangan atau dibatalkan karena jarak pandang berada di bawah batas minimum,” ujarnya saat diwawancarai di Kantor AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya, Jumat (11/9/2026).

Menurut Hengki, kondisi kabut asap di sejumlah wilayah tersebut sempat menyebabkan jarak pandang hanya berkisar 100 hingga 200 meter. Dengan kondisi demikian, aktivitas penerbangan dinilai tidak memungkinkan untuk dilaksanakan demi menjaga keselamatan penerbangan.

Baca Juga :  Jalan Poros Wilayah Pesisir Ditargetkan Rampung 2023

“Ada yang menyentuh 100 meter sampai 200 meter saja. Jadi tidak memungkinkan dilakukan penerbangan di unit-unit tersebut,” katanya.

Dia menjelaskan, sejumlah maskapai dan operator penerbangan yang melayani rute menuju wilayah pedalaman Kalimantan Tengah turut terdampak kondisi tersebut. Beberapa di antaranya melayani penerbangan dari Balikpapan, termasuk Airfast, pesawat jenis ATR, serta Susi Air yang melayani rute Palangka Raya–Muara Teweh.

Meski sempat terjadi pergerakan penerbangan pada 24 Agustus lalu, Hengki menyebut hal itu terjadi karena kondisi cuaca saat itu memenuhi persyaratan operasional penerbangan.

“Pada tanggal 24 Agustus ada pergerakan karena jarak pandang memenuhi syarat sesuai aturan yang berlaku,” ungkapnya.

Namun hingga saat ini, berdasarkan laporan terbaru dari kepala unit AirNav di Muara Teweh, seluruh penerbangan masih dibatalkan. Operator penerbangan terus melakukan evaluasi harian untuk menentukan kemungkinan pembukaan kembali layanan penerbangan.

Baca Juga :  Tingkatkan Kewaspadaan Cegah Karhutla Sejak Dini

“Sampai hari ini informasi dari kepala unit di Muara Teweh masih cancel, tidak ada penerbangan. Untuk kapan dimulainya kembali penerbangan akan disampaikan oleh operator setelah melihat perkembangan kondisi setiap hari,” jelas Hengki.

Dia menegaskan AirNav Indonesia tetap siap memberikan pelayanan navigasi penerbangan kapan pun operator memutuskan untuk kembali beroperasi. Namun, keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama.

“AirNav tetap memberikan pelayanan. Namun apabila kondisi visibility atau jarak pandang berada di bawah batas minimum, dipastikan penerbangan tidak akan dilakukan demi alasan keselamatan,” tegasnya.

Kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah menjadi tantangan tersendiri bagi sektor transportasi udara, terutama untuk penerbangan perintis yang menghubungkan daerah-daerah pedalaman dengan pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan. Hingga kondisi cuaca membaik, sejumlah rute penerbangan di wilayah tersebut diperkirakan masih akan mengalami gangguan operasional. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru