PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Inflasi tahunan (year on year/yoy) Kota Palangka Raya pada Mei 2026 tercatat mencapai 4,48 persen. Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya terus memantau perkembangan harga kebutuhan masyarakat, dengan komoditas solar, beras, dan ikan menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi.
Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini mengatakan, selain tiga komoditas tersebut, sejumlah barang kebutuhan lainnya juga turut memberikan pengaruh terhadap laju inflasi di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah itu.
“Untuk inflasi year on year, penyumbang utamanya solar, beras, dan ikan. Selain itu ada beberapa komoditas lain yang juga ikut memberikan pengaruh terhadap kenaikan inflasi,” kata Achmad Zaini, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, inflasi pada Mei 2026 turut dipengaruhi dampak kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang sempat terjadi beberapa waktu lalu. Meski persoalan tersebut telah teratasi, efeknya masih tercermin pada perbandingan inflasi Mei tahun ini dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kemarin sempat terjadi kelangkaan BBM, sekarang sudah dapat diselesaikan. Namun dampaknya masih terlihat pada inflasi Mei tahun ini jika dibandingkan dengan Mei tahun lalu,” ujarnya.
Selain itu, Pemko Palangka Raya juga mencermati kenaikan harga bawang merah yang dalam beberapa hari terakhir meningkat akibat terbatasnya pasokan. Harga bawang merah naik dari Rp55.000 menjadi Rp63.000 per kilogram.
“Bawang merah saat ini mengalami kenaikan dari Rp55.000 menjadi Rp63.000 per kilogram karena pasokannya terbatas. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Palangka Raya, tetapi juga hampir di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.
Di sisi lain, sejumlah komoditas cabai justru mengalami penurunan harga yang cukup signifikan dalam sepekan terakhir. Cabai merah keriting turun dari Rp70.000 menjadi Rp50.000 per kilogram, cabai merah besar dari Rp80.000 menjadi Rp70.000, cabai rawit hijau dari Rp70.000 menjadi Rp60.000, serta cabai rawit merah dari Rp90.000 menjadi Rp80.000 per kilogram.
Sementara itu, kenaikan harga ikan terutama dipicu berkurangnya pasokan ikan air tawar, khususnya ikan patin dan beberapa jenis ikan sungai lainnya. Kondisi tersebut dipengaruhi cuaca yang masih didominasi curah hujan tinggi sehingga produksi dan hasil tangkapan belum maksimal.
“Untuk ikan patin dan beberapa ikan sungai, produksi dipengaruhi cuaca. Seharusnya sudah memasuki musim kemarau, tetapi curah hujan masih cukup tinggi sehingga hasil tangkapan belum maksimal,” jelas Zaini.
Ia menambahkan, pasokan ikan laut dari Banjarmasin memang sedikit menurun, namun belum berdampak signifikan terhadap ketersediaan ikan di pasar Kota Palangka Raya. Menurutnya, komoditas yang perlu diwaspadai saat ini adalah ikan air tawar karena pasokannya masih belum stabil.
Untuk mengantisipasi gejolak harga yang lebih besar, Pemko Palangka Raya telah menginstruksikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Dinas Perdagangan, dan Dinas Perikanan untuk memperkuat pemantauan terhadap ketersediaan serta distribusi bahan pokok.
“Kami meminta dinas terkait memastikan pasokan bahan pokok yang masuk ke Kota Palangka Raya tetap tersedia. Yang terpenting saat ini stok kebutuhan masyarakat masih cukup sehingga tidak terjadi gejolak harga yang berlebihan,” tutupnya. (adr)


