PROKALTENG.CO-Fenomena enggan difoto kerap dialami banyak orang, terutama remaja dan pengguna media sosial. Wajah yang terlihat “aneh” atau berbeda di kamera sering kali membuat seseorang merasa kurang percaya diri, meski saat bercermin terlihat normal.
Menurut psikolog, kondisi ini tidak sepenuhnya berkaitan dengan rasa percaya diri, tetapi juga dipengaruhi efek camera distortion. Distorsi kamera terjadi ketika lensa mengubah proporsi objek dari bentuk aslinya, terutama pada pengambilan gambar jarak dekat menggunakan smartphone.
Efek ini membuat bagian wajah tertentu tampak berbeda, seperti hidung yang terlihat lebih besar atau bentuk wajah yang tampak tidak proporsional. Penelitian dari Rutgers New Jersey Medical School yang dimuat dalam jurnal JAMA Facial Plastic Surgery menunjukkan bahwa lensa kamera dapat mengubah proporsi wajah secara signifikan, bahkan membuat hidung tampak hingga 30 persen lebih besar dalam foto close-up.
Secara psikologis, fenomena ini berkaitan dengan cara otak memproses citra diri. Dalam Psikologi Kognitif, manusia cenderung mempercayai tampilan yang sering dilihat. Karena terbiasa melihat wajah di cermin, hasil foto yang berbeda bisa terasa asing dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Selain itu, kondisi ini juga berkaitan dengan distorsi kognitif yang banyak dibahas dalam pendekatan Cognitive Behavioral Therapy yang dikembangkan oleh Aaron T. Beck. Seseorang bisa langsung menilai dirinya tidak fotogenik, padahal perubahan tersebut dipengaruhi oleh efek lensa kamera.
Dalam satu dampak, paparan foto yang terdistorsi secara berulang dapat memengaruhi kepercayaan diri, terutama di era media sosial yang membentuk standar penampilan visual. Perbedaan kecil pada foto bisa terasa besar dan memicu rasa tidak puas terhadap diri sendiri.
Untuk mengurangi efek ini, masyarakat disarankan memahami bahwa kamera tidak selalu merepresentasikan realitas secara akurat. Pengambilan gambar dengan jarak lebih jauh, penggunaan lensa yang tepat, serta pengolahan foto menggunakan aplikasi seperti Adobe Lightroom dapat membantu menghasilkan tampilan yang lebih proporsional.
Dengan memahami fenomena camera distortion, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menilai penampilan diri. Foto bukan cerminan mutlak dari realitas, melainkan hasil interpretasi teknologi yang memiliki keterbatasan. (sry/fir/jpg)


