PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Lonjakan harga kemasan plastik hingga mencapai sekitar 60 persen di kawasan Pasar Besar Tradisional Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir mulai dikeluhkan para pedagang, seiring terganggunya pasokan bahan baku dan distribusi.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini. Menyampaikan bahwa pemerintah Kota Palangka Raya. Melalui Dinas Lingkungan Hidup sebelumnya mendorong peraturan daerah terkait pengurangan penggunaan kantong plastik.
“Jika diterapkan dengan baik peraturan daerah ini, kenaikan harga tidak akan menjadi persoalan karena plastik juga berdampak buruk bagi lingkungan,” ujar Achmad Zaini, Kamis (9/4/2026).
“Ke depan, penggunaan barang sekali pakai perlu mulai dikurangi dengan beralih ke kantong belanja yang ramah lingkungan dan dapat digunakan berulang kali,” tambahnya.
Kondisi ini turut memberikan tekanan bagi pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada kemasan plastik untuk menjalankan usahanya.
“Kami juga mendorong pelaku UMKM, untuk memproduksi tas belanja yang bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif pengganti plastik,” tambahnya.
Selain itu, penggunaan bahan alami dinilai dapat menjadi solusi sederhana, untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai.
“Penggunaan bahan tradisional juga tidak menjadi masalah, misalnya dengan memanfaatkan daun pisang sebagai pembungkus,” pungkasnya. (adr)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Lonjakan harga kemasan plastik hingga mencapai sekitar 60 persen di kawasan Pasar Besar Tradisional Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir mulai dikeluhkan para pedagang, seiring terganggunya pasokan bahan baku dan distribusi.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini. Menyampaikan bahwa pemerintah Kota Palangka Raya. Melalui Dinas Lingkungan Hidup sebelumnya mendorong peraturan daerah terkait pengurangan penggunaan kantong plastik.
“Jika diterapkan dengan baik peraturan daerah ini, kenaikan harga tidak akan menjadi persoalan karena plastik juga berdampak buruk bagi lingkungan,” ujar Achmad Zaini, Kamis (9/4/2026).
“Ke depan, penggunaan barang sekali pakai perlu mulai dikurangi dengan beralih ke kantong belanja yang ramah lingkungan dan dapat digunakan berulang kali,” tambahnya.
Kondisi ini turut memberikan tekanan bagi pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada kemasan plastik untuk menjalankan usahanya.
“Kami juga mendorong pelaku UMKM, untuk memproduksi tas belanja yang bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif pengganti plastik,” tambahnya.
Selain itu, penggunaan bahan alami dinilai dapat menjadi solusi sederhana, untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai.
“Penggunaan bahan tradisional juga tidak menjadi masalah, misalnya dengan memanfaatkan daun pisang sebagai pembungkus,” pungkasnya. (adr)