28.1 C
Jakarta
Monday, April 6, 2026

Fenomena Pink Moon April 2026, Warga Kalteng Terancam Gagal Menyaksikan

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena astronomi Pink Moon yang diperkirakan terjadi pada awal April 2026 berpotensi tidak dapat disaksikan dengan jelas oleh masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Muhamad Ihsan Sidiq menjelaskan bahwa Pink Moon sebenarnya bukan berarti bulan akan berwarna merah muda.

Istilah tersebut merupakan penamaan tradisional dari Amerika Utara yang merujuk pada mekarnya bunga phlox saat musim semi.

“Pink Moon itu nama lain dari bulan purnama. Bulannya tidak benar-benar berwarna pink,” jelas Ihsan saat dikonfirmasi pada Senin (30/3/2026).

Ia menyebutkan, fase puncak bulan purnama diperkirakan terjadi pada 2 April 2026. Secara teori, fenomena ini dapat diamati saat langit cerah dengan tutupan awan rendah.

Baca Juga :  Pemkab Murung Raya Luncurkan Program Kawan Windi

Namun demikian, kondisi cuaca di wilayah Kalteng diprediksi kurang mendukung. Pada malam hari tanggal 1 April 2026, sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami hujan.

“Untuk tanggal 1 April malam diprediksi hujan. Kemudian pada 2 April dini hari hingga pagi, hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah,” ungkapnya.

Electronic money exchangers listing

Wilayah yang berpotensi diguyur hujan meliputi Kabupaten Katingan, Pulang Pisau, Gunung Mas, Palangka Raya, Kapuas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Timur, dan Barito Selatan.

Dengan kondisi tersebut, peluang masyarakat untuk menyaksikan Pink Moon secara jelas menjadi cukup kecil. Menurut BMKG, fenomena ini bukan kejadian langka karena terjadi setiap tahun sebagai bagian dari siklus Bulan Purnama bulanan.

“Fase puncak bulan purnama bisa dilihat ketika cuaca mendukung, seperti tidak hujan atau tutupan awan rendah. Namun untuk kali ini kecil kemungkinan terlihat karena cuaca diprediksi hujan,” tambah Ihsan.

Baca Juga :  Di Seruyan Ada Empat Titik Dianggap Rawan Kecelakaan, Ini Datanya

Meski begitu, masyarakat tetap disarankan untuk memantau perkembangan cuaca terbaru. Jika kondisi langit tiba-tiba cerah, fenomena bulan purnama masih bisa disaksikan, terutama di wilayah dengan tutupan awan yang lebih rendah. (jef)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena astronomi Pink Moon yang diperkirakan terjadi pada awal April 2026 berpotensi tidak dapat disaksikan dengan jelas oleh masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Muhamad Ihsan Sidiq menjelaskan bahwa Pink Moon sebenarnya bukan berarti bulan akan berwarna merah muda.

Istilah tersebut merupakan penamaan tradisional dari Amerika Utara yang merujuk pada mekarnya bunga phlox saat musim semi.

Electronic money exchangers listing

“Pink Moon itu nama lain dari bulan purnama. Bulannya tidak benar-benar berwarna pink,” jelas Ihsan saat dikonfirmasi pada Senin (30/3/2026).

Ia menyebutkan, fase puncak bulan purnama diperkirakan terjadi pada 2 April 2026. Secara teori, fenomena ini dapat diamati saat langit cerah dengan tutupan awan rendah.

Baca Juga :  Pemkab Murung Raya Luncurkan Program Kawan Windi

Namun demikian, kondisi cuaca di wilayah Kalteng diprediksi kurang mendukung. Pada malam hari tanggal 1 April 2026, sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami hujan.

“Untuk tanggal 1 April malam diprediksi hujan. Kemudian pada 2 April dini hari hingga pagi, hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah,” ungkapnya.

Wilayah yang berpotensi diguyur hujan meliputi Kabupaten Katingan, Pulang Pisau, Gunung Mas, Palangka Raya, Kapuas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Timur, dan Barito Selatan.

Dengan kondisi tersebut, peluang masyarakat untuk menyaksikan Pink Moon secara jelas menjadi cukup kecil. Menurut BMKG, fenomena ini bukan kejadian langka karena terjadi setiap tahun sebagai bagian dari siklus Bulan Purnama bulanan.

“Fase puncak bulan purnama bisa dilihat ketika cuaca mendukung, seperti tidak hujan atau tutupan awan rendah. Namun untuk kali ini kecil kemungkinan terlihat karena cuaca diprediksi hujan,” tambah Ihsan.

Baca Juga :  Di Seruyan Ada Empat Titik Dianggap Rawan Kecelakaan, Ini Datanya

Meski begitu, masyarakat tetap disarankan untuk memantau perkembangan cuaca terbaru. Jika kondisi langit tiba-tiba cerah, fenomena bulan purnama masih bisa disaksikan, terutama di wilayah dengan tutupan awan yang lebih rendah. (jef)

Terpopuler

Artikel Terbaru