PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO — Di tengah teriknya puncak musim kemarau yang makin kering, Kalimantan Tengah kini memiliki bantuan dari angkasa. Dua pesawat disiagakan penuh dari Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Satu bertugas memancing turunnya hujan lewat rekayasa cuaca, satu lagi terbang memantau titik api dan asap dari atas.
Langit tak lagi sekadar menyaksikan, melainkan ikut turun tangan menjaga bumi Kalimantan Tengah tetap aman dari kobaran api. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meningkat seiring kemarau panjang membuat penanganan lewat jalur udara makin diperkuat.
Pangkalan utama seluruh operasi ditempatkan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. Dari sinilah pesawat lepas landas menuju wilayah yang berpotensi tumbuh awan, lalu menyebarkan garam halus untuk memancing turunnya hujan guna membasahi tanah yang mulai retak kering.

Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama BNPB, Dadang Rhamdani, menjelaskan bahwa dari dua pesawat yang siap siaga, saat ini satu unit difokuskan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pesawat selebihnya diperbantukan terbang melintas memantau titik panas, sebaran asap, dan luasan area yang terbakar dari ketinggian.
“Benar, sekarang tinggal satu pesawat untuk OMC karena satu lagi digunakan untuk patroli. Patroli dilakukan untuk pemantauan hotspot, asap, dan area yang terbakar. Untuk posko dan pangkalan ada di Bandara Tjilik Riwut,” ujar Dadang, Selasa (4/8/2026).
Setiap kali terbang melaksanakan OMC, pesawat mampu membawa hingga sekitar 1.000 kilogram bahan semai berupa garam atau Natrium Klorida (NaCl). Butiran garam itu disebarkan tepat ke awan yang memenuhi syarat, memicu butiran air membesar dan jatuh sebagai hujan.
Upaya ini bukan sekadar mendinginkan udara. Tujuannya yakni untuk membasahi lahan gambut dan hutan yang mulai kering, membuat api lebih sulit menyala dan lebih mudah dipadamkan bila muncul kobaran.
Catatan resmi BNPB menunjukkan seberapa besar upaya ini telah dilakukan. Pada periode 16–30 Juni 2026, pesawat Cessna Grand Caravan 208B berkode PK-FPU milik PT Arjuna Cakrawala Perkasa terbang sebanyak 31 kali. Akumulasi waktu di udara mencapai 63 jam lebih, dan sebanyak 31.000 kg garam telah disebarkan ke angkasa demi memancing hujan.
Operasi lanjutan kembali digelar pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026. Dalam kurun waktu singkat itu, pesawat melaksanakan lima misi terbang, menghabiskan waktu 10 jam lebih di udara, dan menyebarkan 5.000 kg bahan semai. Setelah menyelesaikan rangkaian misi OMC tersebut, pesawat PK-FPU kini beralih tugas menjadi mata dan telinga dari udara — melakukan patroli pantauan titik api dan sebaran asap di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.
“Saat ini pesawat diperbantukan untuk patroli pemantauan,” tambah Dadang.
Artinya, kini ada dua kekuatan yang saling melengkapi. Yaitu satu pesawat berusaha menurunkan hujan guna mencegah api berkobar, sementara pesawat lain memantau setiap jengkal wilayah dari atas agar titik api bisa segera diketahui dan ditangani lebih cepat. Di saat hujan jarang turun dan tanah makin retak, kehadiran bantuan dari udara ini menjadi harapan nyata bagi warga. (kpg)


