26.2 C
Jakarta
Friday, March 6, 2026

Prabowo Beri Sinyal RI Keluar dari BoP Imbas Eskalasi Serangan Israel-AS ke Iran

PROKALTENG.CO-Eskalasi konflik di Timur Tengah pascaserangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran akhir pekan lalu memicu reaksi keras dari Pemerintah Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto memberi sinyal kuat akan mengevaluasi total keanggotaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP).

Hal ini terungkap dalam pertemuan maraton selama 3,5 jam di Istana Merdeka, Selasa (3/3/2026), yang melibatkan para tokoh bangsa, mantan menteri luar negeri, hingga pimpinan partai politik.

Mandat Perdamaian Melemah

Mantan Menteri Luar Negeri era Megawati dan SBY, Hassan Wirajuda, yang hadir dalam pertemuan tersebut, mengonfirmasi bahwa Kepala Negara sedang menimbang ulang efektivitas BoP. Pasalnya, serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel, yang notabene adalah anggota BoP, dianggap telah mengkhianati mandat perdamaian yang disusun organisasi tersebut.

“Presiden menyatakan memang harus dievaluasi dengan perkembangan-perkembangan terakhir ini,” ujar Hassan Wirajuda usai pertemuan di Istana Merdeka sebagaimana dikutip Kamis (5/3/2026).

Baca Juga :  Jika Jadi Presiden, Prabowo Janji akan Perhatikan Musik Dangdut

Menurut Hassan, BoP yang awalnya dibentuk untuk memfasilitasi gencatan senjata (ceasefire), akses bantuan kemanusiaan, serta rekonstruksi wilayah konflik, kini kehilangan taji.

Electronic money exchangers listing

Perang yang berkecamuk di Iran dikhawatirkan akan melumpuhkan mandat dewan tersebut secara permanen.

Hitung Ulang Pengiriman 8.000 Pasukan

Salah satu poin krusial yang turut dibahas adalah nasib pengiriman 8.000 personel tentara Indonesia yang rencananya akan tergabung dalam International Stabilization Force (ISF) ke Palestina.

Sebagai negara kontributor pasukan terbesar, Indonesia kini mulai berhitung ulang.

“Kita akan menilai, apakah dengan begitu kita akan terus patuh membayar (iuran keanggotaan). Kedua, apakah penggelaran pasukan yang kita justru paling besar, kita akan berhitung lagi,” tegas Hassan.

Opsi Keluar dari BoP

Baca Juga :  2 Ribu Warga Gaza Dirawat di Pulau Galang Provinsi Kepulauan Riau

Tekanan publik agar Indonesia menarik diri dari dewan tersebut rupanya juga menjadi perhatian serius bagi Presiden.

Prabowo secara terbuka membahas kemungkinan Indonesia keluar dari BoP jika organisasi tersebut tidak lagi sejalan dengan misi kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Berdasarkan komunikasi Prabowo dengan para pemimpin negara Teluk dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), muncul kesan kolektif bahwa potensi keberhasilan BoP saat ini terus merosot.

“Beliau (Presiden) mengatakan kita akan menilai sejauh mana BoP akan tetap menjalankan misinya. Kalau tidak, ya kita keluar. Itu sangat jelas, beliau tidak menutupi,” kata Hassan.

Hingga saat ini, pemerintah masih terus memantau dinamika di Timur Tengah sebelum mengambil keputusan final terkait status keanggotaan dan pengerahan pasukan penjaga perdamaian Indonesia ke kancah internasional.(jpg)

PROKALTENG.CO-Eskalasi konflik di Timur Tengah pascaserangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran akhir pekan lalu memicu reaksi keras dari Pemerintah Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto memberi sinyal kuat akan mengevaluasi total keanggotaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP).

Hal ini terungkap dalam pertemuan maraton selama 3,5 jam di Istana Merdeka, Selasa (3/3/2026), yang melibatkan para tokoh bangsa, mantan menteri luar negeri, hingga pimpinan partai politik.

Electronic money exchangers listing

Mandat Perdamaian Melemah

Mantan Menteri Luar Negeri era Megawati dan SBY, Hassan Wirajuda, yang hadir dalam pertemuan tersebut, mengonfirmasi bahwa Kepala Negara sedang menimbang ulang efektivitas BoP. Pasalnya, serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel, yang notabene adalah anggota BoP, dianggap telah mengkhianati mandat perdamaian yang disusun organisasi tersebut.

“Presiden menyatakan memang harus dievaluasi dengan perkembangan-perkembangan terakhir ini,” ujar Hassan Wirajuda usai pertemuan di Istana Merdeka sebagaimana dikutip Kamis (5/3/2026).

Baca Juga :  Jika Jadi Presiden, Prabowo Janji akan Perhatikan Musik Dangdut

Menurut Hassan, BoP yang awalnya dibentuk untuk memfasilitasi gencatan senjata (ceasefire), akses bantuan kemanusiaan, serta rekonstruksi wilayah konflik, kini kehilangan taji.

Perang yang berkecamuk di Iran dikhawatirkan akan melumpuhkan mandat dewan tersebut secara permanen.

Hitung Ulang Pengiriman 8.000 Pasukan

Salah satu poin krusial yang turut dibahas adalah nasib pengiriman 8.000 personel tentara Indonesia yang rencananya akan tergabung dalam International Stabilization Force (ISF) ke Palestina.

Sebagai negara kontributor pasukan terbesar, Indonesia kini mulai berhitung ulang.

“Kita akan menilai, apakah dengan begitu kita akan terus patuh membayar (iuran keanggotaan). Kedua, apakah penggelaran pasukan yang kita justru paling besar, kita akan berhitung lagi,” tegas Hassan.

Opsi Keluar dari BoP

Baca Juga :  2 Ribu Warga Gaza Dirawat di Pulau Galang Provinsi Kepulauan Riau

Tekanan publik agar Indonesia menarik diri dari dewan tersebut rupanya juga menjadi perhatian serius bagi Presiden.

Prabowo secara terbuka membahas kemungkinan Indonesia keluar dari BoP jika organisasi tersebut tidak lagi sejalan dengan misi kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Berdasarkan komunikasi Prabowo dengan para pemimpin negara Teluk dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), muncul kesan kolektif bahwa potensi keberhasilan BoP saat ini terus merosot.

“Beliau (Presiden) mengatakan kita akan menilai sejauh mana BoP akan tetap menjalankan misinya. Kalau tidak, ya kita keluar. Itu sangat jelas, beliau tidak menutupi,” kata Hassan.

Hingga saat ini, pemerintah masih terus memantau dinamika di Timur Tengah sebelum mengambil keputusan final terkait status keanggotaan dan pengerahan pasukan penjaga perdamaian Indonesia ke kancah internasional.(jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru