PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Anggota Komisi XIII DPR RI, Bias Layar, melakukan kunjungan kerja ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palangka Raya, Senin (1/6).
Kunjungan ini menyoroti evaluasi fasilitas, program kemandirian, hingga pengecekan langsung ke sel isolasi yang menjadi lokasi tewasnya seorang warga binaan, Minggu (31/5/2026) lalu.
Dalam inspeksi mendadak tersebut, Bias Layar yang didampingi oleh Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jendral Pemasyarakatan Kalimantan Tengah (Ditjenpas Kalteng), I Putu Murdiana, memberikan perhatian khusus pada insiden maut di sel isolasi.
“Saat mengecek sel isolasi, saya hanya memantau dari luar agar tidak merusak potensi olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) lebih lanjut, ” ujar bias layar dalam keterangannya usai kunjung kerjanya itu, Selasa (2/6/2026).
Ia juga meninjau area tersebut untuk memastikan keamanan dan kesesuaian prosedur yang dijalankan oleh pihak lapas.
“Saya pastikan tidak ada kondisi fisik ruangan yang membahayakan. Pihak lapas juga telah menjalankan tugasnya sesuai Prosedur dan Standar Operasional (SOP) yang berlaku,”katanya.
Sebelumnya insiden ini telah merebak di berbagai pemberitaan media usai tewasnya seorang narapidana bernama Anton Kurniawan Stiyanto, mantan anggota Polisi yang terkena kasus pembunuhan dan divonis penjara seumur hidup. Anton dilaporkan meninggal dunia di ruang isolasi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palangka Raya, Minggu dini hari (31/5/2026).
Selain menelusuri insiden tersebut, politikus Senayan ini juga mengevaluasi pemenuhan hak-hak dasar warga binaan. Peninjauan menyasar sejumlah titik vital, mulai dari klinik pratama, Lapalka Cafe, hingga dapur lapas.
Mengakhiri kunjungannya, Bias memberikan peringatan keras terhadap segala bentuk pelanggaran. Termasuk perkelahian, penyalahgunaan narkoba, hingga kepemilikan ponsel ilegal (HP).
“Berpikirlah seribu kali sebelum bertindak. Ingat, saya tidak bisa mengintervensi proses hukum kalian; semua bergantung pada kelakuan kalian sendiri. Jangan ada kekerasan, jadikan masa ini untuk memperbaiki diri sebagai bekal kembali ke masyarakat,”ujarnya saat bertatap muka dengan para warga binaan di sana.
Mengacu pada kejadian sebelumnya sebelum tewas, akibat percobaan kabur, Anton Kurniawan dikurung di dalam sel isolasi dengan pengamanan maksimal. Namun semenjak mendekam di ruang isolasi tersebut, Anton dikabarkan menolak menyantap makanan pada kurun waktu dua sampai tiga hari belakangan.
“Menurut pihak lapas, beliau memang tidak mau makan selama dimasukkan ke ruang maximum security, meski tetap minum,” ungkap Bias Layar lagi.
Ketika disinggung soal tersebarnya foto yang menampilkan potret wajah Anton dengan indikasi memar serta luka pada bibir. Bias menuturkan bahwa dirinya belum mengecek langsung gambar itu dan lebih memilih untuk menanti pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit.
“Saya berpatokan pada keterangan dari Rumah Sakit Bhayangkara. Tidak ada luka fisik yang mematikan,” tekannya.
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalteng ini pun menjelaskan, bahwa laporan autopsi serta visum awal tidak menunjukkan adanya bukti tindak kekerasan yang memicu hilangnya nyawa korban.
Sementara jejak luka yang tampak di bagian kaki dan tangan diklaim muncul akibat pemakaian borgol yang sudah sejalan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengamanan sel isolasi.
Hingga saat ini belum tahu pasti penyebab kematian narapidana tersebut karena masih dalam penanganan penyelidik dan proses otopsi. (her)


