27.5 C
Jakarta
Monday, March 2, 2026

Bukan Alutsista, Netizen Indonesia Ramai Bahas Prediksi Nasib Israel dalam Al-Quran

PROKALTENG.CO-Isu konflik Iran dan Israel kembali memanas dan memantik beragam respons di media sosial. Di tengah eskalasi geopolitik itu, beredar narasi yang mengaitkan ketegangan dua negara tersebut dengan sabda Nabi Muhammad SAW tentang tanda-tanda akhir zaman.

Sejumlah unggahan di media sosial menyebut Nabi telah berbicara tentang wilayah Persia, Isfahan, dan Khurasan sejak 1.400 tahun lalu. Narasi itu mengutip beberapa hadis yang menyebutkan kemunculan Dajjal dari arah timur serta riwayat tentang 70.000 orang Yahudi dari Isfahan yang akan mengikuti Dajjal. Riwayat tersebut tercantum dalam Shahih Muslim nomor 2944.

Isfahan sendiri merupakan kota bersejarah di Iran yang kini dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan dan industri. Dalam konteks modern, kota itu juga kerap disebut sebagai bagian dari kawasan strategis Iran. Sementara Khurasan dalam literatur klasik Islam bukanlah nama negara, melainkan wilayah luas yang meliputi Iran bagian timur, Afghanistan, hingga sebagian Asia Tengah.

Beberapa hadis lain juga menyebutkan kemunculan “panji-panji hitam dari Khurasan” yang dikaitkan dengan kemunculan Al-Mahdi atau yang biasa disebut Imam Mahdi. Riwayat tersebut terdapat dalam sejumlah kitab hadis, meski kualitas dan penafsirannya menjadi pembahasan panjang di kalangan ulama. Dalam sejumlah ceramah dan konten digital, narasi tersebut kemudian dihubungkan dengan situasi Iran hari ini.

Baca Juga :  Pangkalan Militer Diserang, Iran Ancam Membalas Pakai Nuklir

Dalam sebuah kajian yang tayang di kanal YouTube Santri Ngaji Online, Ustaz Adi Hidayat membahas konflik tersebut dari sudut pandang Al-Qur’an dan sejarah panjang Bani Israil. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an telah menggambarkan karakter dan pola perilaku generasi tertentu yang berulang dalam sejarah.

Ustaz Adi Hidayat mengutip Surah Al-Isra ayat 4–7 yang menyebutkan bahwa Bani Israil akan membuat kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali dalam skala besar. Menurutnya, para ulama tafsir klasik hingga kontemporer telah membahas dua fase tersebut sebagai kerusakan global, bukan sekadar lokal.

Ia menjelaskan bahwa kerusakan pertama ditandai dengan penyimpangan internal yang berujung pada pembunuhan para nabi, termasuk Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Bahkan, Nabi Isa pun disebut dikejar untuk dibunuh.

Electronic money exchangers listing

“Kerusakan itu tidak mungkin terjadi kecuali dimulai dari rusaknya diri sendiri, lalu merusak keluar,” ujarnya dalam kajian tersebut.

UAH menyampaikan bahwa sejarah mencatat beberapa fase kehancuran besar yang menimpa Bani Israil, mulai dari era Jalut, serangan Nebukadnezar dari Babilonia, hingga kekuasaan Romawi. Menurutnya, tiap fase menunjukkan pola serupa: konflik, pengusiran dan kehancuran akibat sikap yang dinilai melampaui batas.

Baca Juga :  Iran Umumkan Masa Berkabung 40 Hari dan Balasan Militer Pasca Wafatnya Ali Khamenei

Ia juga menyinggung munculnya Zionisme modern dengan gagasan membangun kembali Haikal Sulaiman di Bukit Zion, termasuk deklarasi berdirinya Israel pada 1948 yang difasilitasi Inggris serta kuatnya lobi internasional di bidang ekonomi dan politik.

UAH mengaitkan hal itu dengan ayat Al-Qur’an tentang tiga penopang kekuatan: ekonomi (bi amwal), jaringan keturunan dan relasi global (wa banin), serta dukungan luas (aksara nafira), yang menurutnya relevan dengan kondisi geopolitik saat ini.

Meski begitu, ia mengingatkan umat Islam agar merespons dengan kedewasaan spiritual, bukan emosi. Ia mencontohkan kepemimpinan Umar bin Khattab dan Salahuddin al-Ayyubi yang menjamin keamanan semua komunitas di Yerusalem.

Di tengah dinamika global yang kian kompleks, publik dituntut untuk memilah antara teks keagamaan, tafsir ulama, dan realitas politik modern. Ruang dialog yang rasional dan damai menjadi kunci agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi polarisasi yang merugikan semua pihak. (jpg)

 

PROKALTENG.CO-Isu konflik Iran dan Israel kembali memanas dan memantik beragam respons di media sosial. Di tengah eskalasi geopolitik itu, beredar narasi yang mengaitkan ketegangan dua negara tersebut dengan sabda Nabi Muhammad SAW tentang tanda-tanda akhir zaman.

Sejumlah unggahan di media sosial menyebut Nabi telah berbicara tentang wilayah Persia, Isfahan, dan Khurasan sejak 1.400 tahun lalu. Narasi itu mengutip beberapa hadis yang menyebutkan kemunculan Dajjal dari arah timur serta riwayat tentang 70.000 orang Yahudi dari Isfahan yang akan mengikuti Dajjal. Riwayat tersebut tercantum dalam Shahih Muslim nomor 2944.

Isfahan sendiri merupakan kota bersejarah di Iran yang kini dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan dan industri. Dalam konteks modern, kota itu juga kerap disebut sebagai bagian dari kawasan strategis Iran. Sementara Khurasan dalam literatur klasik Islam bukanlah nama negara, melainkan wilayah luas yang meliputi Iran bagian timur, Afghanistan, hingga sebagian Asia Tengah.

Electronic money exchangers listing

Beberapa hadis lain juga menyebutkan kemunculan “panji-panji hitam dari Khurasan” yang dikaitkan dengan kemunculan Al-Mahdi atau yang biasa disebut Imam Mahdi. Riwayat tersebut terdapat dalam sejumlah kitab hadis, meski kualitas dan penafsirannya menjadi pembahasan panjang di kalangan ulama. Dalam sejumlah ceramah dan konten digital, narasi tersebut kemudian dihubungkan dengan situasi Iran hari ini.

Baca Juga :  Pangkalan Militer Diserang, Iran Ancam Membalas Pakai Nuklir

Dalam sebuah kajian yang tayang di kanal YouTube Santri Ngaji Online, Ustaz Adi Hidayat membahas konflik tersebut dari sudut pandang Al-Qur’an dan sejarah panjang Bani Israil. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an telah menggambarkan karakter dan pola perilaku generasi tertentu yang berulang dalam sejarah.

Ustaz Adi Hidayat mengutip Surah Al-Isra ayat 4–7 yang menyebutkan bahwa Bani Israil akan membuat kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali dalam skala besar. Menurutnya, para ulama tafsir klasik hingga kontemporer telah membahas dua fase tersebut sebagai kerusakan global, bukan sekadar lokal.

Ia menjelaskan bahwa kerusakan pertama ditandai dengan penyimpangan internal yang berujung pada pembunuhan para nabi, termasuk Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Bahkan, Nabi Isa pun disebut dikejar untuk dibunuh.

“Kerusakan itu tidak mungkin terjadi kecuali dimulai dari rusaknya diri sendiri, lalu merusak keluar,” ujarnya dalam kajian tersebut.

UAH menyampaikan bahwa sejarah mencatat beberapa fase kehancuran besar yang menimpa Bani Israil, mulai dari era Jalut, serangan Nebukadnezar dari Babilonia, hingga kekuasaan Romawi. Menurutnya, tiap fase menunjukkan pola serupa: konflik, pengusiran dan kehancuran akibat sikap yang dinilai melampaui batas.

Baca Juga :  Iran Umumkan Masa Berkabung 40 Hari dan Balasan Militer Pasca Wafatnya Ali Khamenei

Ia juga menyinggung munculnya Zionisme modern dengan gagasan membangun kembali Haikal Sulaiman di Bukit Zion, termasuk deklarasi berdirinya Israel pada 1948 yang difasilitasi Inggris serta kuatnya lobi internasional di bidang ekonomi dan politik.

UAH mengaitkan hal itu dengan ayat Al-Qur’an tentang tiga penopang kekuatan: ekonomi (bi amwal), jaringan keturunan dan relasi global (wa banin), serta dukungan luas (aksara nafira), yang menurutnya relevan dengan kondisi geopolitik saat ini.

Meski begitu, ia mengingatkan umat Islam agar merespons dengan kedewasaan spiritual, bukan emosi. Ia mencontohkan kepemimpinan Umar bin Khattab dan Salahuddin al-Ayyubi yang menjamin keamanan semua komunitas di Yerusalem.

Di tengah dinamika global yang kian kompleks, publik dituntut untuk memilah antara teks keagamaan, tafsir ulama, dan realitas politik modern. Ruang dialog yang rasional dan damai menjadi kunci agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi polarisasi yang merugikan semua pihak. (jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru