Di era serba canggih ini, tampaknya tidak ada orang yang tidak menggunakan media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter atau Tiktok.Namun, masyarakat umum lebih banyak memanfaatkan Instagram mereka untuk berbagi.
Di era digital saat ini, kebiasaan scrolling di media sosial seakan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini bisa berdampak buruk, terutama bagi kesehatan mental.
Media sosial, termasuk WhatsApp merupakan sebuah ruang untuk penggunanya bisa saling berinteraksi dan berbagi informasi.Di samping dari orang-orang yang lebih suka menyimak, ada beberapa orang yang sangat menyukai berbagi pendapat tentang hampir dari segala hal.
Membangun personal branding di media sosial bukanlah hal yang mustahil bagi seorang introvert.Dengan pendekatan yang strategis, seseorang yang cenderung introvert ataupun pemalu yang lebih suka bekerja di balik layar tetap bisa menciptakan kehadiran digital yang kuat dan profesional.
Apakah Anda termasuk orang yang jarang atau bahkan tidak pernah memposting di media sosial? Meskipun di era digital ini hal tersebut terkesan aneh, ternyata ada sejumlah alasan dan perilaku unik di balik keputusan ini.
Apakah Anda pernah melihat orang yang bahagia dan bangga di media sosial ternyata di dunia nyata mereka adalah orang paling kesepian? Ini bisa terjadi oleh siapapun dan dengan perilaku yang berbeda-beda pula
Saat Anda bekerja atau dalam mode tidak sibuk, pasti Anda akan meraih ponsel lalu menggulir reels di media sosial Anda, baik itu Facebook maupun Instagram. Terkadang Anda berpikir untuk membatasi waktu bermedia sosial, namun akhirnya saat melirik jam, satu jam telah berlalu, dan Anda masih daja menggulir reels di media sosial Anda.
Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Arif M Norkim. Mengajak masyarakat untuk menggunakan media sosial secara lebih produktif. Sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan. Ia menilai, dalam era digital yang terus berkembang, media sosial memiliki potensi besar untuk menjadi sarana pengembangan ekonomi warga.
Beberapa nampaknya terobsesi dengan penampilan, entah itu penampilan mereka, status di media sosial, atau bagaimana orang lain menilai mereka. Meskipun wajar untuk peduli terhadap hal-hal tersebut sampai batas tertentu, namun bagi sebagian orang hal itu menjadi fokus utama mereka.