Di tengah kabar pencabutan subsidi gas LPG yang membuat resah banyak warga, situasi di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah justru berbeda.  Meskipun isu tersebut berhembus kencang di media sosial, beberapa pangkalan LPG di daerah ini tetap memastikan stoknya terbilang aman.Â
Penjabat (PJ) Bupati Lamandau, Said Salim, memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak perlu khawatir  atau risau terkait isu kelangkaan gas LPG 3 Kg di wilayah Kabupaten Lamandau. Ia memastikan bahwa stok LPG di Lamandau saat ini, dinilai aman dan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.
Penjabat (Pj) Bupati Lamandau, Said Salim didampingi Kepala Opd terkait dan unsur Forkopimda, melakukan pemantauan ketersediaan gas LPG 3 kg di wilayah Kabupaten Lamandau, Kamis (6/2/2025). Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan pasokan gas bersubsidi tersebut tetap aman dan terjangkau bagi masyarakat.
BAGI para pemilik mobil, memberikan aksesori untuk menambah kesan personal pada mobil mereka memang tidak salah. Hanya saja perlu diperhatikan, aksesori tersebut harus aman bagi kendaraan, pengemudi dan penumpang.
Empat hari terakhir, warga Nanga Bulik mengalami kelangkaan LPG 3 kg. Kondisi ini yang menyebabkan kesulitan bagi kalangan rumah tangga dan usaha kecil, seperti warung makan. Kondisi tersebut, mulai dirasakan pada Rabu 10 Juli 2024 dan hingga hari ini, Senin (15/7/2024) pasokan LPG 3 kg belum juga normal.
Pemerintah Kota (Pemko) Palangkaraya melalui Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DPKUKMP) Kota Palangkaraya mengatakan, terkait kuota gas LPG 3 kilogram (kg) bersubsidi pemerintah daerah menetapkan harga tabung gas elpiji 3 kg dijual paling tinggi atau sesuai aturan Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni sebesar Rp 22.000 per tabung.
Pemerintah Kota (Pemko) Palangkaraya melalui Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan Perindustrian (DPKUKMP) menggelar operasi pasar elpiji 3 kg, Senin (12/6/2023). Kegiatan tersebut, tak lain dalam rangka memperingati Liquefied Petrolium Gas Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) tahun 2023.
Gas tiga kilogram bersubsidi ternyata masih dijual dengan harga melebihi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemerintah Kota Palangka Raya sebesar Rp22.000 per tabung. Parahnya, gas berwarna hijau melon itu, justru dijual dari harga Rp30.000, Rp35.000, sampai Rp40.000.