Kita harus malu atau sebatas hanya bisa iri? Ataukah kita cukup mengaguminya saja?
Ini soal Pemilu. Dalam kaitannya dengan ekonomi. Pemilu sudah lama berlalu tapi ekonomi belum menentu. Pelaku ekonomi masih terus dalam status wait and see.
WAKTU itu saya kurang yakin apakah Ari bisa bertahan lama: Saya sudah meninjau proyeknya. Jauh di pelosok desa Wajak. Luar kota Malang. Sudah lebih dua tahun berlalu sejak kunjungan itu.
AHLI KANKER ini tidak menyangka ikut diundang Rektor Universitas Airlangga Prof Dr Mohammad Nasih SE MT Ak. Undangannya mendadak. Dalam setengah jam sudah harus sampai rektorat. Acara makan siang Jumat lalu itu ia tinggalkan. Meski tanpa penjelasan mengapa diundang, ia memastikan: pasti soal pemecatan dekan fakultas kedokteran.
SAYA mati kutu. Sumber berita saya kali ini pandai mengelak.
Waktu saya tanya soal keputusannya memberhentikan dekan fakultas kedokteran, Rektor Unair Prof Dr Muhammad Nasih justru balik bertanya: "sebaiknya bagaimana? Mohon saran dan nasihatnya, Pak Dahlan".
MESKI Kediri sudah punya bandara besar, saya dari Kediri harus balik dulu ke Surabaya untuk ke Jakarta. Rabu kemarin dulu. KPK memanggil saya Rabu itu pukul 14.00.
Di antara bandara baru inilah yang paling hebat: Bandara Dhoho, Kediri.
Saya ke bandara itu kemarin. Tidak untuk terbang. Hanya ingin melihatnya --untuk pembaca Disway.
SUATU saat saya bertemu anak muda. Asalnya kota kecil. Nilai di sekolahnya biasa-biasa saja. Ia pun hanya tamat SMA. Tidak kuliah. Tapi ia punya kemampuan –yang bagi orang lama seperti saya– menakjubkan.
Sekelas Amerika pun sulit cari calon presiden yang muda. "Anda nanti akan berumur 86 tahun di akhir masa jabatan kalau terpilih kembali sebagai presiden," ujar moderator debat.
Ada orang selain Tanri Abeng yang "terpaksa" kuliah S-3 agar bisa memimpin universitas: KH Asep Syaifuddin Halim. Secara keilmuan Tanri Abeng sudah di atas rerata doktor. Pun Kiai Asep. Tapi aturan pemerintah mewajibkan pimpinan perguruan tinggi harus bergelar doktor: doktor beneran, bukan doktor sekadar hadiah seperti honoris causa.
Saya selalu kagum dengan kesehatan Pak Tanri Abeng. Di usia 82 tahun masih terlihat gesit. Kami ngobrol asyik di Semarang. Mungkin empat bulan lalu. Atau lima.
Ini di kehidupan nyata: ada dokter bertekad tidak mau kawin. Ia ingin fokus merawat ibunya. Ia khawatir: kalau kawin tidak bisa fokus merawat sang ibu. Apalagi kalau istrinya ternyata tidak sayang mertua.
Suami Janet kaget: saya minum bir. Baru sekali itu terlihat di matanya. Saya beralasan: itu untuk menyambut kedatangannya di Amerika. Di rumah John Mohn. Di Lawrence, Kansas.
Tambang batu bara haram? Kalau begitu mengapa NU bersemangat sekali untuk bisa dapat hibah tambang dari pemerintah? Bahkan sudah lebih konkrit: alokasi wilayah tambangnya sudah ditentukan (lihat Disway edisi: Tambang Bumi).
Kevin harus "zoom". Pukul 17.00 waktu California. Berarti pukul 07.00 di Semarang. Sekolahnya, Kolese Loyola, minta Kevin Herjono memberikan motivasi untuk siswa di sana.
Sejak saya masih di Kansas, drg Irawan sudah wanti-wanti agar saya mampir Los Angeles. Lalu kembali bermalam di rumahnya. Bahkan sudah bertanya makanan halal apa saja yang saya inginkan.
Begitu sampai Los Angeles rasanya sudah pulang sampai Asia. Apalagi saya bermalam di kawasan San Gabriel --melewati begitu banyak papan nama dalam huruf Mandarin.
BEGITU meninggalkan perbatasan Arizona berarti memasuki wilayah California. Lega. Rasanya kami sudah tiba di Amerika. Apalagi setelah masuk kota San Diego: ini baru Amerika.
Setengah jam setelah meninggalkan San Antonio jalan mulai sepi. Arah sudah pindah ke barat. Sisi gembiranya: sinar matahari dari arah belakang. Mengemudi pun tidak silau. Matahari Amerika rasanya lebih rendah di musim panas seperti ini. Atau karena langitnya lebih bersih.
Berita puting beliung meluas. Saya tidak takut.
Di perjalanan berikutnya ini, dari Kansas ke Dallas, tidak naik pesawat. Saya pilih jalan darat. Sewa mobil. Setir sendiri. Sudah ada teman di jalan: Janet dan suaminyi. Mereka, baru datang dari Beijing, menyusul saya ke Kansas.
John kelihatan sedih. HP di tangannya. Itu hari ketiga saya tinggal di rumahnya. Tidak lagi di rumah lamanya di Hays. Ia sudah pindah. Masih di Kansas tapi sudah jauh lebih ke timur: Lawrence.
"Kami juga berangkat pukul 04.00," wanita yang antre di depan saya.
Lebih setengah baya. Langsing. Masih cantik. Rambut agak pirang. Bergelombang. Energetik. Tinggalnyi lebih dekat Manhattan meski di negara bagian lain: New Jersey. Yakni New Jersey yang menghadap ke Manhattan yang hanya dipisahkan laut sempit.
Kalau harus antre mulai jam 05.00 berarti harus bangun pukul 03.00. Itu Erick bin Lia. Atau bin James F Sundah. Rumahnya jauh dari rumah orang tuanya. Kalau siang bisa satu jam.
Makam St James memang di Santiago. Tapi Spanyol tidak mengenal James. Nama 'James' berubah menjadi Santiago di Spanyol. Seperti Petrus menjadi Pedro. Paul menjadi Pablo. John menjadi Juan. Matthew menjadi Mateo. Hanya Judas Iscariot yang perubahannya cukup ditambah huruf 'e' di belakangnya: menjadi Escariote.
Meski bukan Katolik saya ingin ikut Camino. Oktober nanti. Insyaallah. Lia Suntoso siap jadi pemandu. Pun suaminyi, James F Sundah. Juga anak mereka, Erick, yang bulan depan buka usaha di Austin, Texas.
Menjelang mendarat di New York saya bertekad: saatnya hanya akan makan sedikit dan 'bersih' selama di Amerika. Sekalian menghemat. Tidak ada lagi kewajiban makan tiga kali sehari --melahap masakan istri yang memang enak dan selalu nambah.
Saya termasuk yang tidak pilih-pilih penerbangan. Apa saja. Yang penting tujuan tercapai. Untuk Jakarta-Surabaya banyak pilihan. Dari 10 kali terbang, sekitar 6 kali Pelita, 2 kali Citilink, 1 kali Garuda, 1 kali Superjet atau Batik Air.
JANGAN ada yang menghambat sistem baru ini. Perkiraan saya begitulah pesan Presiden Jokowi tanggal 6 besok. Yakni saat perubahan sistem pendidikan dokter spesialis dimulai Senin pagi: menjadi hospital base sebagai pengganti university base.
MEDSOS di Tiongkok viralkan kejadian ini: satu ruas jalan tol longsor. Jumlah yang meninggal bertambah terus: terakhir, 51 orang tewas. Lebih 30 orang terluka.
Kasus korupsi di PT Timah mulai naik ke level lebih tinggi.
Anda sudah tahu: pemilik Sriwijaya Air Hendry Lie menjadi tersangka ke-28. Sebelum itu, adik HL, Fandy Lingga, sudah lebih dulu berstatus tersangka.
Orang kuat ada di mana-mana. Pun di usia yang sudah tua. Lihatlah Vietnam yang Anda banggakan itu. Orang kuat di sana sudah berumur 80 tahun: Nguyễn Phú Trọng. Jabatan resminya: sekjen Partai Komunis Vietnam.
PESAN saya pada istri Harry Bayu hanya satu: Anda harus bisa kejam. Termasuk pada diri sendiri. Juga pada keluarga.
Harry Bayu sukses menjalani transplantasi hati di RSCM Jakarta Jumat lalu (baca Disway 23 April 2024: Politik Hati).
SEBELUM masuk ruang operasi, Harry Bayu kirim WA ke saya: "Assalamu’alaikum... Pak, saya Harry Bayu.... Insya Allah pagi ini Jumat saya mau operasi transplantasi hati di RSCM.
IA NGANTUK. Matanya terpejam. Sesaat kemudian kepalanya tertekuk ke dada. Lalu terbangun. Untuk mengantuk lagi. Terpejam lagi. Kepalanya tertekuk lagi.
JADI, kenapa pilih tanggal 15 Mei? Bulan depan? Itu yang juga jadi pertanyaan warga Singapura: mengapa Perdana Menteri Lee Hsien Loong pilih meletakkan jabatan di tanggal itu.
Akankah perang besar terjadi lagi. Jangan. Rupiah lagi nyaris Rp 16.000/dolar. Harga batu bara lagi gila-gilaan lagi. Bawang merah tembus Rp 60.000/kg di pasar istri.
Selama 10 hari di Tiongkok akhir Ramadan lalu saya akhirnya tahu: Tiongkok punya fokus baru.
Itulah kiat Tiongkok dalam upaya mengatasi kelesuan ekonomi sejak Covid-19 lalu.
Mestinya tulisan saya hari ini tentang kesatuan Zeni TNI-AD. Bukan hanya Amerika yang punya corps of engineering. Yang kini mereka lagi bersih-bersih reruntuhan jembatan besar yang ambruk di Baltimore.
nda sudah tahu: pembersihan jembatan runtuh di Baltimore itu dilakukan sepenuhnya oleh tentara. Yakni oleh US Army Corps of Engineers. Satuan teknik tentara Amerika itu sampai mengirim 1100 personel ke Baltimore.
TERBACA JELAS dua tulisan pembatas luar Kafe Kaifa di Madinah ini. Salah satunya: Madinah to the World.
Madinah memang baru dinobatkan sebagai salah satu kota tersehat di dunia. Yang menobatkannya: organisasi kesehatan PBB, WHO.
"Kafe Kaifa di ujung jalan ini," ujar Mas Bajuri, pemilik travel umrah Bakkah. "Sekarang jadi tempat nongkrong favorit setelah salat Subuh," tambahnya.
KENAPA Boyamin Saiman sering mengajukan praperadilan –menggugat jaksa atau polisi?
Lewat praperadilan, kata Boyamin, data-data tersembunyi bisa dibuka di pengadilan. "Tanpa khawatir digugat balik oleh yang merasa dirugikan," kata Boyamin.
INDONESIA hebat: pernah ingin berdaulat di bidang timah. Tahun 2013.
Sebelum itu, yang menguasai perdagangan timah di Asia Tenggara adalah –duille– Singapura.
KABAR baik untuk Anda: Bali masih jauh lebih menarik. Bali masih aman. Sebelum ke Hainan saya memang sempat was-was: jangan-jangan Hainan sudah jadi ancaman serius bagi Bali.
SAYA begitu ingin ke Afrika lagi. Terutama ke negara-negara yang menerima investasi Tiongkok besar-besaran. Kontroversinya besar sekali. Di media: berkah atau jeratan.
PUN di bulan puasa: kerja keras. Tiga hari, tiga kota, tiga komitmen investasi.
Maka begitu dilantik jadi presiden baru, Prabowo Subianto langsung bisa lari. Mestinya. November depan. Penantian yang masih lama. Tidak bisa seperti di Inggris: hari ini diputuskan terpilih, besoknya dilantik.
WANITA terkaya Vietnam ini sedang diadili: Truong My Lan. Dia dituduh korupsi sebesar –tarik napas– USD 12,3 miliar. Setara dengan lebih Rp 170 triliun.
RYU HASAN pernah melakukan penelitian IQ di Kediri. Hasilnya: IQ mereka rata-rata 109. Kediri dan sekitarnya.Harusnya kian tahun rata-rata IQ itu naik. Ini justru turun. Rata-rata IQ kita kini hanya 78,4.
SUDAH lama saya tidak bertemu dokter-pemikir Ryu Hasan. Terakhir di Balikpapan. Dalam acara seminar di Institut Teknologi Kalimantan. Atau di Yogyakarta. Saat sama-sama nonton Habib Suci-nya Butet Kartaredjasa –ups...Tabib Suci.
'Pengalaman membentuk ekspektasi''. Untuk kembali ke Makkah saya siap mental dapat kursi pojok paling belakang tanpa jendela. Toh saya masih membawa jendela 7-i ke mana-mana.
SAYA minta diantar ke mal teramai di Riyadh: ingin tahu seberapa berubah penampilan wanita Arab di depan umum. Di zaman pemerintahan putra mahkota Mohamad bin Salman yang banyak bikin perubahan itu. Lalu ke mal yang paling elite di Kingdom Tower.
PAGI-PAGI saya olahraga lagi. Satu jam lagi. Di bagian depan kamar. Saya bawa speaker kecil –sekecil korek api yang saya beli di Beijing tempo hari. Saya punya stok lagu di memori HP. Satu jam, 22 lagu.
TERNYATA dari sini: segala macam buah, sayur, dan kurma Saudi Arabia. Dari Buraydah. Dulu saya suka heran membaca berita: Arab produksi sayur-mayur. Rupanya di sini: di provinsi Qassim ini –Buraydah ibu kotanya.
"Tolong minta tempat duduk di tengah".
Itulah pilihan saya kalau naik bus. Bukan di depan, yang posisi tempat duduknya di depan roda atau di atas roda.
LIHATLAH foto itu: satu penumpang menghadap ke depan. Dua lainnya menghadap ke belakang. Di pesawat berbadan lebar jurusan Abu Dhabi–Jeddah dua hari lalu.
''Pilih yang mana?''
Saya diminta masuk ke dalam counter check in: agar bisa melihat layar komputer di meja petugas. Ada denah susunan kursi di layar itu. Banyak kursi sudah terisi.
COPET-copetan belum selesai. Bahkan ada pencopet yang kemudian dirampok. Tapi semuanya akan selesai dengan damai. Tanggal 20 Maret depan hasil Pemilu harus diumumkan.
DUA capres didukung oleh pemilik media yang begitu besar. Dua-duanya gagal masuk putaran dua. Satu capres lagi tidak didukung pemilik media: perolehan suaranya mengejutkan, 60 persen.
Baru sadar: sudah 15 tahun terakhir saya pun harus memuji nasi di semua resto di Tiongkok. Punel. Wangi. Yang seperti itu dulu hanya saya temui di Jepang. Lalu di Korea. Kini Tiongkok ikut selera nasi Jepang.
INILAH contoh nyata: kesulitan tidak hanya dikeluhkan tapi harus diterobos. Sang penerobos datang dari Desa Sine –Anda pasti tahu di mana Sine: di pelosok Walikukun, lereng utara Gunung Lawu, nun di pedalaman Ngawi.
DUA ratus jenderal itu banyak sekali. Berbobot sekali. Apalagi banyak yang bintang empat. Sudah dua hari mereka sepakat: Presiden Jokowi harus mengundurkan diri. Kalau tidak, harus dilengserkan.
PEMILU sudah selesai. Itulah perasaan mayoritas rakyat. Mereka begitu percaya pada quick count. Apalagi semua lembaga penghitung cepat senada. Hanya angka-angkanya beda dikit.