26.5 C
Jakarta
Sunday, July 14, 2024
spot_img

Hati-hati, Hipertensi Bisa Picu Penyakit Ginjal Kronis

RISET kesehatan dasar tahun 2018 menunjukkan adanya peningkatan
prevalensi penyakit tidak menular jika dibandingkan dengan tahun 2013. Hal itu
diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam dr Abdul Hakim SpPD yang praktik di
RS SMC Kabupaten Tasikmalaya.

Jenis penyakit tidak menular
tersebut antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes mellitus
dan hipertensi. Untuk penyakit ginjal kronis sendiri atau PGK di Indonesia
penderitanya meningkat sebesar 3,8 persen, atau naik sebesar 1,8 persen bila
dibandingkan dengan tahun 2013.

Dokter Abdul Hakim SpPD
menjelaskan, Data Indonesia Renal Registry (IRR) menunjukkan adanya peningkatan
sebesar 25 ribu orang penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah atau
hemodialisis, yaitu dari sekitar 52 ribu orang pada tahun 2016 menjadi sebesar
77 ribu hingga tahun 2017. “Hal ini belum termasuk pasien ginjal yang belum
mendapatkan akses pengobatan,” katanya.

Terdapat beberapa faktor yang
menyebabkan seseorang menderita penyakit ginjal kronis atau PGK, diantaranya
diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, kebiasaan
merokok, kegemukan (obesitas), riwayat keluarga dengan penyakit ginjal,
kelainan struktuk ginjal serta usia lanjut.

Baca Juga :  Ingat! Hindari 7 Kesalahan Pakai Masker Ini

“Khusus untuk hipertensi,
terdapat beberapa fakta menarik bila dihubungkan dengan penyakit ginjal kronis
yakni hipertensi merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis,” ujarnya
kepada Radar, Pena (Jawa Pos Grup/Kaltengpos.co Grup) beberapa waktu lalu.

Kata dia, hipertensi yang
berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dalam tubuh, yang
lebih lanjut akan mengurangi suplai darah ke organ-organ penting tubuh, salah
satunya adalah ginjal.

Hipertensi akan menyebabkan
kerusakan pada unit penyaringan terkecil dalam ginjal yang akan berdampak pada
gangguan pembuangan limbah metabolisme dalam tubuh dan pengeluaran kelebihan
cairan dalam tubuh.

Melihat fakta-fakta di atas, kata
dia, pencegahan serta penanganan hipertensi menjadi hal yang penting untuk
dapat mengurangi risiko komplikasi terhadap penyakit ginjal kronis.

Terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi tekanan darah, dibedakan menjadi faktor yang tidak dapat dirubah
(non-modifiable factors), seperti usia, jenis kelamin, genetik dan ras.

Namun terdapat beberapa faktor
yang dapat dirubah (modifiable factors) yang meliputi kelebihan berat badan
(overweight), diet tinggi garam, diet rendah kalium, konsumsi alkohol dan
kurangnya aktivitas fisik.

“Hipertensi biasanya muncul pada
usia antara 35 sampai dengan 50 pada pria, sedangkan pada wanita mulai muncul
setelah menopouse,” kata dia.

Baca Juga :  Mengapa Kadar BPA pada Manusia Sering Dianggap Tidak Penting?

Dia menjelaskan, individu yang
sebelumnya tidak mempunyai hipertensi (tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg),
sebaiknya memeriksakan tekanan darah minimal setiap 2 tahun sekali.

Individu dengan prehipertensi
tekanan darah antara 120-139 / 80-89 mmHg sebaiknya memeriksakan tekanan darah
minimal 1 tahun sekali sedangkan individu dengan tekanan darah lebih dari atau
sama dengan 140/90 mmHg disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk
memulai program pengobatan.

“Penderita hipertensi yang telah
menjalani pengobatan disarankan untuk berobat secara rutin ke dokter dengan
target tekanan darah yang disesuaikan dengan usia serta penyakit-penyakit lain
yang ada pada pasien,” ucapnya.

Menurutnya, terdapat pemahaman
yang salah di masyarakat mengenai pengobatan hipertensi, dimana masyarakat
mempunyai ketakutan jika mengkonsumsi obat antihipertensi dalam jangka waktu
panjang akan menyebabkan penyakit ginjal kronis.

“Hal ini tidaklah benar, faktanya
adalah bila seorang penderita hipertensi tidak berobat rutin dan tekanan
darahnya tidak terkontrol dengan baik, maka hal ini akan memperbesar risiko
komplikasi berupa penyakit ginjal kronis,” ujarnya. (JPG/KPC)

RISET kesehatan dasar tahun 2018 menunjukkan adanya peningkatan
prevalensi penyakit tidak menular jika dibandingkan dengan tahun 2013. Hal itu
diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam dr Abdul Hakim SpPD yang praktik di
RS SMC Kabupaten Tasikmalaya.

Jenis penyakit tidak menular
tersebut antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes mellitus
dan hipertensi. Untuk penyakit ginjal kronis sendiri atau PGK di Indonesia
penderitanya meningkat sebesar 3,8 persen, atau naik sebesar 1,8 persen bila
dibandingkan dengan tahun 2013.

Dokter Abdul Hakim SpPD
menjelaskan, Data Indonesia Renal Registry (IRR) menunjukkan adanya peningkatan
sebesar 25 ribu orang penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah atau
hemodialisis, yaitu dari sekitar 52 ribu orang pada tahun 2016 menjadi sebesar
77 ribu hingga tahun 2017. “Hal ini belum termasuk pasien ginjal yang belum
mendapatkan akses pengobatan,” katanya.

Terdapat beberapa faktor yang
menyebabkan seseorang menderita penyakit ginjal kronis atau PGK, diantaranya
diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, kebiasaan
merokok, kegemukan (obesitas), riwayat keluarga dengan penyakit ginjal,
kelainan struktuk ginjal serta usia lanjut.

Baca Juga :  Ingat! Hindari 7 Kesalahan Pakai Masker Ini

“Khusus untuk hipertensi,
terdapat beberapa fakta menarik bila dihubungkan dengan penyakit ginjal kronis
yakni hipertensi merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis,” ujarnya
kepada Radar, Pena (Jawa Pos Grup/Kaltengpos.co Grup) beberapa waktu lalu.

Kata dia, hipertensi yang
berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dalam tubuh, yang
lebih lanjut akan mengurangi suplai darah ke organ-organ penting tubuh, salah
satunya adalah ginjal.

Hipertensi akan menyebabkan
kerusakan pada unit penyaringan terkecil dalam ginjal yang akan berdampak pada
gangguan pembuangan limbah metabolisme dalam tubuh dan pengeluaran kelebihan
cairan dalam tubuh.

Melihat fakta-fakta di atas, kata
dia, pencegahan serta penanganan hipertensi menjadi hal yang penting untuk
dapat mengurangi risiko komplikasi terhadap penyakit ginjal kronis.

Terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi tekanan darah, dibedakan menjadi faktor yang tidak dapat dirubah
(non-modifiable factors), seperti usia, jenis kelamin, genetik dan ras.

Namun terdapat beberapa faktor
yang dapat dirubah (modifiable factors) yang meliputi kelebihan berat badan
(overweight), diet tinggi garam, diet rendah kalium, konsumsi alkohol dan
kurangnya aktivitas fisik.

“Hipertensi biasanya muncul pada
usia antara 35 sampai dengan 50 pada pria, sedangkan pada wanita mulai muncul
setelah menopouse,” kata dia.

Baca Juga :  Mengapa Kadar BPA pada Manusia Sering Dianggap Tidak Penting?

Dia menjelaskan, individu yang
sebelumnya tidak mempunyai hipertensi (tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg),
sebaiknya memeriksakan tekanan darah minimal setiap 2 tahun sekali.

Individu dengan prehipertensi
tekanan darah antara 120-139 / 80-89 mmHg sebaiknya memeriksakan tekanan darah
minimal 1 tahun sekali sedangkan individu dengan tekanan darah lebih dari atau
sama dengan 140/90 mmHg disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk
memulai program pengobatan.

“Penderita hipertensi yang telah
menjalani pengobatan disarankan untuk berobat secara rutin ke dokter dengan
target tekanan darah yang disesuaikan dengan usia serta penyakit-penyakit lain
yang ada pada pasien,” ucapnya.

Menurutnya, terdapat pemahaman
yang salah di masyarakat mengenai pengobatan hipertensi, dimana masyarakat
mempunyai ketakutan jika mengkonsumsi obat antihipertensi dalam jangka waktu
panjang akan menyebabkan penyakit ginjal kronis.

“Hal ini tidaklah benar, faktanya
adalah bila seorang penderita hipertensi tidak berobat rutin dan tekanan
darahnya tidak terkontrol dengan baik, maka hal ini akan memperbesar risiko
komplikasi berupa penyakit ginjal kronis,” ujarnya. (JPG/KPC)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru