NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Di saat tren mode dunia sibuk membicarakan tas punggung berbahan sintetis dengan harga selangit, warga Dayak Tomun di pelosok Kabupaten Lamandau justru tetap setia pada “teknologi” leluhur mereka.
Ladukng, sebuah keranjang anyaman rotan yang ikonik, tetap menjadi primadona bagi warga setempat untuk menembus lebatnya hutan maupun menggarap kebun.
Bagi masyarakat Dayak Tomun, Ladukng bukan sekadar alat angkut, melainkan identitas yang melekat di punggung.
Sahwandi, salah satu warga Dayak Tomun, menjelaskan bahwa penamaan ini berakar kuat pada dialek lokal.
“Ladukng itu adalah bahasa Dayak Tomun Lamandau atau Delang,” ujarnya saat berbincang santai di tengah aktivitasnya, Sabtu (31/1).
Keunikan utama Ladukng terletak pada bahan bakunya yang sepenuhnya disediakan oleh alam. Badannya terbuat dari anyaman rotan pilihan yang dikenal ulet dan tahan banting.
Menariknya, bagian pengikat atau tali yang digunakan tidak berasal dari nilon atau plastik, melainkan dari Tali Kapoa yang dipintal dari kulit kayu hutan yang sangat kuat.
“Ladukng itu terbuat dari bahan rotan dan tali terbuat dari kulit kayu,” tambah Sahwandi kepada wartawan.
Penggunaan kulit kayu sebagai tali pengikat bukan tanpa alasan material alami ini diklaim lebih bersahabat dengan kulit bahu atau dahi pemakainya, memberikan kenyamanan meski harus memikul beban berat dalam waktu lama.
Dalam kesehariannya, Ladukng adalah saksi bisu perjuangan warga.
Mulai dari mengangkut hasil panen padi gunung, buah-buahan hutan, hingga kayu bakar, semuanya masuk ke dalam keranjang ini.
Ketangguhan anyaman rotannya memastikan barang bawaan tetap aman meski harus melewati medan terjal dan cuaca yang tak menentu.
Meski zaman telah berganti dan teknologi modern mulai merambah pedesaan, eksistensi Ladukng seolah tak tergoyahkan.
Di mata warga seperti Sahwandi, menggunakan Ladukng adalah cara mereka menghargai pemberian alam sekaligus menjaga warisan nenek moyang agar tidak lekang dimakan waktu.
Ini adalah bukti bahwa desain tradisional seringkali lebih fungsional dan berkelanjutan dibanding produk pabrikan.
Pemandangan warga yang menyandang Ladukng di punggung mereka kini menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung ke wilayah Delang dan desa lainnya. (bib)


