Banyak orang mengira bahwa hubungan yang langgeng terjadi karena dua orang yang saling mencintai tidak pernah bertengkar, selalu cocok, atau memiliki chemistry yang luar biasa sejak awal.
Padahal, psikologi hubungan menunjukkan gambaran yang jauh lebih realistis.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa masalah. Justru, hubungan yang kuat adalah hubungan ketika dua orang mampu menghadapi masalah, perbedaan, kekecewaan, dan perubahan hidup tanpa kehilangan rasa aman dan penghargaan terhadap satu sama lain.
Cinta mungkin membuat dua orang memilih untuk bersama. Namun, cara mereka memperlakukan satu sama lain dari hari ke hari yang menentukan apakah hubungan itu mampu bertahan.
Jadi, jika kamu dan pasangan sedang mencari cinta yang bukan hanya terasa indah hari ini, tetapi juga cukup tangguh untuk melewati tahun-tahun yang akan datang, ada beberapa kebiasaan yang layak dibangun bersama.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis( 10/9), terdapat lima langkah yang dapat membantu.
- Belajar Memahami Pasangan, Bukan Sekadar Menang dalam Percakapan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam hubungan adalah menganggap komunikasi sebagai kemampuan untuk menyampaikan pendapat.
Padahal, komunikasi yang sehat bukan hanya tentang berbicara. Komunikasi juga tentang memahami.
Ketika pasangan mengatakan, “Aku merasa kamu akhir-akhir ini jauh,” respons yang paling mudah adalah membela diri.
“Kamu juga sibuk.”
“Aku kan banyak pekerjaan.”
“Aku sudah berusaha.”
Mungkin semua itu benar. Tetapi jika setiap keluhan langsung dibalas dengan pembelaan, percakapan akan berubah menjadi pertandingan: siapa yang paling benar dan siapa yang paling bersalah.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan berusaha memahami pengalaman emosional di balik perkataan tersebut.
Alih-alih langsung membela diri, kamu bisa bertanya:
“Apa yang membuat kamu merasa aku menjauh?”
“Apa yang sebenarnya kamu butuhkan dariku?”
“Kapan kamu mulai merasakan itu?”
Pertanyaan semacam ini mengubah arah percakapan.
Kamu tidak lagi sibuk membuktikan bahwa dirimu tidak bersalah. Kamu sedang berusaha memahami dunia emosional pasanganmu.
Ini penting karena setiap orang membawa pengalaman, kebutuhan, ketakutan, dan cara berkomunikasi yang berbeda ke dalam hubungan.
Seseorang mungkin membutuhkan lebih banyak kata-kata untuk merasa dicintai. Orang lain mungkin lebih merasakan cinta melalui tindakan. Ada yang membutuhkan waktu bersama. Ada pula yang membutuhkan ruang pribadi.
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti salah satu pihak kurang mencintai.
Sering kali, kalian hanya memiliki cara berbeda dalam mengalami dan mengekspresikan kedekatan.
Cobalah kebiasaan sederhana ini
Ketika pasangan menyampaikan keluhan, tahan keinginan untuk langsung menjawab.
Dengarkan sampai selesai.
Kemudian coba rangkum apa yang kamu pahami:
“Jadi, kamu merasa kesepian karena akhir-akhir ini kita jarang punya waktu berdua. Benar begitu?”
Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa kamu tidak sekadar mendengar suara pasangan. Kamu sedang berusaha memahami maksudnya.
Dan terkadang, merasa dipahami sudah menjadi bentuk cinta yang sangat besar.
- Jangan Menunggu Konflik Besar untuk Mulai Memperbaiki Hubungan
Banyak pasangan baru berusaha memperbaiki hubungan ketika masalah sudah membesar.
Ketika komunikasi sudah dingin.
Ketika rasa kecewa sudah menumpuk.
Ketika kepercayaan mulai rusak.
Ketika salah satu pihak mulai berpikir untuk pergi.
Padahal, hubungan lebih mirip sebuah rekening emosional.
Setiap interaksi sehari-hari dapat menjadi “setoran” atau “penarikan”.
Ucapan terima kasih, perhatian kecil, sentuhan, humor, dukungan, dan penghargaan dapat memperkuat hubungan.
Sebaliknya, penghinaan, sikap meremehkan, pengabaian, kebohongan, dan permusuhan terus-menerus dapat mengikis rasa aman.
Itulah sebabnya pasangan yang langgeng biasanya tidak hanya berfokus pada bagaimana menyelesaikan pertengkaran.
Mereka juga membangun momen positif ketika tidak sedang bertengkar.
Misalnya:
Menanyakan bagaimana hari pasangan.
Mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil.
Memberikan perhatian ketika pasangan sedang bercerita.
Menyempatkan waktu tanpa gangguan ponsel.
Memberikan pelukan tanpa alasan khusus.
Mengapresiasi usaha pasangan.
Merayakan keberhasilan kecil bersama.
Menunjukkan bahwa pasangan tetap menjadi seseorang yang penting.
Hal-hal tersebut terlihat sederhana.
Namun, justru kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali dapat membentuk suasana emosional sebuah hubungan.
Jangan hanya bertanya, “Bagaimana cara kita menyelesaikan masalah?”
Tanyakan juga:
“Apa yang bisa kita lakukan agar hubungan kita tetap terasa dekat sebelum masalah datang?”
Hubungan yang kuat tidak dibangun hanya ketika badai datang.
Ia dibangun pada hari-hari biasa.
- Belajar Bertengkar dengan Cara yang Sehat
Ya, bertengkar.
Bukan menghindari semua konflik.
Banyak orang memiliki anggapan bahwa pasangan ideal adalah pasangan yang jarang bertengkar. Padahal, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang hampir tidak dapat dihindari ketika dua individu menjalani kehidupan bersama.
Kalian mungkin berbeda dalam hal uang, pekerjaan, keluarga, waktu, gaya komunikasi, kehidupan sosial, bahkan cara menghabiskan akhir pekan.
Masalahnya bukan selalu pada keberadaan konflik.
Masalahnya adalah bagaimana konflik tersebut ditangani.
Ada perbedaan besar antara mengatakan:
“Aku kecewa karena kamu tidak memberi tahu aku.”
dan:
“Kamu memang selalu egois.”
Kalimat pertama membicarakan sebuah perilaku dan perasaan.
Kalimat kedua menyerang karakter.
Serangan terhadap karakter membuat pasangan lebih mungkin masuk ke mode bertahan daripada mendengarkan.
Karena itu, ketika terjadi konflik, cobalah menggunakan pola sederhana:
Perilaku → Perasaan → Kebutuhan → Permintaan.
Contohnya:
“Ketika kamu membatalkan rencana kita tanpa memberi tahu lebih awal, aku merasa tidak dianggap penting. Aku butuh merasa bahwa waktuku juga dihargai. Ke depannya, bisakah kamu memberi tahu aku lebih awal kalau ada perubahan?”
Bandingkan dengan:
“Kamu nggak pernah menghargai aku.”
Pesannya mungkin sama.
Namun, dampaknya sangat berbeda.
Hindari empat kebiasaan yang merusak konflik
Dalam hubungan, ada beberapa pola yang sebaiknya diwaspadai:
Pertama, penghinaan.
Misalnya mengejek, merendahkan, atau membuat pasangan merasa bodoh.
Kedua, kritik terhadap karakter.
Bukan lagi membahas perilaku tertentu, tetapi menyerang kepribadian pasangan.
Ketiga, sikap defensif berlebihan.
Setiap masalah dibalas dengan alasan, pembelaan, atau mengembalikan kesalahan kepada pasangan.
Keempat, menarik diri sepenuhnya.
Tidak mau berbicara, mengabaikan pasangan, atau sengaja menciptakan jarak sebagai bentuk hukuman.
Konflik yang sehat bukan berarti kalian selalu mencapai kesepakatan.
Kadang-kadang kalian tetap berbeda pendapat.
Tujuannya adalah memastikan bahwa perbedaan tidak berubah menjadi penghancuran rasa hormat.
Kamu boleh marah.
Kamu boleh kecewa.
Kamu boleh tidak setuju.
Tetapi pasanganmu tetap manusia yang layak diperlakukan dengan hormat.
- Bangun Rasa Aman, Bukan Ketergantungan
Cinta yang langgeng membutuhkan kedekatan.
Tetapi kedekatan bukan berarti kehilangan diri sendiri.
Hubungan yang sehat memungkinkan dua orang mengatakan:
“Aku membutuhkanmu.”
sekaligus:
“Aku juga tetap memiliki diriku sendiri.”
Ini adalah perbedaan penting.
Dalam hubungan yang tidak sehat, seseorang mungkin merasa harus selalu tahu keberadaan pasangannya, selalu mendapatkan respons cepat, atau terus-menerus diyakinkan bahwa dirinya dicintai.
Sementara dalam hubungan yang lebih aman, seseorang dapat menikmati kedekatan tanpa harus mengontrol seluruh kehidupan pasangannya.
Rasa aman dibangun melalui konsistensi.
Misalnya, ketika kamu mengatakan akan menelepon, kamu berusaha melakukannya.
Ketika melakukan kesalahan, kamu mengakuinya.
Ketika pasangan sedang rentan, kamu tidak menggunakan kerentanannya sebagai senjata dalam pertengkaran berikutnya.
Ketika ada masalah, kamu tidak langsung mengancam untuk pergi.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut memberi pesan:
“Aku aman bersamamu.”
Dan rasa aman adalah salah satu fondasi penting dalam hubungan jangka panjang.
Namun, rasa aman juga membutuhkan ruang.
Pasanganmu tetap membutuhkan teman, minat pribadi, pekerjaan, hobi, dan waktu untuk dirinya sendiri.
Kamu juga demikian.
Menjadi pasangan bukan berarti harus menjadi seluruh dunia bagi satu sama lain.
Justru, dua individu yang tetap memiliki kehidupan yang sehat di luar hubungan sering kali memiliki lebih banyak hal untuk dibagikan ketika kembali bersama.
Cinta yang matang bukan:
“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Melainkan:
“Aku memilih hidup bersamamu, tanpa harus kehilangan diriku sendiri.”
- Pilih Pasanganmu Berulang Kali, Terutama Ketika Hidup Tidak Lagi Romantis
Pada awal hubungan, mencintai seseorang relatif mudah.
Ada rasa penasaran.
Ada kebaruan.
Ada pesan-pesan panjang.
Ada kencan.
Ada kejutan.
Ada perasaan berdebar ketika melihat namanya muncul di layar.
Namun, hubungan jangka panjang akhirnya memasuki fase yang berbeda.
Kalian mulai mengetahui kebiasaan masing-masing.
Rutinitas mulai terasa biasa.
Kesibukan meningkat.
Tanggung jawab bertambah.
Pekerjaan bisa melelahkan.
Masalah keluarga mungkin datang.
Kondisi keuangan dapat berubah.
Tubuh dan usia juga berubah.
Pada titik tertentu, cinta tidak selalu terasa seperti film romantis.
Dan justru di situlah kualitas hubungan mulai terlihat.
Apakah kalian masih memperhatikan satu sama lain?
Apakah kalian masih ingin tahu bagaimana perasaan pasangan?
Apakah kalian masih bersedia memperbaiki kesalahan?
Apakah kalian masih menunjukkan apresiasi?
Apakah kalian masih memiliki waktu untuk tertawa bersama?
Hubungan yang langgeng bukan berarti setiap hari terasa luar biasa.
Kadang-kadang, cinta jangka panjang terlihat sangat sederhana.
Membuatkan kopi.
Menunggu pasangan pulang.
Mendengarkan cerita yang sebenarnya sudah pernah didengar.
Mengirim pesan ketika tahu pasangan sedang menghadapi hari yang berat.
Memegang tangan ketika berjalan.
Mengucapkan, “Terima kasih.”
Atau hanya duduk berdua dalam keheningan tanpa merasa harus melakukan sesuatu.
Cinta yang matang sering kali tidak terlalu berisik.
Ia muncul dalam bentuk konsistensi.
Dan ketika kehidupan menjadi sulit, pasangan yang kuat tidak selalu bertanya:
“Apakah aku masih merasakan perasaan yang sama seperti dulu?”
Mereka juga bertanya:
“Apa yang bisa kita lakukan agar hubungan ini kembali terasa dekat?”
Itulah perbedaan antara hanya mengikuti perasaan dan secara sadar merawat sebuah hubungan.
Cinta yang Langgeng Bukan Tentang Menemukan Orang yang Sempurna
Pada akhirnya, mungkin tidak ada pasangan yang benar-benar sempurna.
Kamu akan menemukan kebiasaan pasangan yang mengganggumu.
Pasanganmu juga akan menemukan kekuranganmu.
Kalian akan salah paham.
Kalian akan kecewa.
Kalian mungkin bertengkar tentang hal-hal kecil yang beberapa hari kemudian bahkan terasa lucu.
Namun, hubungan yang kuat bukan hubungan yang tidak memiliki retakan.
Hubungan yang kuat adalah hubungan yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki retakan tersebut.
Jadi, jika kamu dan pasangan ingin membangun cinta yang tangguh dan langgeng, mulailah dari lima hal:
- Berusahalah memahami, bukan sekadar menang.
- Bangun kedekatan melalui perhatian kecil setiap hari.
- Belajar menyelesaikan konflik tanpa menghancurkan rasa hormat.
- Bangun rasa aman tanpa kehilangan kebebasan sebagai individu.
- Pilih dan rawat hubunganmu berulang kali, terutama ketika kehidupan tidak lagi terasa romantis.
Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang menemukan seseorang yang membuat jantungmu berdebar.
Cinta juga tentang menemukan seseorang yang bersedia duduk bersamamu ketika hidup menjadi sulit—dan kalian berdua sama-sama berkata:
“Mari kita cari jalan keluarnya bersama.”
Itulah salah satu bentuk cinta yang paling tangguh.
Bukan cinta yang tidak pernah terluka.
Melainkan cinta yang tahu bagaimana cara kembali mendekat setelah terluka.(jpc)


