Tidak semua orang yang hadir dalam kehidupan kita benar-benar memiliki niat baik. Ada kalanya seseorang terlihat perhatian dan peduli, tetapi cara mereka berbicara justru perlahan merendahkan, membuat kita merasa bersalah, atau mempertanyakan diri sendiri.
Orang yang memiliki kecenderungan manipulatif sering menggunakan kata-kata tertentu untuk mendapatkan kendali dalam sebuah hubungan.
Mereka dapat menyamarkan sindiran sebagai candaan, menganggap perasaan orang lain sebagai sesuatu yang berlebihan, atau menghindari tanggung jawab ketika perkataannya menyakiti.
Karena itu, penting untuk memperhatikan pola komunikasi seseorang, bukan hanya melihat satu kalimat secara terpisah.
Dilansir dari laman YourTango, berikut enam frasa yang patut diwaspadai ketika muncul berulang kali dalam percakapan.
- “Kamu terlalu sensitif”
Kalimat ini sering digunakan untuk mengalihkan perhatian dari perilaku seseorang kepada reaksi emosional orang yang menjadi lawan bicaranya.
Ketika seseorang mengatakan Anda terlalu sensitif setelah melakukan atau mengatakan sesuatu yang menyakitkan, persoalan utamanya bisa berubah.
Alih-alih membicarakan tindakan yang membuat Anda tersinggung, pembicaraan justru berfokus pada apakah reaksi Anda dianggap berlebihan.
Dalam hubungan yang tidak sehat, pola semacam ini dapat membuat seseorang mulai meragukan perasaannya sendiri. Padahal, memiliki perasaan tidak selalu berarti seseorang bersikap terlalu sensitif.
- “Aku cuma bercanda”
Candaan memang menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Namun, candaan dapat berubah menjadi cara untuk menyampaikan penghinaan ketika seseorang sengaja mengatakan sesuatu yang merendahkan lalu berlindung di balik alasan bahwa dirinya hanya bercanda.
Ungkapan “aku cuma bercanda” sering muncul setelah lawan bicara menunjukkan bahwa dirinya merasa tersinggung.
Masalahnya bukan sekadar apakah sebuah perkataan dimaksudkan sebagai lelucon, melainkan bagaimana seseorang merespons ketika mengetahui bahwa perkataannya telah menyakiti orang lain.
Orang yang bersedia bertanggung jawab biasanya akan mempertimbangkan perasaan lawan bicaranya, bukan sekadar menolak dengan alasan bercanda.
- “Kamu bereaksi berlebihan”
Frasa ini sekilas terdengar seperti penilaian biasa, tetapi jika terus digunakan untuk mengabaikan perasaan orang lain, kalimat tersebut dapat membuat seseorang mempertanyakan penilaiannya sendiri.
Ketika Anda menyampaikan keberatan dan seseorang langsung mengatakan bahwa Anda bereaksi berlebihan, pembicaraan akhirnya tidak lagi berfokus pada masalah yang terjadi. Perhatian justru dialihkan kepada respons emosional Anda.
Pola komunikasi seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak berhak marah, kecewa, sedih, atau tersinggung.
Karena itu, penting untuk membedakan antara menerima masukan mengenai cara bereaksi dan membiarkan orang lain mengabaikan perasaan Anda begitu saja.
- “Saya turut menyesal Anda merasa seperti itu”
Kalimat ini terdengar seperti permintaan maaf, tetapi maknanya dapat berbeda tergantung konteks dan cara penyampaiannya.
Alih-alih mengatakan, “Saya minta maaf karena perkataan saya menyakiti Anda,” seseorang mungkin mengatakan, “Saya menyesal Anda merasa seperti itu.” Perbedaannya terletak pada tanggung jawab yang diambil.
Dalam kalimat kedua, fokusnya berada pada perasaan orang yang terluka, bukan pada tindakan yang menyebabkan luka tersebut.
Jika digunakan berulang kali untuk menghindari permintaan maaf atau tanggung jawab, ungkapan ini dapat menjadi bagian dari pola komunikasi yang tidak sehat.
- “Saya tidak punya waktu untuk ini”
Menolak melanjutkan percakapan memang tidak selalu berarti seseorang sedang memanipulasi Anda. Setiap orang berhak mengambil waktu untuk menenangkan diri ketika sebuah pembicaraan menjadi terlalu emosional.
Namun, situasinya berbeda jika kalimat tersebut terus digunakan untuk menghindari pembicaraan penting, menutup komunikasi, atau membuat orang lain merasa tidak layak mendapatkan perhatian.
Dalam psikologi, perilaku menarik diri dari interaksi atau menutup komunikasi dapat dikenal sebagai stonewalling.
Ketika dilakukan secara sengaja dan berulang untuk menghukum atau mengendalikan pasangan maupun lawan bicara, pola tersebut dapat membuat hubungan menjadi semakin tidak sehat.
- “Kamu beruntung aku masih peduli”
Kalimat ini dapat membuat seseorang merasa bahwa perhatian yang diberikan merupakan sebuah hadiah yang harus disyukuri.
Orang yang menggunakan ungkapan seperti ini mungkin berusaha menempatkan dirinya pada posisi yang lebih tinggi.
Seolah-olah kehadiran mereka dalam kehidupan orang lain merupakan sebuah keistimewaan, sementara orang lain harus merasa beruntung karena masih diperhatikan.
Dalam hubungan yang sehat, kepedulian tidak seharusnya digunakan sebagai alat untuk merendahkan atau membuat seseorang merasa tidak berharga.
Perhatian dan kasih sayang idealnya diberikan tanpa menjadikannya alat untuk mengontrol orang lain.(jpc)


