27.8 C
Jakarta
Thursday, May 23, 2024
spot_img

Psywar Tank Versus Traktor

BEOGRAD, Jawa Pos – Memori Tragedi Maksimir
kembali muncul (28/8). Itu setelah dua klub pelaku tragedi tersebut, Crvena
zvezda dan Dinamo Zagreb. memastikan tiket lolos ke fase grup Liga Champions.
Terbuka kans dua klub ini tergabung segrup. Sebab Crvena ada di pot keempat dan
Dinamo pot ketiga.
Tanpa peduli dengan drawing yang baru berlangsung malam nanti WIB, saling
melontar psywar dilakukan media dari Serbia dan Kroasia yang notebene
bertetangga itu. Apalagi begitu dilaporkan ada tank di depan Red Star Stadium,
Beograd, saat Marko Marin dkk ditahan Young Boys 1-1 dalam leg kedua playoff
Liga Champions.
”Provokasi yang tak wajar dari Beograd,” tulis Sportske novosti, surat
kabar berkantor di Zagreb. Crvena dalam laman Facebook resminya menyanggahnya
dan menyebut tank itu cuma bagian dari atraksi fans Crvena. ”Tank ini hanya
bagian dari slogan klub kami.” sebut salah satu kelompok fans Crvena, Delije.

Tank itu bertipe T-55. Diketahui tank tersebut merupakan tank yang disita di
Vukovar, di saat konflik 87 hari antara Kroasia-Serbia di Vukovar, 1991 silam.
Meski begitu, kubu tamu tak merasa risih dengan adanya tank tersebut. ”Kami
biasa saja. Tidak terpengaruh apapun (dengan tank tersebut),” kata juru bicara
klub Swiss itu, Albert Staudenmen dalam situs resmi klub.    

Baca Juga :  Korban Corona Meningkat, La Liga Dihentikan

Ditambah lagi dengan UEFA yang tak mengambil
sikap terkait tudingan-tudingan media Kroasia ke Crvena soal tank tersebut. Di
sisi lain, provokasi juga datang dari Zagreb. Dari situs  Hercegovacki Portal, fans Dinamo ganti
memarkir traktor berkarat, di dekat Stadion Maksimir.  Itu sebagai sindiran ke Crvena dengan sebutan
mesin berkarat.
 

Kali terakhir kedua klub ini bersua saat masih
sama-sama jadi satu bagian di Yugoslavia. Ya Tragedi Maksimir pecah pada 13 Mei
1990. Di saat itu Bad Blue Boys, fans fanatik Dinamo, melempari Delije dengan
batu. Fans tamu balik menyerang dengan bersenjatakan pisau. Setelah kerusuhan,
ratusan fans dilaporkan luka-luka.
Sebagai eks gelandang Dinamo yang pernah membesut Crvena, Robert Prosinecki,
tidak mau berkomentar soal psywar itu. ”Terlalu jauh membahasnya (drawing).
Lolos ke fase grup ke grup Liga Champions saja sudah capaian bagus untuk kedua
klub. Tinggal sampai sejauh mana mereka melaju,” tutur pelatih timnas
Bosnia-Herzegovina itu, dikutip laman 24 Sata.

Sementara, klub raksasa Belanda, Ajax
Amsterdam, lolos ke fase grup Liga Champions 2019-2020 setelah mendepak tim
asal Siprus, APOEL Nocosia. Ajax melenggang setelah menang 2-0 pada leg kedua
playoff di Johan Cruyff Arena, Kamis (29/8) dini hari WIB.

Baca Juga :  Mantan Pemain Timnas Spanyol Ini Jadi Kapten Baru Manchester City

Hasil tersebut memastikan posisi Ajax di babak
utama Liga Champions karena bermain tanpa gol pada pertemuan pertama di markas
APOEL pekan lalu. Edson Alvarez membuka kemenangan Ajax dengan mencetak gol
pada pertandingan yang disiarkan SCTV ini. Dibeli dari Club America untuk
menggantikan Matthijs de Ligt yang hengkang ke Juventus musim panas lalu,
pemain berusia 21 tahun itu langsung merebut hati suporter dengan merobek
gawang tim tamu di menit ke-43.

Klaas-Jan Huntelaar semula mengira sudah
menggandakan keunggulan Ajax di awal babak kedua. Namun, golnya dianulir video
assistant referee (VAR).

Tidak lama berselang, giliran APOEL yang
menderita karena VAR membatalkan gol Andrija Pavlovic. Ajax pada akhirnya
mengamankan tempat di babak grup Liga Champions lewat gol Dusan Tadic di menit
ke-80.

lub Brugge dan Slavia Praha menemani Ajax ke
fase grup Liga Champions setelah meraih hasil yang dibutuhkan di leg kedua.
Brugge mengalahkan LASK 2-1 untuk unggul agregat 3-1. Sementara Slavia Praha
membungkam Cluj 1-0 dan menang agregat 2-0.

Ketiga klub itu mengikuti jejak Dinamo Zagreb, Red
Star Belgrade, dan Olympiakos yang memesan tempat sehari sebelumnya. Mereka
kini menunggu hasil undian babak grup yang berlangsung tadi malam di Monaco. (ren/jpg)

BEOGRAD, Jawa Pos – Memori Tragedi Maksimir
kembali muncul (28/8). Itu setelah dua klub pelaku tragedi tersebut, Crvena
zvezda dan Dinamo Zagreb. memastikan tiket lolos ke fase grup Liga Champions.
Terbuka kans dua klub ini tergabung segrup. Sebab Crvena ada di pot keempat dan
Dinamo pot ketiga.
Tanpa peduli dengan drawing yang baru berlangsung malam nanti WIB, saling
melontar psywar dilakukan media dari Serbia dan Kroasia yang notebene
bertetangga itu. Apalagi begitu dilaporkan ada tank di depan Red Star Stadium,
Beograd, saat Marko Marin dkk ditahan Young Boys 1-1 dalam leg kedua playoff
Liga Champions.
”Provokasi yang tak wajar dari Beograd,” tulis Sportske novosti, surat
kabar berkantor di Zagreb. Crvena dalam laman Facebook resminya menyanggahnya
dan menyebut tank itu cuma bagian dari atraksi fans Crvena. ”Tank ini hanya
bagian dari slogan klub kami.” sebut salah satu kelompok fans Crvena, Delije.

Tank itu bertipe T-55. Diketahui tank tersebut merupakan tank yang disita di
Vukovar, di saat konflik 87 hari antara Kroasia-Serbia di Vukovar, 1991 silam.
Meski begitu, kubu tamu tak merasa risih dengan adanya tank tersebut. ”Kami
biasa saja. Tidak terpengaruh apapun (dengan tank tersebut),” kata juru bicara
klub Swiss itu, Albert Staudenmen dalam situs resmi klub.    

Baca Juga :  Korban Corona Meningkat, La Liga Dihentikan

Ditambah lagi dengan UEFA yang tak mengambil
sikap terkait tudingan-tudingan media Kroasia ke Crvena soal tank tersebut. Di
sisi lain, provokasi juga datang dari Zagreb. Dari situs  Hercegovacki Portal, fans Dinamo ganti
memarkir traktor berkarat, di dekat Stadion Maksimir.  Itu sebagai sindiran ke Crvena dengan sebutan
mesin berkarat.
 

Kali terakhir kedua klub ini bersua saat masih
sama-sama jadi satu bagian di Yugoslavia. Ya Tragedi Maksimir pecah pada 13 Mei
1990. Di saat itu Bad Blue Boys, fans fanatik Dinamo, melempari Delije dengan
batu. Fans tamu balik menyerang dengan bersenjatakan pisau. Setelah kerusuhan,
ratusan fans dilaporkan luka-luka.
Sebagai eks gelandang Dinamo yang pernah membesut Crvena, Robert Prosinecki,
tidak mau berkomentar soal psywar itu. ”Terlalu jauh membahasnya (drawing).
Lolos ke fase grup ke grup Liga Champions saja sudah capaian bagus untuk kedua
klub. Tinggal sampai sejauh mana mereka melaju,” tutur pelatih timnas
Bosnia-Herzegovina itu, dikutip laman 24 Sata.

Sementara, klub raksasa Belanda, Ajax
Amsterdam, lolos ke fase grup Liga Champions 2019-2020 setelah mendepak tim
asal Siprus, APOEL Nocosia. Ajax melenggang setelah menang 2-0 pada leg kedua
playoff di Johan Cruyff Arena, Kamis (29/8) dini hari WIB.

Baca Juga :  Mantan Pemain Timnas Spanyol Ini Jadi Kapten Baru Manchester City

Hasil tersebut memastikan posisi Ajax di babak
utama Liga Champions karena bermain tanpa gol pada pertemuan pertama di markas
APOEL pekan lalu. Edson Alvarez membuka kemenangan Ajax dengan mencetak gol
pada pertandingan yang disiarkan SCTV ini. Dibeli dari Club America untuk
menggantikan Matthijs de Ligt yang hengkang ke Juventus musim panas lalu,
pemain berusia 21 tahun itu langsung merebut hati suporter dengan merobek
gawang tim tamu di menit ke-43.

Klaas-Jan Huntelaar semula mengira sudah
menggandakan keunggulan Ajax di awal babak kedua. Namun, golnya dianulir video
assistant referee (VAR).

Tidak lama berselang, giliran APOEL yang
menderita karena VAR membatalkan gol Andrija Pavlovic. Ajax pada akhirnya
mengamankan tempat di babak grup Liga Champions lewat gol Dusan Tadic di menit
ke-80.

lub Brugge dan Slavia Praha menemani Ajax ke
fase grup Liga Champions setelah meraih hasil yang dibutuhkan di leg kedua.
Brugge mengalahkan LASK 2-1 untuk unggul agregat 3-1. Sementara Slavia Praha
membungkam Cluj 1-0 dan menang agregat 2-0.

Ketiga klub itu mengikuti jejak Dinamo Zagreb, Red
Star Belgrade, dan Olympiakos yang memesan tempat sehari sebelumnya. Mereka
kini menunggu hasil undian babak grup yang berlangsung tadi malam di Monaco. (ren/jpg)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru