“Pada set pertama kami sempat dikagetkan oleh servis pemain Korea yang menyulitkan. Akibatnya, serangan kami tidak maksimal dan mudah dibendung blok mereka,” kata Nur.
Servis Agresif Jadi Kunci Kemenangan
Memasuki set kedua, permainan Indonesia berubah drastis. Servis agresif Boy Arnez Arabi dan Farhan Halim membuat pertahanan Korea Selatan kesulitan mengembangkan permainan.
Tekanan tersebut membuka peluang bagi para blocker Indonesia untuk menghasilkan poin, sementara pemain belakang mampu mengubah bola-bola bertahan menjadi serangan balik yang efektif. Indonesia pun menang meyakinkan 25-16.
“Mulai set kedua dan seterusnya, banyak servis dari pemain kita yang menyulitkan lawan, terutama dari Boy Arnez dan Farhan Halim.
Dari situ blocker kita bisa menghasilkan poin, sementara pemain belakang mendapatkan bola-bola bertahan yang kemudian menjadi serangan balik,” ujar Nur.
Strategi Reidel Toiran Berbuah Gelar Juara
Pada set ketiga, Korea Selatan kembali memberikan perlawanan sengit. Namun, Indonesia tetap mampu menjaga konsistensi permainan hingga menutup pertandingan dengan kemenangan 25-23.
Nur juga memberikan apresiasi kepada Pelatih Reidel Toiran yang dinilai sukses membaca jalannya pertandingan, terutama melalui pergantian Rama Fazza menggantikan Fauzan Nibras.
Menurutnya, Rama tampil impresif dengan menyumbangkan banyak poin melalui serangan maupun servis sehingga menjadi salah satu faktor penting keberhasilan Indonesia meraih gelar juara.
Keberhasilan menjuarai AVC Men’s Cup 2026 semakin mempertegas kebangkitan Timnas Voli Putra Indonesia di level Asia.
Gelar ini diharapkan menjadi modal berharga bagi tim Merah Putih untuk menghadapi berbagai turnamen internasional berikutnya.(jpg)


