26.7 C
Jakarta
Sunday, March 15, 2026

Gara-Gara Suporter dan Kartu Kuning, Arema FC dan Persebaya Kena Denda Besar

PROKALTENG.CO – Denda Komdis PSSI menembus Rp 100 juta setelah Persebaya Surabaya dan Arema FC dijatuhi sanksi dalam lanjutan Super League 2025/2026. Hukuman finansial itu muncul akibat pelanggaran disiplin suporter tandang dan akumulasi kartu kuning pada awal Februari 2026.

Dalam putusan Komdis PSSI, Persebaya Surabaya didenda Rp 25 juta, sedangkan Arema FC harus membayar total Rp 75 juta. Jika digabungkan, total sanksi untuk dua klub besar tersebut mencapai Rp 100 juta—angka yang tak bisa dianggap enteng di tengah kompetisi yang masih panjang.

Persebaya menerima sanksi usai laga melawan Bali United pada pekan ke-20 Super League. Komdis menjatuhkan hukuman karena suporter Persebaya sebagai tim tamu hadir langsung di stadion.

Atas pelanggaran itu, Bajul Ijo dikenai denda Rp 25 juta. Kasus ini kembali menegaskan bahwa aturan kehadiran suporter tandang masih menjadi isu sensitif yang wajib dipatuhi seluruh peserta liga.

Di sisi lain, Arema FC menghadapi konsekuensi lebih berat saat bertemu Persija Jakarta pada pekan yang sama. Pelanggaran pertama serupa, yakni adanya suporter tim tamu di stadion. Singo Edan didenda Rp 25 juta untuk kasus tersebut.

Baca Juga :  Arema FC Bikin Panas Bursa Transfer, Persebaya Waspada Soal Manuver untuk Victor Luiz

Namun, hukuman Arema tak berhenti di situ. Dalam laga kontra Persija, tercatat empat pemain dan satu ofisial menerima kartu kuning. Akumulasi itu berbuntut sanksi tambahan dari Komdis.

Arema FC dijatuhi denda Rp 50 juta akibat banyaknya kartu kuning dalam satu pertandingan. Artinya, total denda yang harus dibayar manajemen mencapai Rp 75 juta.

Electronic money exchangers listing

Jika ditotal bersama sanksi Persebaya, angka keseluruhan menyentuh Rp 100 juta. Nominal besar ini langsung menyita perhatian publik sepak bola nasional.

Putusan tersebut sekaligus menjadi pesan tegas bahwa regulasi bukan formalitas. Disiplin suporter dan kontrol emosi pemain kini benar-benar diawasi ketat.

Bagi Persebaya, denda Rp 25 juta memang hanya dari satu pelanggaran. Namun, soal distribusi tiket dan koordinasi dengan panitia pelaksana jelas harus dievaluasi agar kejadian serupa tak terulang.

Baca Juga :  Gebrakan Besar Persebaya Surabaya, Klub Kebanggaan Bonek Buru 3 Pemain Top

Arema FC menghadapi tantangan lebih kompleks. Selain pengelolaan suporter, aspek kedisiplinan pemain di lapangan juga jadi sorotan. Empat kartu kuning untuk pemain dan satu bagi ofisial dalam satu laga menjadi catatan serius.

Intensitas pertandingan boleh tinggi, tetapi kontrol emosi tetap kunci. Satu kartu kuning mungkin terlihat sepele, namun ketika terakumulasi, dampaknya langsung terasa ke finansial klub.

Super League 2025/2026 masih menyisakan banyak laga penting. Dalam persaingan ketat, denda besar bisa mengganggu fokus tim karena anggaran yang seharusnya untuk pengembangan justru tersedot membayar sanksi.

Komdis PSSI lewat keputusan ini menunjukkan konsistensi menegakkan aturan tanpa pandang bulu. Total Rp 100 juta bukan sekadar angka, melainkan alarm keras bagi seluruh kontestan liga.

Kini publik menunggu langkah evaluasi dari masing-masing manajemen. Apakah akan ada pendekatan baru dalam mengelola suporter dan menjaga disiplin pemain? Yang jelas, di kompetisi profesional, harga sebuah pelanggaran memang mahal. (jpg)

PROKALTENG.CO – Denda Komdis PSSI menembus Rp 100 juta setelah Persebaya Surabaya dan Arema FC dijatuhi sanksi dalam lanjutan Super League 2025/2026. Hukuman finansial itu muncul akibat pelanggaran disiplin suporter tandang dan akumulasi kartu kuning pada awal Februari 2026.

Dalam putusan Komdis PSSI, Persebaya Surabaya didenda Rp 25 juta, sedangkan Arema FC harus membayar total Rp 75 juta. Jika digabungkan, total sanksi untuk dua klub besar tersebut mencapai Rp 100 juta—angka yang tak bisa dianggap enteng di tengah kompetisi yang masih panjang.

Persebaya menerima sanksi usai laga melawan Bali United pada pekan ke-20 Super League. Komdis menjatuhkan hukuman karena suporter Persebaya sebagai tim tamu hadir langsung di stadion.

Electronic money exchangers listing

Atas pelanggaran itu, Bajul Ijo dikenai denda Rp 25 juta. Kasus ini kembali menegaskan bahwa aturan kehadiran suporter tandang masih menjadi isu sensitif yang wajib dipatuhi seluruh peserta liga.

Di sisi lain, Arema FC menghadapi konsekuensi lebih berat saat bertemu Persija Jakarta pada pekan yang sama. Pelanggaran pertama serupa, yakni adanya suporter tim tamu di stadion. Singo Edan didenda Rp 25 juta untuk kasus tersebut.

Baca Juga :  Arema FC Bikin Panas Bursa Transfer, Persebaya Waspada Soal Manuver untuk Victor Luiz

Namun, hukuman Arema tak berhenti di situ. Dalam laga kontra Persija, tercatat empat pemain dan satu ofisial menerima kartu kuning. Akumulasi itu berbuntut sanksi tambahan dari Komdis.

Arema FC dijatuhi denda Rp 50 juta akibat banyaknya kartu kuning dalam satu pertandingan. Artinya, total denda yang harus dibayar manajemen mencapai Rp 75 juta.

Jika ditotal bersama sanksi Persebaya, angka keseluruhan menyentuh Rp 100 juta. Nominal besar ini langsung menyita perhatian publik sepak bola nasional.

Putusan tersebut sekaligus menjadi pesan tegas bahwa regulasi bukan formalitas. Disiplin suporter dan kontrol emosi pemain kini benar-benar diawasi ketat.

Bagi Persebaya, denda Rp 25 juta memang hanya dari satu pelanggaran. Namun, soal distribusi tiket dan koordinasi dengan panitia pelaksana jelas harus dievaluasi agar kejadian serupa tak terulang.

Baca Juga :  Gebrakan Besar Persebaya Surabaya, Klub Kebanggaan Bonek Buru 3 Pemain Top

Arema FC menghadapi tantangan lebih kompleks. Selain pengelolaan suporter, aspek kedisiplinan pemain di lapangan juga jadi sorotan. Empat kartu kuning untuk pemain dan satu bagi ofisial dalam satu laga menjadi catatan serius.

Intensitas pertandingan boleh tinggi, tetapi kontrol emosi tetap kunci. Satu kartu kuning mungkin terlihat sepele, namun ketika terakumulasi, dampaknya langsung terasa ke finansial klub.

Super League 2025/2026 masih menyisakan banyak laga penting. Dalam persaingan ketat, denda besar bisa mengganggu fokus tim karena anggaran yang seharusnya untuk pengembangan justru tersedot membayar sanksi.

Komdis PSSI lewat keputusan ini menunjukkan konsistensi menegakkan aturan tanpa pandang bulu. Total Rp 100 juta bukan sekadar angka, melainkan alarm keras bagi seluruh kontestan liga.

Kini publik menunggu langkah evaluasi dari masing-masing manajemen. Apakah akan ada pendekatan baru dalam mengelola suporter dan menjaga disiplin pemain? Yang jelas, di kompetisi profesional, harga sebuah pelanggaran memang mahal. (jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru