Pembalap F1 Merasa Jadi “Sandera” AI Karena Hasil Balapan Tak Lagi Ditentukan Skill Mengemudi

Regulasi power unit Formula 1 2026 kembali menuai kritik. Sejumlah pembalap kini merasa menjadi “sandera” kecerdasan buatan (AI) yang mengatur deployment energi baterai mobil. Mereka menilai hasil balapan tidak lagi sepenuhnya ditentukan kemampuan mengemudi. Tetapi juga oleh keputusan algoritma mendistribusikan energi.

Seperti dilaporkan The Race, algoritma AI secara otomatis menghitung kapan dan di mana energi baterai digunakan. Perhitungannya terus menyesuaikan kondisi lintasan, arah angin, tingkat grip, hingga gaya mengemudi tiap pembalap. Masalahnya, algoritma tersebut bisa meleset. Akibatnya, pembalap bisa tiba-tiba kehilangan kecepatan tanpa mengetahui penyebab pasti.

Nah, George Russell menjadi salah satu pembalap yang paling merasakan dampaknya di Sirkuit Spa-Francorchamps akhir pekan lalu. Gangguan deployment membuat Mercedes miliknya kehilangan akselerasi di Kemmel Straight. Russell pun tersalip rombongan pembalap di belakang sebelum akhirnya terlibat insiden dengan Lewis Hamilton pada lap pertama.

Baca Juga :  Perjalanan Timnas Indonesia di Ronde Ketiga, Bakal Melanjutkan Perjuangan Menuju Ronde Keempat

Dalam wawancara dengan Sky Sports, Russell tampak hampir menangis karena masalah tersebut benar-benar di luar kendalinya. Sebelumnya, dia bahkan sempat kehilangan kepercayaan diri karena mengira performa buruknya disebabkan kesalahan sendiri. Belakangan, Mercedes baru menemukan penyebabnya, yakni gangguan sistem deployment.

Namun, Russell tidak sendiri. Duo pembalap McLaren, Lando Norris dan juga Oscar Piastri juga mengeluhkan pengaruh algoritma ttersebut. “Ini bukan lagi soal kemampuan pembalap. Kami hanya berharap beruntung agar power unit bekerja sebagaimana mestinya dan tidak melakukan hal yang aneh,” kata Norris dikutip dari The Race. Sedangkan Piastri menilai, hasil kualifikasi seharusnya tidak ditentukan oleh kemampuan software komputer.

Di sisi lain, The Race menilai situasi itu bisa mengaburkan semangat Sporting Regulations FIA Pasal B1.8.1., yang menyebut bahwa pembalap “harus mengemudikan mobil Formula 1 seorang diri tanpa bantuan”.

Baca Juga :  Masyarakat Dituntut Kritis Memverifikasi Setiap Informasi Sebelum Mempercayai atau Membagikannya

Namun, persoalan itu diperkirakan belum akan hilang. Sebab, algoritma machine learning akan tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan power unit dalam beberapa tahun ke depan.(jpc)

Electronic money exchangers listing

 

Regulasi power unit Formula 1 2026 kembali menuai kritik. Sejumlah pembalap kini merasa menjadi “sandera” kecerdasan buatan (AI) yang mengatur deployment energi baterai mobil. Mereka menilai hasil balapan tidak lagi sepenuhnya ditentukan kemampuan mengemudi. Tetapi juga oleh keputusan algoritma mendistribusikan energi.

Seperti dilaporkan The Race, algoritma AI secara otomatis menghitung kapan dan di mana energi baterai digunakan. Perhitungannya terus menyesuaikan kondisi lintasan, arah angin, tingkat grip, hingga gaya mengemudi tiap pembalap. Masalahnya, algoritma tersebut bisa meleset. Akibatnya, pembalap bisa tiba-tiba kehilangan kecepatan tanpa mengetahui penyebab pasti.

Nah, George Russell menjadi salah satu pembalap yang paling merasakan dampaknya di Sirkuit Spa-Francorchamps akhir pekan lalu. Gangguan deployment membuat Mercedes miliknya kehilangan akselerasi di Kemmel Straight. Russell pun tersalip rombongan pembalap di belakang sebelum akhirnya terlibat insiden dengan Lewis Hamilton pada lap pertama.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Perjalanan Timnas Indonesia di Ronde Ketiga, Bakal Melanjutkan Perjuangan Menuju Ronde Keempat

Dalam wawancara dengan Sky Sports, Russell tampak hampir menangis karena masalah tersebut benar-benar di luar kendalinya. Sebelumnya, dia bahkan sempat kehilangan kepercayaan diri karena mengira performa buruknya disebabkan kesalahan sendiri. Belakangan, Mercedes baru menemukan penyebabnya, yakni gangguan sistem deployment.

Namun, Russell tidak sendiri. Duo pembalap McLaren, Lando Norris dan juga Oscar Piastri juga mengeluhkan pengaruh algoritma ttersebut. “Ini bukan lagi soal kemampuan pembalap. Kami hanya berharap beruntung agar power unit bekerja sebagaimana mestinya dan tidak melakukan hal yang aneh,” kata Norris dikutip dari The Race. Sedangkan Piastri menilai, hasil kualifikasi seharusnya tidak ditentukan oleh kemampuan software komputer.

Di sisi lain, The Race menilai situasi itu bisa mengaburkan semangat Sporting Regulations FIA Pasal B1.8.1., yang menyebut bahwa pembalap “harus mengemudikan mobil Formula 1 seorang diri tanpa bantuan”.

Baca Juga :  Masyarakat Dituntut Kritis Memverifikasi Setiap Informasi Sebelum Mempercayai atau Membagikannya

Namun, persoalan itu diperkirakan belum akan hilang. Sebab, algoritma machine learning akan tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan power unit dalam beberapa tahun ke depan.(jpc)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru