Dua kali sudah Persebaya Surabaya merasakan hasil pahit saat menjalani debut jersey keempat mereka di kompetisi resmi. Uniknya, dua kekalahan itu terjadi ketika Green Force mengenakan warna yang tak biasa, kuning dan merah.
Terbaru, Persebaya Surabaya harus gigit jari setelah takluk 1-2 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC pada pekan ke-21 Super League 2025/2026. Kekalahan di kandang sendiri itu terasa makin menyesakkan karena memutus rekor 13 laga tak terkalahkan di Stadion Gelora Bung Tomo.
Laga yang digelar Sabtu (14/2), itu menjadi momen debut jersey keempat edisi 2025/2026. Jersey bertema Chinese New Year Edition tersebut didominasi warna merah dengan sentuhan hijau khas Persebaya Surabaya.
Kalah Lawan Malut United
Sebelumnya, rekor buruk pertama tercipta pada 17 Januari 2025 saat menjamu Malut United. Saat itu Persebaya Surabaya menyerah 0-2 dalam laga kandang yang juga menjadi debut jersey keempat mereka.
Pada pertandingan tersebut, Persebaya Surabaya tampil dengan jersey warna kuning bercorak hijau. Jersey itu diberi nama Persebaya Fourth Jersey 2024/2025 Player Issue dan dirilis sehari sebelum pertandingan. Peluncuran jersey keempat edisi perdana itu dilakukan pada Kamis, 16 Januari 2025.
Momen tersebut menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya sejak promosi dari Liga 2, Persebaya Surabaya memiliki jersey keempat dalam satu musim kompetisi. Manager Persebaya Store Arif Rahman Hakim menyebut jersey tersebut sebagai hadiah untuk Bonek dan Bonita.
”Ini adalah kali pertama Persebaya membuat jersey keempat sebagai hadiah tahun baru untuk Bonek-Bonita,” kata Arif.
Dia menegaskan, desain dan warna baru diharapkan membawa semangat tambahan bagi skuad Green Force. ”Dengan warna baru dan tetap membawa semangat fighting agar Persebaya selalu fight di tiap pertandingan,” tegas Arif Rahman Hakim.
Jersey keempat edisi 2024/2025 menambah koleksi apparel Persebaya Surabaya musim itu yang sudah memiliki home hijau, away putih, dan alternate merah. Dari sisi teknologi, bahan yang digunakan sama dengan jersey utama, dilengkapi mesh untuk sirkulasi udara, fitur antibacterial, serta quick dry.
Namun harapan membawa energi baru tak berbanding lurus dengan hasil di lapangan. Debut jersey kuning justru berujung kekalahan 0-2 dari Malut United di hadapan publik sendiri.
Kalah Lawan Bhayangkara FC
Setahun berselang, skenario serupa terulang dengan kemasan berbeda. Kali ini warna merah yang mendominasi jersey keempat 2025/2026, tetap dengan kombinasi hijau sebagai identitas klub.
Jersey bertema Imlek itu dirilis resmi oleh AZA sebagai bentuk perayaan budaya Tionghoa di Surabaya. Untuk pertama kali, jersey edisi Chinese New Year tidak sekadar koleksi spesial, tetapi dipakai langsung dalam pertandingan resmi Super League.
Peluncuran ini juga menandai musim kedelapan kolaborasi AZA dan Persebaya Surabaya. Kerja sama apparel dan klub ini disebut sebagai yang terpanjang di Indonesia saat ini tanpa pembanding.
Nuansa Imlek hadir lewat dominasi merah yang melambangkan keberanian dan energi. Ornamen khas Imlek serta gambar Kuda Api sebagai shio tahun baru 2477 terselip di nomor punggung pemain, lengkap dengan pilihan font bernuansa Tiongkok.
Jersey tersebut dirancang bukan hanya sebagai simbol gaya, tetapi juga representasi multikulturalisme Kota Surabaya. Etnis Tionghoa disebut menjadi bagian penting yang membentuk wajah kota, sehingga tema ini dipilih sebagai bentuk apresiasi.
Sebelumnya, AZA memang beberapa kali merilis jersey bertema Imlek untuk Persebaya Surabaya. Namun musim ini menjadi tonggak baru karena untuk kali pertama dikenakan dalam laga resmi kompetisi.
Persebaya Surabaya bahkan disebut sebagai klub pertama di Indonesia yang memiliki dan menggunakan jersey keempat dalam kompetisi resmi.
”Sejak musim 2024/2025, AZA dan Persebaya konsisten menghadirkan inovasi tersebut,” kata Arif Rahman Hakim, senior manager AZA yang juga membawahi Persebaya Store.
Secara konsep dan filosofi, jersey keempat Persebaya Surabaya selalu sarat makna. Warna kuning dan merah dipilih untuk menghadirkan energi baru sekaligus memperluas identitas visual klub di luar hijau tradisional.
Namun fakta di lapangan menunjukkan dua debut tersebut justru berujung kekalahan. Dua laga kandang, dua warna berbeda, dan dua hasil pahit yang sama-sama mematahkan ekspektasi.
Pertanyaan pun muncul di kalangan Bonek dan Bonita. Apakah Persebaya Surabaya memang kurang cocok mengenakan warna kuning dan merah dalam laga resmi Super League?
Tentu sepak bola tak sesederhana soal warna jersey. Faktor teknis, strategi, dan performa lawan tetap menjadi variabel utama yang menentukan hasil pertandingan.
Meski begitu, trivia unik ini sulit diabaikan. Setiap kali jersey keempat diperkenalkan dan langsung dipakai, hasilnya justru tak sesuai harapan.
Bagi manajemen dan apparel, inovasi desain tetap menjadi bagian penting membangun identitas klub. Sementara bagi suporter, yang terpenting tetap satu, Persebaya Surabaya kembali ke jalur kemenangan, apa pun warna jersey yang dikenakan.(jpc)


