25.2 C
Jakarta
Saturday, April 5, 2025

Prestasi dan Air Mata di Tengah Keterbatasan

Senyum kebahagiaan tak pernah lepas dari wajah atlet boccia, Fauzi
Saputra usai bertanding. Sambil duduk di atas kursi roda, Fauzi bertepuk tangan
dan melempar senyum ketika melewati kerumunan penonton.

Pelatihnya Ati Rosita yang mendorong kursi roda
Fauzi ikut meneteskan air mata kebahagian atas torehan prestasi anak asuhnya
itu. 

“Boccia ini olahraga baru, tetapi kami
beruntung, Fauzi Saputra (atlet pelajar disabilitas cabor boccia perwakilan
Provinsi Banten) semangatnya tinggi. Kami bangga, medali ini adalah hasil kerja
keras tim selama beberapa bulan belakangan,” kata Ati Rosita atau yang
biasa dipanggil Ceuceu, setelah upacara penghormatan pemenang cabang olahraga
boccia diselenggarakan di Gelanggang Remaja Kecamatan Matraman, Senin (11/11)
sore.

Fauzi mendapatkan medali perak pada gelaran Pekan Paralympic Pelajar
Nasional (Peparpenas) IX di Jakarta.




Kondisi yang sama juga dialami atlet pelajar disabilitas
cabor atletik asal Sumatera Utara, Robby Syahrul Ramadhan yang mendapatkan
medali emas 100 meter putra. Ia menangis setelah penyelenggaraan upacara
penghormatan pemenang dilaksanakan.

Baca Juga :  Sudah Lima Hari Tak Berlatih, Begini Penjelasan Dokter Tim Soal Kondis

“Medali ini saya kirimkan untuk almarhum bapak
saya. Saya ingin bapak bangga sama saya,” ucapnya sambil menangis.

Selain menyediakan wadah dan mengukur prestasi
atlet-atlet pelajar disabilitas, Peparpenas yang selalu menjadi ajang rutin Kemenpora ini selalu
memiliki cerita haru dan bahagia. Ketika pembukaan, Menpora Zainudin Amali
menggendong atlet renang asal Riau, Latifah Fitri untuk menyulutkan api ke
kaldron. Usai pembukaan pun Menpora terharu melihat semangat Latifah.

“Saya terharu melihat semangat mereka
(atlet disabilitas). Semangat mereka luar biasa. Itu yang membuat saya bersama
teman-teman dari Kemenpora terharu,” ucapnya.

Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden
Isnanta menyampaikan mendapati diri sendiri adalah seorang disabilitas yang
memiliki kekurangan fisik dan mau menerima keadaan itu adalah sesuatu yang
hebat. “Lebih lebih lagi dengan munculnya kemauan untuk menggali potensi
diri yang membuat diri sendiri harus melawan kekurangan yang dimiliki,”
katanya.

Baca Juga :  Prifad Juara usai Ganyang Wakil Malaysia di Partai Final

“Memiliki kekurangan fisik sebenarnya bukan sesuatu hal yang harus
disesali terus menerus. Pemerintah melalui Kemenpora memberikan wadah untuk aktualisasi
diri melalui olahraga. Peparpenas adalah salah satu wadah yang akan
mengantarkan pelajar disabilitas Indonesia menjadi atlet profesional di
kemudian hari. Mungkin banyak hal lain yang bisa dilakukan dalam keterbatasan.
Olahraga memberi pelajaran tentang nilai berjuang, memberi keluarga baru yang
senasib sepenanggungan, serta juga memberi kesempatan untuk mengharumkan nama
daerah/bangsa dengan prestasi olahraga,” tambahnya.

Pekan Paralympic Pelajar Nasional IX berlangsung
di Jakarta pada 6-13 November 2019. Adapun tema Peparpenas IX adalah “Wujudkan
Kesetaraan, Tingkatkan Prestasi”. Cabang olahraga yang dipertandingkan pada
tahun 2019 adalah boccia, renang, atletik, tenis meja, bulutangkis, dan catur. 
(*/jpnn)

Senyum kebahagiaan tak pernah lepas dari wajah atlet boccia, Fauzi
Saputra usai bertanding. Sambil duduk di atas kursi roda, Fauzi bertepuk tangan
dan melempar senyum ketika melewati kerumunan penonton.

Pelatihnya Ati Rosita yang mendorong kursi roda
Fauzi ikut meneteskan air mata kebahagian atas torehan prestasi anak asuhnya
itu. 

“Boccia ini olahraga baru, tetapi kami
beruntung, Fauzi Saputra (atlet pelajar disabilitas cabor boccia perwakilan
Provinsi Banten) semangatnya tinggi. Kami bangga, medali ini adalah hasil kerja
keras tim selama beberapa bulan belakangan,” kata Ati Rosita atau yang
biasa dipanggil Ceuceu, setelah upacara penghormatan pemenang cabang olahraga
boccia diselenggarakan di Gelanggang Remaja Kecamatan Matraman, Senin (11/11)
sore.

Fauzi mendapatkan medali perak pada gelaran Pekan Paralympic Pelajar
Nasional (Peparpenas) IX di Jakarta.




Kondisi yang sama juga dialami atlet pelajar disabilitas
cabor atletik asal Sumatera Utara, Robby Syahrul Ramadhan yang mendapatkan
medali emas 100 meter putra. Ia menangis setelah penyelenggaraan upacara
penghormatan pemenang dilaksanakan.

Baca Juga :  Sudah Lima Hari Tak Berlatih, Begini Penjelasan Dokter Tim Soal Kondis

“Medali ini saya kirimkan untuk almarhum bapak
saya. Saya ingin bapak bangga sama saya,” ucapnya sambil menangis.

Selain menyediakan wadah dan mengukur prestasi
atlet-atlet pelajar disabilitas, Peparpenas yang selalu menjadi ajang rutin Kemenpora ini selalu
memiliki cerita haru dan bahagia. Ketika pembukaan, Menpora Zainudin Amali
menggendong atlet renang asal Riau, Latifah Fitri untuk menyulutkan api ke
kaldron. Usai pembukaan pun Menpora terharu melihat semangat Latifah.

“Saya terharu melihat semangat mereka
(atlet disabilitas). Semangat mereka luar biasa. Itu yang membuat saya bersama
teman-teman dari Kemenpora terharu,” ucapnya.

Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden
Isnanta menyampaikan mendapati diri sendiri adalah seorang disabilitas yang
memiliki kekurangan fisik dan mau menerima keadaan itu adalah sesuatu yang
hebat. “Lebih lebih lagi dengan munculnya kemauan untuk menggali potensi
diri yang membuat diri sendiri harus melawan kekurangan yang dimiliki,”
katanya.

Baca Juga :  Prifad Juara usai Ganyang Wakil Malaysia di Partai Final

“Memiliki kekurangan fisik sebenarnya bukan sesuatu hal yang harus
disesali terus menerus. Pemerintah melalui Kemenpora memberikan wadah untuk aktualisasi
diri melalui olahraga. Peparpenas adalah salah satu wadah yang akan
mengantarkan pelajar disabilitas Indonesia menjadi atlet profesional di
kemudian hari. Mungkin banyak hal lain yang bisa dilakukan dalam keterbatasan.
Olahraga memberi pelajaran tentang nilai berjuang, memberi keluarga baru yang
senasib sepenanggungan, serta juga memberi kesempatan untuk mengharumkan nama
daerah/bangsa dengan prestasi olahraga,” tambahnya.

Pekan Paralympic Pelajar Nasional IX berlangsung
di Jakarta pada 6-13 November 2019. Adapun tema Peparpenas IX adalah “Wujudkan
Kesetaraan, Tingkatkan Prestasi”. Cabang olahraga yang dipertandingkan pada
tahun 2019 adalah boccia, renang, atletik, tenis meja, bulutangkis, dan catur. 
(*/jpnn)

Terpopuler

Artikel Terbaru