33.6 C
Jakarta
Monday, June 24, 2024
spot_img

Kursi Menteri Kabinet Prabowo, Golkar Mendominasi

PROKALTENG.CO– Partai Golkar dan PAN dinilai lebih layak mendapatkan jatah kursi menteri terbanyak di antara parpol anggota Koalisi Indonesia Maju pendukung Prabowo. Partai Demokrat memang bergabung paling belakangan ke Koalisi Indonesia Maju.

Tak heran kalau ada yang menilai kontribusi Demokrat tidak sebesar parpol pengusung lain yang sudah bekerja sejak awal, seperti Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN).

“Secara politis Golkar jelas lebih rasional mendapat lebih banyak tempat dibanding Demokrat. Bahkan Demokrat hadir di koalisi Prabowo sebenarnya sudah tidak membawa imbas menguntungkan. Untuk itu, jika Demokrat mendapat porsi besar akan mengganggu kemitraan di antara koalisi,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, Sabtu (13/4).

Baca Juga :  Hari Pertama Kampanye, Anies Baswedan akan Mulai dari Jakarta

Menurut Dedi, ketimbang Partai Demokrat, PAN masih lebih layak untuk mendapatkan jatah kursi menteri yang banyak. Mengingat, sejak awal PAN sudah konsisten mendukung Prabowo-Gibran.

“Jika bisa membandingkan, bahkan PAN jauh lebih layak mendapat tempat prioritas dibanding Demokrat. PAN adalah gerbong awal yang mengusung Prabowo, dan juga banyak kampanyekan Gibran, sementara Demokrat sebaliknya,” ujarnya.

Pengamat politik jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai tidak tepat kalau Partai Demokrat meminta jatah kursi menteri disetarakan dengan Partai Golkar maupun PAN dan parpol pengusung Prabowo-Gibran lainnya.

“Untuk itu, tentu tidak sebanding jika (Demokrat) harus disandingkan dengan Golkar, jika dengan PAN saja masih lebih unggul PAN,” pungkasnya.

Baca Juga :  Masyarakat Lokal Harus Terlibat Mengelola SDA

Sementara itu, Direktur Eksekutif Citra Institute, Yusak Farchan, salah satu variabel politik yang penting dipertimbangkan Prabowo, khususnya ketika ingin menentukan jatah kursi menteri di kabinet, adalah kekuatan partai politik di parlemen.

“Variabel jumlah suara atau kursi diperlukan karena presiden terpilih tetap membutuhkan dukungan kuat dari partai-partai di parlemen,” ujar Yusak, Sabtu (13/4).

Sehingga dengan tolok ukur tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pamulang (FISIP Unpam) itu menganggap Partai Golkar paling pantas mendapat jatah kursi paling banyak di kabinet.

“Jika menggunakan variabel ini, Golkar layak mendapatkan jatah menteri paling banyak,” tuturnya. (jpg)

PROKALTENG.CO– Partai Golkar dan PAN dinilai lebih layak mendapatkan jatah kursi menteri terbanyak di antara parpol anggota Koalisi Indonesia Maju pendukung Prabowo. Partai Demokrat memang bergabung paling belakangan ke Koalisi Indonesia Maju.

Tak heran kalau ada yang menilai kontribusi Demokrat tidak sebesar parpol pengusung lain yang sudah bekerja sejak awal, seperti Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN).

“Secara politis Golkar jelas lebih rasional mendapat lebih banyak tempat dibanding Demokrat. Bahkan Demokrat hadir di koalisi Prabowo sebenarnya sudah tidak membawa imbas menguntungkan. Untuk itu, jika Demokrat mendapat porsi besar akan mengganggu kemitraan di antara koalisi,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, Sabtu (13/4).

Baca Juga :  Hari Pertama Kampanye, Anies Baswedan akan Mulai dari Jakarta

Menurut Dedi, ketimbang Partai Demokrat, PAN masih lebih layak untuk mendapatkan jatah kursi menteri yang banyak. Mengingat, sejak awal PAN sudah konsisten mendukung Prabowo-Gibran.

“Jika bisa membandingkan, bahkan PAN jauh lebih layak mendapat tempat prioritas dibanding Demokrat. PAN adalah gerbong awal yang mengusung Prabowo, dan juga banyak kampanyekan Gibran, sementara Demokrat sebaliknya,” ujarnya.

Pengamat politik jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai tidak tepat kalau Partai Demokrat meminta jatah kursi menteri disetarakan dengan Partai Golkar maupun PAN dan parpol pengusung Prabowo-Gibran lainnya.

“Untuk itu, tentu tidak sebanding jika (Demokrat) harus disandingkan dengan Golkar, jika dengan PAN saja masih lebih unggul PAN,” pungkasnya.

Baca Juga :  Masyarakat Lokal Harus Terlibat Mengelola SDA

Sementara itu, Direktur Eksekutif Citra Institute, Yusak Farchan, salah satu variabel politik yang penting dipertimbangkan Prabowo, khususnya ketika ingin menentukan jatah kursi menteri di kabinet, adalah kekuatan partai politik di parlemen.

“Variabel jumlah suara atau kursi diperlukan karena presiden terpilih tetap membutuhkan dukungan kuat dari partai-partai di parlemen,” ujar Yusak, Sabtu (13/4).

Sehingga dengan tolok ukur tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pamulang (FISIP Unpam) itu menganggap Partai Golkar paling pantas mendapat jatah kursi paling banyak di kabinet.

“Jika menggunakan variabel ini, Golkar layak mendapatkan jatah menteri paling banyak,” tuturnya. (jpg)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru