PROKALTENG.CO – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan kembali melemah pada perdagangan Rabu (28/10). Mata uang Garuda diproyeksikan bergerak fluktuatif di rentang Rp18.150 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen dalam dan luar negeri. “Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.150 sampai Rp18.200,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Pasar saat ini menantikan konferensi pers Ketua The Fed, Kevin Warsh, terkait arah kebijakan bank sentral.
Selain itu, investor mencermati rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis Kamis untuk memantau prospek suku bunga. Investor juga bersiap menyambut pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti beban APBN akibat kenaikan harga minyak dunia. Ia menegaskan jaminan kecukupan BBM tidak otomatis membuat anggaran negara terbebas dari tekanan ekonomi.
Menurut Ibrahim, efektivitas kebijakan fiskal bergantung pada pengelolaan cadangan energi dan pengawasan penyaluran BBM bersubsidi.
Kecukupan stok berkaitan dengan ketahanan pasokan, sedangkan keberlanjutan subsidi berkaitan erat dengan kemampuan fiskal negara.
Ibrahim juga memperingatkan risiko inflasi akibat kenaikan harga pangan yang mengancam daya beli masyarakat.
Kenaikan harga komoditas pangan dapat memicu inflasi dari sisi penawaran jika terjadi gangguan distribusi atau meningkatnya biaya produksi.(jpc)
PROKALTENG.CO – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan kembali melemah pada perdagangan Rabu (28/10). Mata uang Garuda diproyeksikan bergerak fluktuatif di rentang Rp18.150 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen dalam dan luar negeri. “Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.150 sampai Rp18.200,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Pasar saat ini menantikan konferensi pers Ketua The Fed, Kevin Warsh, terkait arah kebijakan bank sentral.
Selain itu, investor mencermati rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis Kamis untuk memantau prospek suku bunga. Investor juga bersiap menyambut pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti beban APBN akibat kenaikan harga minyak dunia. Ia menegaskan jaminan kecukupan BBM tidak otomatis membuat anggaran negara terbebas dari tekanan ekonomi.
Menurut Ibrahim, efektivitas kebijakan fiskal bergantung pada pengelolaan cadangan energi dan pengawasan penyaluran BBM bersubsidi.
Kecukupan stok berkaitan dengan ketahanan pasokan, sedangkan keberlanjutan subsidi berkaitan erat dengan kemampuan fiskal negara.
Ibrahim juga memperingatkan risiko inflasi akibat kenaikan harga pangan yang mengancam daya beli masyarakat.
Kenaikan harga komoditas pangan dapat memicu inflasi dari sisi penawaran jika terjadi gangguan distribusi atau meningkatnya biaya produksi.(jpc)