Ia juga menyentil soal penentuan lokasi Kopdes yang terkadang tidak strategis dan tidak masuk akal secara bisnis.
“Jangan membangun koperasi di area yang susah dijangkau pembeli,” tambahnya.
Hal krusial lain yang ditekankan Suherman adalah perlunya pengawasan yang ketat dan transparan dalam setiap operasional Kopdes.
“Jangan sampai program ini jadi ladang korupsi dan penyerapan anggaran saja,” tegasnya.
Akademisi UPR ini juga menilai, pendampingan dari pemerintah jangan hanya berhenti pada saat seremonial pemberian modal awal.
“Dukungan yang dibutuhkan bukan sekadar tambahan dana, tetapi ekosistem bisnis yang sehat dan pendampingan berkelanjutan,” jelasnya.
Suherman berharap kritik publik ini bisa menjadi bahan evaluasi agar Kopdes tidak berujung pada program yang sia-sia.
“Kita tidak mau koperasi hanya berdiri di atas kertas. Harus dipastikan memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa, bukan manfaat untuk segelintir orang saja,” pungkasnya. (her)
Ia juga menyentil soal penentuan lokasi Kopdes yang terkadang tidak strategis dan tidak masuk akal secara bisnis.
“Jangan membangun koperasi di area yang susah dijangkau pembeli,” tambahnya.
Hal krusial lain yang ditekankan Suherman adalah perlunya pengawasan yang ketat dan transparan dalam setiap operasional Kopdes.
“Jangan sampai program ini jadi ladang korupsi dan penyerapan anggaran saja,” tegasnya.
Akademisi UPR ini juga menilai, pendampingan dari pemerintah jangan hanya berhenti pada saat seremonial pemberian modal awal.
“Dukungan yang dibutuhkan bukan sekadar tambahan dana, tetapi ekosistem bisnis yang sehat dan pendampingan berkelanjutan,” jelasnya.
Suherman berharap kritik publik ini bisa menjadi bahan evaluasi agar Kopdes tidak berujung pada program yang sia-sia.
“Kita tidak mau koperasi hanya berdiri di atas kertas. Harus dipastikan memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa, bukan manfaat untuk segelintir orang saja,” pungkasnya. (her)