PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pengamat Ekonomi Suherman Juhari mengingatkan pemerintah agar implementasi Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak hanya berorientasi pada pencapaian target pembentukan.
Menurutnya, koperasi harus dibangun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat desa agar mampu berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang.
Suherman Juhari menilai bahwa rentetan kritik itu merupakan dinamika yang tidak bisa dihindari.
“Kritik yang muncul merupakan hal yang wajar, karena program ini masih dalam tahap awal dan memang banyak kontroversial dalam implementasinya,” kata Suherman dalam keterangannya, Sabtu (18/7/2026).
Ia memperingatkan pemerintah agar pembentukan Kopdes tidak dilakukan secara serampangan hanya demi mengejar target program.
“Koperasi harus dibangun berdasarkan kebutuhan ekonomi desa, bukan sekadar memenuhi target pembentukan,” tegasnya.
Menurut Suherman, kegagalan koperasi sering kali berawal dari kesalahan fundamental dalam menunjuk jajaran pengurus.
“Pengurus koperasi harus dipilih berdasarkan kompetensi, integritas, dan kemampuan manajerial, bukan semata-mata pertimbangan kedekatan,” ingat Suherman.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya studi kelayakan usaha yang matang agar modal yang disuntikkan tidak menguap begitu saja.
“Setiap koperasi harus memiliki studi kelayakan usaha. Harus jelas siapa pasarnya dan bagaimana arus kasnya,” ucapnya.
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pengamat Ekonomi Suherman Juhari mengingatkan pemerintah agar implementasi Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak hanya berorientasi pada pencapaian target pembentukan.
Menurutnya, koperasi harus dibangun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat desa agar mampu berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang.
Suherman Juhari menilai bahwa rentetan kritik itu merupakan dinamika yang tidak bisa dihindari.
“Kritik yang muncul merupakan hal yang wajar, karena program ini masih dalam tahap awal dan memang banyak kontroversial dalam implementasinya,” kata Suherman dalam keterangannya, Sabtu (18/7/2026).
Ia memperingatkan pemerintah agar pembentukan Kopdes tidak dilakukan secara serampangan hanya demi mengejar target program.
“Koperasi harus dibangun berdasarkan kebutuhan ekonomi desa, bukan sekadar memenuhi target pembentukan,” tegasnya.
Menurut Suherman, kegagalan koperasi sering kali berawal dari kesalahan fundamental dalam menunjuk jajaran pengurus.
“Pengurus koperasi harus dipilih berdasarkan kompetensi, integritas, dan kemampuan manajerial, bukan semata-mata pertimbangan kedekatan,” ingat Suherman.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya studi kelayakan usaha yang matang agar modal yang disuntikkan tidak menguap begitu saja.
“Setiap koperasi harus memiliki studi kelayakan usaha. Harus jelas siapa pasarnya dan bagaimana arus kasnya,” ucapnya.