alexametrics
25.7 C
Palangkaraya
Saturday, August 13, 2022

Prokes Ketat, Pembelajaran Tatap Muka Diberlakukan

Pembelajaran sistem daring atau online yang sudah diberlakukan hampir setahun di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai kurang efektif dibanding pembelajaran tatap muka. Sehingga berbagai kebijakan pun diberlakunya, supaya tatap muka bisa dilakukan. Berikut ulasannya?

————- ————–

SAAT ini ratusan sekolah, baik tingkat sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Kotim sudah melaksanakan pembelajaran dengan sistem tatap muka. Kebijakan ini didukung Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Kotim H Suprianto.

“Saya dari awal memang orang yang paling tidak setuju dengan sistem pelaksanan pendidikan yang terjadi sekarang (sistem daring). Memang lebih baik masuk sekolah, tapi tentu dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan,” ujar Suprianto, Rabu (24/2).

Baca Juga :  38 Ranmor Ditilang, Pelanggar Didominasi Pekerja Swasta dan Pelajar

Menurutnya, sistem daring itu banyak kekurangannya, seperti terbatasnya kesempatan untuk menjelaskan pelajaran secara rinci kepada siswa, serta hambatan-hambatan lainnya. Kalau ini terus terjadi, dikhawatirkan akan berdampak kurang baik terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan peserta didik, karena sistem daring itu sudah sering diungkapkan masyarakat maupun pemerhati pendidikan, bahwa penerapannya kurang efektif. 

“Anak-anak justru keluyuran sehingga tugas-tugas dari guru juga tidak diselesaikan dengan baik,” ucap Suprianto. 

Politikus, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga mengatakan fenomena ini harus disikapi serius secara bersama-sama, karena kalau ini terus terjadi maka dikhawatirkan akan membuat degradasi kualitas pendidikan, moral maupun pengetahuan generasi penerus, dan terkait dengan sikap sebagian masyarakat yang menolak pembelajaran tatap muka.

Baca Juga :  Bangun Kebersamaan Membangun Kalteng

Menurut Suprianto, hal itu wajar, tetapi dia juga meyakinkan bahwa pembelajaran tatap muka bisa dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

“Apakah bisa menjamin, dengan tidak dilaksanakan sekolah tatap muka maka penularan Covid-19 tidak terjadi, jawabnya tidak. Yang namanya virus itu, perilakunya akan terus begitu, setidaknya sampai vaksinasi terlaksana secara maksimal,” jelasnya.

Dirinya juga menegaskan bahwa penerapan pembelajaran tatap muka bukan berarti mengabaikan ancaman penularan Covid-19. Tetapi potensi penularan virus itu bisa ditekan dan dicegah dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat dengan menerapkan 3 M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak. 

Pembelajaran sistem daring atau online yang sudah diberlakukan hampir setahun di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai kurang efektif dibanding pembelajaran tatap muka. Sehingga berbagai kebijakan pun diberlakunya, supaya tatap muka bisa dilakukan. Berikut ulasannya?

————- ————–

SAAT ini ratusan sekolah, baik tingkat sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Kotim sudah melaksanakan pembelajaran dengan sistem tatap muka. Kebijakan ini didukung Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Kotim H Suprianto.

“Saya dari awal memang orang yang paling tidak setuju dengan sistem pelaksanan pendidikan yang terjadi sekarang (sistem daring). Memang lebih baik masuk sekolah, tapi tentu dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan,” ujar Suprianto, Rabu (24/2).

Baca Juga :  Bupati: Tetap Patuh dan Disiplin Prokes

Menurutnya, sistem daring itu banyak kekurangannya, seperti terbatasnya kesempatan untuk menjelaskan pelajaran secara rinci kepada siswa, serta hambatan-hambatan lainnya. Kalau ini terus terjadi, dikhawatirkan akan berdampak kurang baik terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan peserta didik, karena sistem daring itu sudah sering diungkapkan masyarakat maupun pemerhati pendidikan, bahwa penerapannya kurang efektif. 

“Anak-anak justru keluyuran sehingga tugas-tugas dari guru juga tidak diselesaikan dengan baik,” ucap Suprianto. 

Politikus, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga mengatakan fenomena ini harus disikapi serius secara bersama-sama, karena kalau ini terus terjadi maka dikhawatirkan akan membuat degradasi kualitas pendidikan, moral maupun pengetahuan generasi penerus, dan terkait dengan sikap sebagian masyarakat yang menolak pembelajaran tatap muka.

Baca Juga :  Dewan Soroti Beberapa Program Pemkab

Menurut Suprianto, hal itu wajar, tetapi dia juga meyakinkan bahwa pembelajaran tatap muka bisa dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

“Apakah bisa menjamin, dengan tidak dilaksanakan sekolah tatap muka maka penularan Covid-19 tidak terjadi, jawabnya tidak. Yang namanya virus itu, perilakunya akan terus begitu, setidaknya sampai vaksinasi terlaksana secara maksimal,” jelasnya.

Dirinya juga menegaskan bahwa penerapan pembelajaran tatap muka bukan berarti mengabaikan ancaman penularan Covid-19. Tetapi potensi penularan virus itu bisa ditekan dan dicegah dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat dengan menerapkan 3 M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak. 

Most Read

Artikel Terbaru

/