PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –Lomba Lawang Sakepeng dalam rangka Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 yang digelar beberapa waktu lalu bukan sekadar ajang pertunjukan seni tradisi.
Di balik atraksi yang ditampilkan puluhan peserta, tersimpan upaya menjaga identitas budaya Dayak agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Pengamat budaya Kalimantan Tengah (Kalteng) Wilbertus Wilson menilai, Lawang Sakepeng memiliki makna penting sebagai simbol penghormatan masyarakat Dayak terhadap tamu sekaligus bagian dari warisan budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi muda.
“Budaya seperti ini penting terus diperkenalkan kepada generasi muda karena tidak hanya mengandung unsur seni, tetapi juga nilai disiplin, sportivitas, hingga pembentukan karakter,” ujarnya pada Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, keberadaan lomba budaya di FBIM menjadi ruang penting untuk mempertahankan identitas daerah.
Terlebih saat ini generasi muda semakin akrab dengan budaya luar melalui media sosial dan perkembangan teknologi digital.
“Kalau tidak terus dikenalkan, dikhawatirkan generasi muda perlahan akan jauh dari akar budayanya sendiri. FBIM menjadi salah satu cara efektif agar budaya Dayak tetap dikenal dan dicintai masyarakat,” katanya.
Dalam pelaksanaan lomba Lawang Sakepeng tahun ini, sebanyak 20 regu dari berbagai kabupaten dan kota di Kalteng ambil bagian.
Terdiri dari 13 tim putra dan 7 tim putri, para peserta tampil penuh semangat dengan membawa ciri khas daerah masing-masing.
Atraksi yang juga dikenal sebagai Kuntau Dayak tersebut sejak lama menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat Dayak Ngaju.
Biasanya, Lawang Sakepeng ditampilkan saat penyambutan tamu kehormatan maupun prosesi perkawinan adat.
Bentuk gapura adat yang digunakan pun sarat filosofi. Terbuat dari kayu dan dihiasi ornamen khas Dayak seperti ukiran tanaman rambat, burung enggang, janur, hingga talawang, Lawang Sakepeng melambangkan penghormatan kepada tamu serta harapan agar sebuah acara berlangsung aman dan penuh berkah.
Wilbertus menambahkan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumentasi, tetapi harus terus dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, keterlibatan generasi muda dalam lomba budaya menjadi hal positif.
“Ketika anak-anak muda ikut tampil dan memahami makna setiap gerakan, maka budaya itu tidak hanya dipertontonkan, tetapi benar-benar diwariskan,” tandasnya. (jef)


