29 C
Jakarta
Wednesday, March 25, 2026

Memasuki Periode Mudik Lebaran! Tarif Bus dan Travel di Lamandau Naik Serempak, Ini Alasannya

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Memasuki periode arus mudik Lebaran, tarif angkutan umum di Kabupaten Lamandau terpantau mengalami kenaikan serempak. Kenaikan ongkos ini berlaku baik untuk moda transportasi bus maupun travel di semua rute layanan, yang disinyalir sudah mulai terjadi sejak sepekan terakhir.

Berdasarkan hasil survei di lapangan. Dua operator bus besar yang melayani trayek antarkota rata-rata menaikkan tarif sebesar Rp25.000 hingga Rp30.000 per rute dari harga normal. Untuk diketahui, armada bus di Lamandau umumnya melayani rute strategis. Seperti Nanga Bulik – Sampit – Palangka Raya.

Salah satu operator bus di Kabupaten Lamandau mengungkapkan bahwa penyesuaian harga ini merupakan hal yang lumrah terjadi setiap tahunnya saat memasuki musim mudik.

Baca Juga :  Audiensi Ditjenpas-Kemenkum Kalteng, Hibah Tanah dan Bangunan di Seruyan, Kapuas, Bartim Dibahas

“Karena mendekati Lebaran, arus mudik dan arus balik ini memang ada kenaikan harga,” ujar salah satu operator bus saat diwawancarai wartawan pada Selasa (17/3).

Pihak pengelola bus juga mengakui adanya peningkatan volume penumpang yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. “Setiap hari kursi penumpang selalu penuh (full),” tambahnya.

Kondisi serupa juga terjadi pada jasa travel. Jumbri, salah seorang sopir travel yang melayani rute Pangkalan Bun – Nanga Bulik (PP), mengaku terpaksa menaikkan tarif sebesar Rp30.000 dari harga biasanya.

Berbeda dengan bus yang dipicu oleh momentum Lebaran, Jumbri menyebut faktor utama kenaikan tarif travelnya adalah melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM).

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Masa Jabatan Belum Berakhir, Pj Bupati Barito Timur Didesak Kembalikan Mobil Dinas

“Saya terpaksa menaikkan harga, bukan hanya karena arus mudik, tapi memang karena harga BBM sekarang naik. Mobil saya menggunakan Pertamax, jadi ada kenaikan biaya operasional,” jelas Jumbri.

Ia pun berharap kondisi ekonomi global segera membaik agar beban operasional sopir angkutan tidak semakin berat. “Semoga perang cepat usai dan harga minyak bisa turun lagi,” harapnya.

Kenaikan ini menunjukkan dua sisi fenomena: tingginya demand (permintaan) dari pemudik dan tekanan biaya operasional akibat harga BBM nonsubsidi. Bagi masyarakat yang ingin mudik, disarankan untuk memesan tiket lebih awal mengingat ketersediaan kursi yang mulai terbatas. (bib)

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Memasuki periode arus mudik Lebaran, tarif angkutan umum di Kabupaten Lamandau terpantau mengalami kenaikan serempak. Kenaikan ongkos ini berlaku baik untuk moda transportasi bus maupun travel di semua rute layanan, yang disinyalir sudah mulai terjadi sejak sepekan terakhir.

Berdasarkan hasil survei di lapangan. Dua operator bus besar yang melayani trayek antarkota rata-rata menaikkan tarif sebesar Rp25.000 hingga Rp30.000 per rute dari harga normal. Untuk diketahui, armada bus di Lamandau umumnya melayani rute strategis. Seperti Nanga Bulik – Sampit – Palangka Raya.

Salah satu operator bus di Kabupaten Lamandau mengungkapkan bahwa penyesuaian harga ini merupakan hal yang lumrah terjadi setiap tahunnya saat memasuki musim mudik.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Audiensi Ditjenpas-Kemenkum Kalteng, Hibah Tanah dan Bangunan di Seruyan, Kapuas, Bartim Dibahas

“Karena mendekati Lebaran, arus mudik dan arus balik ini memang ada kenaikan harga,” ujar salah satu operator bus saat diwawancarai wartawan pada Selasa (17/3).

Pihak pengelola bus juga mengakui adanya peningkatan volume penumpang yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. “Setiap hari kursi penumpang selalu penuh (full),” tambahnya.

Kondisi serupa juga terjadi pada jasa travel. Jumbri, salah seorang sopir travel yang melayani rute Pangkalan Bun – Nanga Bulik (PP), mengaku terpaksa menaikkan tarif sebesar Rp30.000 dari harga biasanya.

Berbeda dengan bus yang dipicu oleh momentum Lebaran, Jumbri menyebut faktor utama kenaikan tarif travelnya adalah melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM).

Baca Juga :  Masa Jabatan Belum Berakhir, Pj Bupati Barito Timur Didesak Kembalikan Mobil Dinas

“Saya terpaksa menaikkan harga, bukan hanya karena arus mudik, tapi memang karena harga BBM sekarang naik. Mobil saya menggunakan Pertamax, jadi ada kenaikan biaya operasional,” jelas Jumbri.

Ia pun berharap kondisi ekonomi global segera membaik agar beban operasional sopir angkutan tidak semakin berat. “Semoga perang cepat usai dan harga minyak bisa turun lagi,” harapnya.

Kenaikan ini menunjukkan dua sisi fenomena: tingginya demand (permintaan) dari pemudik dan tekanan biaya operasional akibat harga BBM nonsubsidi. Bagi masyarakat yang ingin mudik, disarankan untuk memesan tiket lebih awal mengingat ketersediaan kursi yang mulai terbatas. (bib)

Terpopuler

Artikel Terbaru