Elpiji Non Subsidi Melonjak di Lamandau, Warga dan UMKM Menjerit

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Harga elpiji non-subsidi jenis Bright Gas di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, mengalami kenaikan cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan harga tersebut mulai dikeluhkan warga dan pelaku UMKM karena dinilai makin membebani kebutuhan rumah tangga dan biaya usaha.

Kenaikan paling terasa terjadi pada tabung Bright Gas 5,5 kilogram dan 12 kilogram. Kondisi itu membuat pelaku usaha kecil di Nanga Bulik mulai kesulitan menekan biaya produksi di tengah naiknya harga bahan pokok dan BBM non-subsidi.

Berdasarkan pantauan di lapangan, harga Bright Gas 5,5 kilogram naik sebesar Rp17 ribu per tabung. Sementara Bright Gas 12 kilogram mengalami kenaikan hingga Rp35 ribu per tabung.

Baca Juga :  Uji Sampel Probable Omicron dari Palangka Raya Belum Ada Hasilnya

Kondisi tersebut langsung berdampak pada pengeluaran masyarakat. Apalagi kenaikan harga elpiji terjadi bersamaan dengan merangkaknya harga kebutuhan pokok dan biaya operasional lainnya.

Gatot, warga Nanga Bulik yang menggunakan elpiji non-subsidi untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus usaha kecilnya, mengaku keberatan dengan kenaikan tersebut.

“Kami sangat keberatan. Kenaikannya cukup besar dan langsung terasa, apalagi bagi kami yang bergantung pada gas untuk usaha kecil maupun kebutuhan rumah tangga,” ujar Gatot saat dibincangi, Jumat (15/5).

Menurut dia, kenaikan harga elpiji membuat biaya usaha semakin membengkak, sementara kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya stabil.

Electronic money exchangers listing

Keluhan serupa juga disampaikan salah seorang pemilik warung makan di Nanga Bulik. Dia mengaku kini berada dalam posisi sulit karena harus memilih menaikkan harga makanan atau menanggung sendiri kenaikan biaya produksi.

Baca Juga :  Polisi Ingatkan Risiko Fatal Sepeda Listrik untuk Anak di Jalan Umum

“Kalau harga terus naik, kami terpaksa menaikkan harga makanan. Tapi kalau dinaikkan, takut pelanggan berkurang. Gas naik, bahan baku naik, plastik kemasan juga ikut naik,” keluhnya.

Pelaku UMKM menjadi kelompok yang paling terdampak akibat kenaikan harga elpiji non-subsidi tersebut karena gas menjadi kebutuhan utama untuk menjalankan usaha sehari-hari.

Masyarakat berharap ada perhatian dari pihak terkait agar harga kebutuhan pokok dan energi kembali stabil sehingga ekonomi warga, terutama pelaku usaha kecil, tidak semakin tertekan. (bib)

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Harga elpiji non-subsidi jenis Bright Gas di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, mengalami kenaikan cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan harga tersebut mulai dikeluhkan warga dan pelaku UMKM karena dinilai makin membebani kebutuhan rumah tangga dan biaya usaha.

Kenaikan paling terasa terjadi pada tabung Bright Gas 5,5 kilogram dan 12 kilogram. Kondisi itu membuat pelaku usaha kecil di Nanga Bulik mulai kesulitan menekan biaya produksi di tengah naiknya harga bahan pokok dan BBM non-subsidi.

Berdasarkan pantauan di lapangan, harga Bright Gas 5,5 kilogram naik sebesar Rp17 ribu per tabung. Sementara Bright Gas 12 kilogram mengalami kenaikan hingga Rp35 ribu per tabung.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Uji Sampel Probable Omicron dari Palangka Raya Belum Ada Hasilnya

Kondisi tersebut langsung berdampak pada pengeluaran masyarakat. Apalagi kenaikan harga elpiji terjadi bersamaan dengan merangkaknya harga kebutuhan pokok dan biaya operasional lainnya.

Gatot, warga Nanga Bulik yang menggunakan elpiji non-subsidi untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus usaha kecilnya, mengaku keberatan dengan kenaikan tersebut.

“Kami sangat keberatan. Kenaikannya cukup besar dan langsung terasa, apalagi bagi kami yang bergantung pada gas untuk usaha kecil maupun kebutuhan rumah tangga,” ujar Gatot saat dibincangi, Jumat (15/5).

Menurut dia, kenaikan harga elpiji membuat biaya usaha semakin membengkak, sementara kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya stabil.

Keluhan serupa juga disampaikan salah seorang pemilik warung makan di Nanga Bulik. Dia mengaku kini berada dalam posisi sulit karena harus memilih menaikkan harga makanan atau menanggung sendiri kenaikan biaya produksi.

Baca Juga :  Polisi Ingatkan Risiko Fatal Sepeda Listrik untuk Anak di Jalan Umum

“Kalau harga terus naik, kami terpaksa menaikkan harga makanan. Tapi kalau dinaikkan, takut pelanggan berkurang. Gas naik, bahan baku naik, plastik kemasan juga ikut naik,” keluhnya.

Pelaku UMKM menjadi kelompok yang paling terdampak akibat kenaikan harga elpiji non-subsidi tersebut karena gas menjadi kebutuhan utama untuk menjalankan usaha sehari-hari.

Masyarakat berharap ada perhatian dari pihak terkait agar harga kebutuhan pokok dan energi kembali stabil sehingga ekonomi warga, terutama pelaku usaha kecil, tidak semakin tertekan. (bib)

Terpopuler

Artikel Terbaru