PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO — Bayangkan berada di dalam rumah yang terasa semakin panas dan sumpek, sementara melangkah keluar pun terhalang pekatnya kabut asap yang menyelimuti kota. Itulah yang kini dirasakan warga Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pemadaman listrik bergilir yang telah berlangsung sejak Mei 2026 hingga kini masih terus berlanjut, membiarkan warga terjepit di antara dua kesulitan. Ya, tak nyaman berada di dalam rumah, namun juga tak aman jika melangkah keluar.
Pemadaman listrik yang berlangsung bergilir ini mematikan aliran daya ke rumah-rumah warga tanpa kepastian waktu yang jelas. Kipas angin tak berputar, ruangan terasa pengap dan panas, sementara televisi maupun perangkat elektronik lain tak bisa dinyalakan. Aktivitas menjadi terhenti, kenyamanan hilang, dan waktu luang pun terasa membosankan.
Belum lagi, kondisi ini berlangsung tepat di tengah pekatnya kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda wilayah tersebut. Biasanya, warga yang merasa gerah dan pengap di rumah dapat melangkahkan kaki keluar mencari udara segar atau sekadar berangin di halaman. Namun kini, keinginan itu terpaksa tertahan. Sebab, udara di luar justru berasap dan tak sehat untuk dihirup.
Warga seakan terperangkap. Pasalnya di dalam rumah panas, di luar rumah berbahaya. Muhammad Rifqi (24), seorang warga Palangka Raya menceritakan betapa beratnya menjalani hari-hari dalam situasi serba terbatas ini. Selama berbulan-bulan sejak Mei lalu, ia dan keluarga harus berulang kali menyesuaikan diri dengan aliran listrik yang datang dan pergi tanpa kepastian.
“Kalau di rumah, kipas angin mati, TV tidak bisa, dan itu berdampak juga ke pekerjaan. Terus, tidak ada kenyamanan dalam di rumah,” keluh Rifqi kepada awak media, Senin (14/9/2026).
Rasa bosan dan gerah memuncak. Ketika keinginan untuk keluar rumah muncul demi mencari udara segar, pandangan mata tertuju pada langit yang kelabu. Kabut asap masih tebal menyelimuti, membuat langkah pun terpaksa urung dilakukan.
“Biasanya orang mau keluar untuk cari angin karena bosan di rumah. Tapi melihat kondisi sekarang di luar lagi kabut asap. Mau di rumah juga sudah panas, bosan lagi,” ungkapnya dengan nada putus asa.
Kesulitan tak berhenti pada suhu udara dan kualitas udara saja. Tanpa adanya kipas angin yang berputar, nyamuk-nyamuk pun berlarian dengan bebas di dalam rumah. Bagi warga yang memiliki pepohonan atau tanaman di sekitar tempat tinggal, gangguan ini terasa semakin menyiksa. Rumah yang panas, udara luar yang berasap, ditambah serangan nyamuk, tentu menjadikan keseharian warga terasa semakin berat dan tak tertahankan.
“Kalau yang punya tanaman di rumah, bakal banyak nyamuk karena nggak ada kipas angin. Mau keluar juga kabut asap. Jadi kita ini enggak bisa ngapa-ngapain,” tuturnya.
Rifqi menegaskan, pemadaman listrik bergilir yang terus berlanjut di tengah bencana Karhutla ini menempatkan warga dalam situasi yang benar-benar sulit. Tak ada pilihan yang nyaman. Bertahan di dalam rumah terasa panas dan membosankan, sementara melangkah keluar pun terhalang kualitas udara yang buruk.
Untuk itu, warga berharap, pihak terkait segera mencari jalan keluar. Bukan sekadar menjaga aliran listrik tetap menyala, melainkan juga memadukannya dengan penanganan kabut asap secara menyeluruh. Hal ini agar warga tak terus terjepit di antara dua kesulitan yang sama-sama menyengat. (mg_3)


