NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Fenomena bunuh diri yang kian marak dalam beberapa tahun terakhir menjadi alarm keras bagi masyarakat. Berbagai faktor mulai dari asmara, tekanan ekonomi, hingga penyakit kronis ditengarai menjadi pemicu utama tindakan nekat tersebut.
Menanggapi fenomena ini, Mery Hermawati, CH., CHt., CPHt., hipnoterapis asal Kabupaten Lamandau mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi kesehatan mental masyarakat saat ini, terutama di kalangan remaja.
“Klien yang datang ke saya rata-rata sudah berada di fase berpikir untuk mengakhiri hidup (bundir),” ungkap Mery kepada wartawan, Jumat (13/2).
Menurut Mery, dalam pandangan hipnoterapi, bunuh diri bukanlah keputusan yang diambil dengan kesadaran jernih. Hal itu terjadi ketika seseorang berada di bawah tekanan emosi yang sangat hebat, di mana pikiran bawah sadar mendominasi pikiran rasional.
“Cara berpikir menjadi sempit, dipenuhi rasa putus asa, dan keyakinan keliru bahwa dirinya tidak berharga. Adanya surat wasiat bukan tanda mental yang sehat, melainkan bukti adanya konflik batin yang sangat dalam,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya menyikapi kejadian seperti ini dengan empati, tanpa menghakimi namun juga tidak membenarkan tindakan tersebut.
Sebagai langkah pencegahan, Mery memaparkan beberapa indikasi seseorang yang memiliki kecenderungan bunuh diri.
“Sering merasa gagal, tidak berguna, dan merasa hidup sia-sia. Merasa hampa, cemas berlebih, mudah tersinggung, serta kesedihan yang mendalam, merasa lelah sepanjang hari, sulit tidur (insomnia), kehilangan selera makan, hingga nyeri tubuh tanpa penyebab medis yang jelas,” tuturnya.
Mery mengingatkan masyarakat untuk bertindak cepat jika menemukan orang terdekat dengan ciri-ciri di atas.
Upaya yang bisa dilakukan adalah mendampingi dengan kasih sayang, menunjukkan perhatian, dan menyarankan bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, atau hipnoterapis.
“Yang tidak boleh dilakukan adalah berdebat, membandingkan masalah, atau menghakimi dengan menyebut mereka ‘kurang beriman’. Itu justru akan memperburuk keadaan,” tegas Mery.
Di akhir penjelasannya, ia membagikan tips praktis untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan zaman.
“Sadari bahwa tidak semua hal harus dikendalikan atau diberi reaksi, luangkan waktu untuk diri sendiri, istirahat cukup, dan cintai diri sendiri, batasi penggunaan gadget karena media sosial sering menjadi pemicu kecemasan dan terus belajar hal-hal positif untuk pengembangan diri,” bebernya.
Ia berharap pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat dapat bersinergi melakukan edukasi masif guna mencegah jatuhnya korban lebih lanjut akibat masalah kesehatan mental. (bib)


