PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Universitas Palangka Raya (UPR) secara resmi menyambut 3.542 intelek muda angkatan 2026 dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Rektor UPR, Prof. Salampak, menekankan pentingnya kemandirian, pembentukan karakter, serta kewaspadaan terhadap rekam jejak digital di era modern. Tahun ini, UPR menerima sekitar 500 mahasiswa yang berasal dari 28 provinsi di luar wilayah Kalimantan Tengah.
Menyambut ribuan mahasiswa dari berbagai daerah tersebut, Prof. Salampak mengingatkan adanya perubahan tanggung jawab yang signifikan saat memasuki dunia perguruan tinggi.
“Kemarin anak-anak semua menyandang status siswa dan hari ini sudah menyandang status mahasiswa. Ada perbedaan besar, mahasiswa lebih banyak belajar tentang penalaran dan bagaimana mengembangkan diri. Pengajar hanya memberikan motivasi, selebihnya kalian dituntut untuk mandiri,” ujar Prof. Salampak dalam sambutannya, Senin (10/8/2026).
Hal tersebut sejalan dengan moto kampus UPR, yakni mencetak generasi yang (Unggul dan Berkarakter). Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa selain cerdas secara akademik, mahasiswa harus memiliki jati diri bangsa yang kuat.
“Di kampus, kita belajar bagaimana cara berpikir, memandang suatu masalah, membangun integritas, melatih kepemimpinan, dan menemukan jati diri. Selain menjadi orang-orang yang unggul dan mampu bersaing, kita harus punya integritas sebagai bangsa Indonesia dalam bingkai NKRI,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Prof. Salampak juga memberikan peringatan keras kepada mahasiswa baru untuk menjauhi berbagai ancaman yang kerap merusak masa depan generasi muda.
“Perguruan tinggi memiliki masalah utama yang sering disebut tiga dosa besar, yaitu perundungan, radikalisme, dan kekerasan seksual. Ditambah lagi dengan bahaya narkoba, judi daring, serta pinjaman daring. Jangan sampai terpengaruh hal-hal tersebut agar cita-cita kalian tercapai,” tegasnya.
Di era keterbukaan informasi, perhatian khusus diarahkan pada etika bermedia sosial dan rekam jejak digital (digital footprint). Rektor mengingatkan bahwa rekam jejak di dunia maya kini menjadi salah satu penilaian utama rekrutmen di dunia kerja.
“Hati-hati menggunakan jari tangan, karena medsos itu indah kelihatannya tetapi di situ ada bahaya ancamannya. Ketika kita memposting apa pun yang merendahkan orang lain, dunia akan tahu siapa kita. Perusahaan kini melihat rekam jejak itu saat merekrut,” ucap Prof. Salampak.
Bahkan, ia menyebutkan bahwa interaksi pasif di media sosial pun perlu dijaga.
“Tidak hanya menulis postingan, sekadar me-like postingan orang yang bersifat provokatif, negatif, atau radikal itu juga berbahaya. Gunakan nalar dan ilmu, jangan cepat bereaksi tetapi pelajari dulu faktanya. Itulah ciri orang akademik,” imbuhnya.
Menyongsong visi Indonesia Emas 2045, mahasiswa yang kini rata-rata berusia 19 tahun dipersiapkan menjadi tenaga kerja utama penggerak bangsa dalam dua dekade ke depan. Prof. Salampak mengingatkan bahwa mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi saja tidak akan cukup untuk menghadapi persaingan global.
“Kompetisi di dunia kerja tidak hanya bagi mereka yang pintar, tetapi bagi orang yang siap. Kalau kita melihat Korea Selatan, indeks prestasi ternyata tidak lagi menjadi ukuran utama penerimaan tenaga kerja, melainkan skill yang dimiliki. Kembangkan hard skill dan perbanyak soft skill seperti kemampuan berkomunikasi,” paparnya.
Menutup arahannya, Rektor UPR memberikan pesan optimis bagi para mahasiswa baru untuk memulai perjalanan panjang mereka di bangku perkuliahan.
“Dua puluh tahun lagi kita memasuki era Indonesia Emas, dan saat itu kalianlah yang akan menjadi tenaga kerja utamanya. Siapkan diri dari sekarang, jangan terlena. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, bangun persahabatan, dan beranilah bermimpi besar,” pungkasnya. (her)


