25.5 C
Jakarta
Monday, February 16, 2026

Psikolog Ungkap Fenomena Gantung Diri, Dipicu Hasil Tekanan Hidup Berkepanjangan

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena kasus gantung diri yang terjadi di Kota Palangka Raya beberapa waktu lalu mendapat perhatian dari kalangan psikolog. Peristiwa tersebut dinilai tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi tekanan psikologis yang berlangsung dalam waktu lama.

Psikolog, Rensi menjelaskan tindakan gantung diri umumnya dipicu oleh beban hidup yang terus menumpuk tanpa adanya saluran dukungan yang memadai.

“Secara psikologis, peristiwa gantung diri biasanya tidak terjadi secara mendadak. Umumnya merupakan hasil dari tekanan hidup berkepanjangan. Seperti masalah ekonomi, pekerjaan, hubungan sosial, maupun rasa kesepian yang tidak tersalurkan,” ujarnya pada Selasa (6/1/2026).

Ia menerangkan, dalam kondisi tertentu seseorang bisa merasa sangat tertekan, tidak berdaya, serta kehilangan harapan, seolah-olah tidak ada lagi jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Ketika kondisi tersebut berlangsung lama dan tidak mendapat dukungan, pola pikir seseorang menjadi semakin sempit dan sulit melihat alternatif solusi.

Baca Juga :  Ujian SIM Tidak Menyulitkan seperti yang Banyak orang Bayangkan

“Banyak dari mereka sebenarnya bukan ingin mengakhiri hidup, tetapi ingin mengakhiri rasa sakit dan beban psikologis yang dirasa sudah terlalu berat. Namun karena tidak mampu mengungkapkan perasaan atau meminta pertolongan, akhirnya memilih cara yang salah,” jelas Rensi.

Menurutnya, fenomena ini menjadi pengingat pentingnya peran lingkungan sekitar dalam pencegahan. Tanda-tanda awal seperti menarik diri dari pergaulan, jarang berinteraksi, perubahan emosi drastis, atau terlihat sangat tertekan tidak boleh diabaikan.

“Dukungan keluarga, tetangga, dan masyarakat sangat berperan. Kepedulian sederhana seperti mendengarkan, mengajak berbicara, atau mengarahkan ke bantuan profesional bisa mencegah terjadinya peristiwa serupa,” tegasnya.

Electronic money exchangers listing

Rensi juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu mencari bantuan psikologis ketika merasa kewalahan menghadapi tekanan hidup. Menurutnya, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan membutuhkan perhatian bersama. (jef)

Baca Juga :  Dr Dadi: Penggunaan Dana DAK BOKB Harus Berdampak pada Penurunan Stunting

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena kasus gantung diri yang terjadi di Kota Palangka Raya beberapa waktu lalu mendapat perhatian dari kalangan psikolog. Peristiwa tersebut dinilai tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi tekanan psikologis yang berlangsung dalam waktu lama.

Psikolog, Rensi menjelaskan tindakan gantung diri umumnya dipicu oleh beban hidup yang terus menumpuk tanpa adanya saluran dukungan yang memadai.

“Secara psikologis, peristiwa gantung diri biasanya tidak terjadi secara mendadak. Umumnya merupakan hasil dari tekanan hidup berkepanjangan. Seperti masalah ekonomi, pekerjaan, hubungan sosial, maupun rasa kesepian yang tidak tersalurkan,” ujarnya pada Selasa (6/1/2026).

Electronic money exchangers listing

Ia menerangkan, dalam kondisi tertentu seseorang bisa merasa sangat tertekan, tidak berdaya, serta kehilangan harapan, seolah-olah tidak ada lagi jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Ketika kondisi tersebut berlangsung lama dan tidak mendapat dukungan, pola pikir seseorang menjadi semakin sempit dan sulit melihat alternatif solusi.

Baca Juga :  Ujian SIM Tidak Menyulitkan seperti yang Banyak orang Bayangkan

“Banyak dari mereka sebenarnya bukan ingin mengakhiri hidup, tetapi ingin mengakhiri rasa sakit dan beban psikologis yang dirasa sudah terlalu berat. Namun karena tidak mampu mengungkapkan perasaan atau meminta pertolongan, akhirnya memilih cara yang salah,” jelas Rensi.

Menurutnya, fenomena ini menjadi pengingat pentingnya peran lingkungan sekitar dalam pencegahan. Tanda-tanda awal seperti menarik diri dari pergaulan, jarang berinteraksi, perubahan emosi drastis, atau terlihat sangat tertekan tidak boleh diabaikan.

“Dukungan keluarga, tetangga, dan masyarakat sangat berperan. Kepedulian sederhana seperti mendengarkan, mengajak berbicara, atau mengarahkan ke bantuan profesional bisa mencegah terjadinya peristiwa serupa,” tegasnya.

Rensi juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu mencari bantuan psikologis ketika merasa kewalahan menghadapi tekanan hidup. Menurutnya, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan membutuhkan perhatian bersama. (jef)

Baca Juga :  Dr Dadi: Penggunaan Dana DAK BOKB Harus Berdampak pada Penurunan Stunting

Terpopuler

Artikel Terbaru