NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah melalap area persawahan seluas kurang lebih 5 hektar di Desa Batu Kotam, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, Jumat (2/10/2026).
Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) harus berjibaku secara marathon sejak siang hingga malam hari untuk mengendalikan kobaran api yang membakar vegetasi gambut dan semak belukar di kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau, operasi pemadaman dimulai usai tim TRC menerima informasi pada pukul 13.40 WIB.
Personel gabungan baru kembali ke pos pemadaman sekitar pukul 22.00 WIB setelah berjuang menembus medan lahan gambut yang membara.
Operasi pemadaman ini mengerahkan personel dari berbagai unsur, antara lain BPBD Kabupaten Lamandau, Polres Lamandau, TNI, Brimob, Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Batu Kotam, Tagana, Polsek Bulik, serta masyarakat setempat.
Kebakaran yang melalap vegetasi lahan dan semak belukar di kawasan persawahan hingga area sekitar Simpang SMPN Batu Kotam tersebut dikategorikan sebagai tipe kebakaran permukaan di tanah gambut.
Penyebab kebakaran diduga kuat berasal dari aktivitas pembakaran sampah yang meluas.
Dalam penyisiran dan pemadaman, petugas mengandalkan armada air berupa 3 unit truk tangki BPBD dan 1 unit truk tangki Kodim Lamandau, didukung mobil operasional, mobil pikap, serta unit slip on. Sarana pendukung seperti 47 roll selang, mesin apung, nozzle, hingga pemantauan udara menggunakan drone turut dikerahkan untuk memaksimalkan proses penanganan.
Hingga Jumat malam, tim berhasil melakukan pemadaman dan lokalisasi (blocking) area terpapar seluas kurang lebih 5 hektar. Meski demikian, kondisi api dilaporkan belum sepenuhnya padam total akibat karakteristik lahan gambut dan terkendala oleh jarak sumber air yang cukup jauh dari titik api.
Saat dikonfirmasi, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lamandau, Hendikel, menjelaskan bahwa api berawal dari pembakaran sampah yang tidak diawasi hingga akhirnya meluas ke area persawahan warga.
“Penyebab kebakaran dipicu oleh pembakaran sampah. Api cepat merambat karena vegetasi semak belukar di atas tanah gambut sangat kering,” ujar Hendikel saat memberikan keterangan.


