30.7 C
Jakarta
Saturday, February 14, 2026

IHSG Ambruk Tajam, BEI Kalteng Sebut Isu Transparansi Jadi Alarm Pasar

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir menjadi alarm serius bagi pasar modal Indonesia. Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Tengah (Kalteng) menilai tekanan tersebut dipicu sentimen negatif global, terutama setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti isu transparansi sistem perdagangan saham nasional.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Kalteng, S. Cahyo Adiraja, mengatakan penilaian MSCI terkait transparansi pasar, khususnya soal perhitungan saham publik atau free float, langsung memengaruhi persepsi investor asing terhadap pasar Indonesia.

“MSCI itu bisa dibilang reviewer pasar modal global. Ketika mereka menilai sistem perdagangan kita kurang transparan, investor asing otomatis berpikir ulang. Karena MSCI jadi acuan fund manager internasional, sentimen ini langsung memicu aksi jual,” ujar Cahyo saat ditemui wartawan Prokalteng di Kantor IDX Kalteng, Selasa (3/1/26).

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Menurun, Kini RS Doris Sylvanus Mulai Lengang

Cahyo menjelaskan, tekanan IHSG tidak hanya berasal dari dana asing yang keluar, tetapi juga diperparah kepanikan investor domestik. Kekhawatiran terjadinya capital outflow membuat investor lokal ikut melepas sahamnya, menciptakan efek domino di pasar.

“Dalam dua hari, koreksi mencapai sekitar 18 persen. Kondisi ini makin dalam karena transaksi margin. Investor yang tidak mampu menambah jaminan akhirnya terkena forced sell,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sorotan utama MSCI tertuju pada besaran free float saham publik yang saat ini tercatat sekitar 7 persen. Angka tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kepemilikan publik karena masih bercampur dengan kepemilikan afiliasi atau pengendali.

Merespons hal tersebut, BEI bersama otoritas pasar modal kini mempercepat agenda reformasi integritas pasar. Salah satu poin krusial adalah kewajiban pengungkapan identitas pemilik saham mulai dari kepemilikan 1 persen, yang sebelumnya baru diwajibkan di atas 5 persen.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  MENGERIKAN! Mobil Oleng Tabrak Lapak Kue, 2 Orang Ibu-Ibu dan Seorang Anak Terkapar

“Dengan aturan ini, publik bisa tahu siapa pemilik saham di balik emiten. Transparansi diharapkan pulih, kepercayaan pasar kembali, dan Indonesia bisa masuk lagi dalam perhitungan indeks MSCI,” jelas Cahyo.

Isu transparansi ini juga berdampak ke internal BEI pusat. Cahyo menyebut, muncul informasi adanya pengunduran diri salah satu jajaran direksi sebagai bentuk tanggung jawab moral atas polemik yang disoroti MSCI.

Meski pasar tengah bergejolak, Cahyo menilai kondisi ini justru membuka peluang bagi investor jangka panjang yang memiliki likuiditas.

“Kalau untuk jangka panjang, ini momentum. Saham bagus sedang murah. Tidak perlu panik, selama punya dana tunai, koreksi seperti ini bisa dimanfaatkan untuk masuk ke portofolio,” pungkasnya. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir menjadi alarm serius bagi pasar modal Indonesia. Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Tengah (Kalteng) menilai tekanan tersebut dipicu sentimen negatif global, terutama setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti isu transparansi sistem perdagangan saham nasional.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Kalteng, S. Cahyo Adiraja, mengatakan penilaian MSCI terkait transparansi pasar, khususnya soal perhitungan saham publik atau free float, langsung memengaruhi persepsi investor asing terhadap pasar Indonesia.

“MSCI itu bisa dibilang reviewer pasar modal global. Ketika mereka menilai sistem perdagangan kita kurang transparan, investor asing otomatis berpikir ulang. Karena MSCI jadi acuan fund manager internasional, sentimen ini langsung memicu aksi jual,” ujar Cahyo saat ditemui wartawan Prokalteng di Kantor IDX Kalteng, Selasa (3/1/26).

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Kasus Covid-19 Menurun, Kini RS Doris Sylvanus Mulai Lengang

Cahyo menjelaskan, tekanan IHSG tidak hanya berasal dari dana asing yang keluar, tetapi juga diperparah kepanikan investor domestik. Kekhawatiran terjadinya capital outflow membuat investor lokal ikut melepas sahamnya, menciptakan efek domino di pasar.

“Dalam dua hari, koreksi mencapai sekitar 18 persen. Kondisi ini makin dalam karena transaksi margin. Investor yang tidak mampu menambah jaminan akhirnya terkena forced sell,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sorotan utama MSCI tertuju pada besaran free float saham publik yang saat ini tercatat sekitar 7 persen. Angka tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kepemilikan publik karena masih bercampur dengan kepemilikan afiliasi atau pengendali.

Merespons hal tersebut, BEI bersama otoritas pasar modal kini mempercepat agenda reformasi integritas pasar. Salah satu poin krusial adalah kewajiban pengungkapan identitas pemilik saham mulai dari kepemilikan 1 persen, yang sebelumnya baru diwajibkan di atas 5 persen.

Baca Juga :  MENGERIKAN! Mobil Oleng Tabrak Lapak Kue, 2 Orang Ibu-Ibu dan Seorang Anak Terkapar

“Dengan aturan ini, publik bisa tahu siapa pemilik saham di balik emiten. Transparansi diharapkan pulih, kepercayaan pasar kembali, dan Indonesia bisa masuk lagi dalam perhitungan indeks MSCI,” jelas Cahyo.

Isu transparansi ini juga berdampak ke internal BEI pusat. Cahyo menyebut, muncul informasi adanya pengunduran diri salah satu jajaran direksi sebagai bentuk tanggung jawab moral atas polemik yang disoroti MSCI.

Meski pasar tengah bergejolak, Cahyo menilai kondisi ini justru membuka peluang bagi investor jangka panjang yang memiliki likuiditas.

“Kalau untuk jangka panjang, ini momentum. Saham bagus sedang murah. Tidak perlu panik, selama punya dana tunai, koreksi seperti ini bisa dimanfaatkan untuk masuk ke portofolio,” pungkasnya. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru