24.6 C
Jakarta
Saturday, July 20, 2024
spot_img

Teras Narang Hadiri Seminar Nasional Jembatan Kayu

PROKALTENG.CO – Anggota DPD RI, Agustin Teras Narang mengaku gembira karena dapat menghadiri langsung seminar nasional Jembatan Kayu yang digelar oleh Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Kalteng pada Rabu, (30/8/2023). Sebuah seminar yang mengangkat kekhasan Kalimantan dalam perspektif arsitektur dan infrastruktur. Di mana kayu sebagai material pembangunan infrastruktur berkelanjutan jadi ulasan yang menarik.

“Saya mengenang perjalanan awal diskusi soal kayu bersama IAI Kalteng pada akhir Januari 2023.  Saat itu jelang peringatan ulang tahun SMK Perkayuan Mandomai. Kami mendiskusikan soal pembongkaran jembatan kayu Mandomai yang ikonik dan terpikir untuk melakukan rekonstruksi ulang, sekalian dengan penataan wilayah. Berpikir bagaimana kawasan yang indah dan bersejarah ini bisa menjadi hidup dengan kekayaan sosial budaya, arsitektur, dan keindahan panoramanya sebagai destinasi wisata,” jelas Teras.

Mengusung tajuk Historic Urban Landscape atau lanskap kota bersejarah, Teras Narang mendiskusikan soal masa lalu dan masa depan pembangunan. Bicara soal jembatan kayu Mandomai, secara pribadi Teras mengaku ini memang merupakan hal yang luar biasa.

“Karena almarhum ayah saya lahir dan tumbuh di desa Mandomai. Suatu kegiatan rutin bagi kami setiap tahunnya pada masa itu untuk berkunjung dari Banjarmasin ke Mandomai. Biasanya naik kapal dengan jarak tempuh satu hari satu malam. Salah satu kegiatan kalau ke Mandomai adalah berziarah ke makam keluarga yang mesti melewati jembatan kayu ikonik tersebut,” bebernya.

Baca Juga :  Banggar DPR RI: Pembangunan IKN Bantu Pertumbuhan Ekonomi Bergeser ke "Tengah"

Meski menyayangkan pembongkaran kayu oleh pemerintah kabupaten kala itu, membangun niat untuk mengupayakan rekonstruksi dan penataan wilayah. Mendorong ada langkah membuat kawasan ini dapat hidup kembali sebagai destinasi wisata dan juga wisata arsitektur perkayuan.

“Terlebih hari ini, dunia tengah kembali pada semangat harmoni dengan alam. Di mana ini memberi ruang kembalinya kayu sebagai bahan material infrastruktur untuk memenuhi unsur keberlanjutan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Teras berharap IAI akan dapat memikirkan rekonstruksi keberadaan jembaatan kayu Mandomai, lewat seminar yang mengambil tajuk seputar jembatan kayu. Seminar yang akan mendiskusikan banyak hal tentang pemanfaatan kayu sebagai material untuk pembangunan infrastruktur.

Tentu pembangunan jembatan kayu hari ini perlu disesuaikan dengan dukungan teknologi terkini. Ini menunjukkan rekonstruksi bukan hanya bicara soal masa lalu.

Baca Juga :  Wow, Paling Banyak Mendaftar Perceraian Pihak Perempuan

Perlu diingat bahwa Kalimantan Tengah dikenal sebagai penghasil kayu yang luar biasa pada masanya.  Kalimantan pun dikenal sebagai paru-paru dunia. Rekonstruksi ini bisa jadi daya tarik arsitektur global dan menghadirkan dampak ekonomi bagi daerah bila dikelola secara terarah.

“Saya juga yakin, bahwa mereka yang pernah mendapatkan manfaat dari kayu Kalimantan saat era Hak Pengusahaan Hutan berlaku, akan memberikan kepedulian. Dengan mengetuk pintu hati mereka, diharapkan ada kolaborasi bersama pemerintah daerah, pemerhati lingkungan, dan IAI untuk mewujudkan kembali rekonstruksi jembatan kayu Mandomai. Sebuah rekonstruksi jembatan kayu yang juga dapat mengangkat kearifan lokal serta kekuatan sejarah arsitektur di masa lalu,” ungkapnya.

Apresiasi disampaikan Teras Narang pada Ketua IAI Kalteng, Ristia Herani Dewi dan jajaran serta pemerhati jembatan kayu Mandomai yang bersemangat memperjuangkan rekonstruksi ini. Sebuah agenda yang juga mengusung tema penataan kawasan Mandomai bertajuk historic urban landscape atau lanskap kota bersejarah ini. (*) 

PROKALTENG.CO – Anggota DPD RI, Agustin Teras Narang mengaku gembira karena dapat menghadiri langsung seminar nasional Jembatan Kayu yang digelar oleh Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Kalteng pada Rabu, (30/8/2023). Sebuah seminar yang mengangkat kekhasan Kalimantan dalam perspektif arsitektur dan infrastruktur. Di mana kayu sebagai material pembangunan infrastruktur berkelanjutan jadi ulasan yang menarik.

“Saya mengenang perjalanan awal diskusi soal kayu bersama IAI Kalteng pada akhir Januari 2023.  Saat itu jelang peringatan ulang tahun SMK Perkayuan Mandomai. Kami mendiskusikan soal pembongkaran jembatan kayu Mandomai yang ikonik dan terpikir untuk melakukan rekonstruksi ulang, sekalian dengan penataan wilayah. Berpikir bagaimana kawasan yang indah dan bersejarah ini bisa menjadi hidup dengan kekayaan sosial budaya, arsitektur, dan keindahan panoramanya sebagai destinasi wisata,” jelas Teras.

Mengusung tajuk Historic Urban Landscape atau lanskap kota bersejarah, Teras Narang mendiskusikan soal masa lalu dan masa depan pembangunan. Bicara soal jembatan kayu Mandomai, secara pribadi Teras mengaku ini memang merupakan hal yang luar biasa.

“Karena almarhum ayah saya lahir dan tumbuh di desa Mandomai. Suatu kegiatan rutin bagi kami setiap tahunnya pada masa itu untuk berkunjung dari Banjarmasin ke Mandomai. Biasanya naik kapal dengan jarak tempuh satu hari satu malam. Salah satu kegiatan kalau ke Mandomai adalah berziarah ke makam keluarga yang mesti melewati jembatan kayu ikonik tersebut,” bebernya.

Baca Juga :  Banggar DPR RI: Pembangunan IKN Bantu Pertumbuhan Ekonomi Bergeser ke "Tengah"

Meski menyayangkan pembongkaran kayu oleh pemerintah kabupaten kala itu, membangun niat untuk mengupayakan rekonstruksi dan penataan wilayah. Mendorong ada langkah membuat kawasan ini dapat hidup kembali sebagai destinasi wisata dan juga wisata arsitektur perkayuan.

“Terlebih hari ini, dunia tengah kembali pada semangat harmoni dengan alam. Di mana ini memberi ruang kembalinya kayu sebagai bahan material infrastruktur untuk memenuhi unsur keberlanjutan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Teras berharap IAI akan dapat memikirkan rekonstruksi keberadaan jembaatan kayu Mandomai, lewat seminar yang mengambil tajuk seputar jembatan kayu. Seminar yang akan mendiskusikan banyak hal tentang pemanfaatan kayu sebagai material untuk pembangunan infrastruktur.

Tentu pembangunan jembatan kayu hari ini perlu disesuaikan dengan dukungan teknologi terkini. Ini menunjukkan rekonstruksi bukan hanya bicara soal masa lalu.

Baca Juga :  Wow, Paling Banyak Mendaftar Perceraian Pihak Perempuan

Perlu diingat bahwa Kalimantan Tengah dikenal sebagai penghasil kayu yang luar biasa pada masanya.  Kalimantan pun dikenal sebagai paru-paru dunia. Rekonstruksi ini bisa jadi daya tarik arsitektur global dan menghadirkan dampak ekonomi bagi daerah bila dikelola secara terarah.

“Saya juga yakin, bahwa mereka yang pernah mendapatkan manfaat dari kayu Kalimantan saat era Hak Pengusahaan Hutan berlaku, akan memberikan kepedulian. Dengan mengetuk pintu hati mereka, diharapkan ada kolaborasi bersama pemerintah daerah, pemerhati lingkungan, dan IAI untuk mewujudkan kembali rekonstruksi jembatan kayu Mandomai. Sebuah rekonstruksi jembatan kayu yang juga dapat mengangkat kearifan lokal serta kekuatan sejarah arsitektur di masa lalu,” ungkapnya.

Apresiasi disampaikan Teras Narang pada Ketua IAI Kalteng, Ristia Herani Dewi dan jajaran serta pemerhati jembatan kayu Mandomai yang bersemangat memperjuangkan rekonstruksi ini. Sebuah agenda yang juga mengusung tema penataan kawasan Mandomai bertajuk historic urban landscape atau lanskap kota bersejarah ini. (*) 

spot_img
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru