Ketika Rumah Tak Lagi Bebas dari Kabut Asap Karhutla: Balita Alami Demam dan Muntah

Kabut asap pekat yang menyelimuti kawasan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, dalam beberapa hari terakhir tak lagi sekadar mengganggu jarak pandang. 

          ***

ASAP kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah masuk ke rumah-rumah warga dan membuat mereka semakin khawatir, terutama terhadap kesehatan anak-anak. Kecemasan itu dirasakan Masmurah, warga Jalan Jurusan Pelaihari Kilometer 26, RT 002/RW 001. Perempuan tersebut harus ekstra waspada menjaga cucunya, Arsy Rahmatunisza, yang baru berusia dua tahun.

Hingga pukul 09.00 WITA, asap putih kecokelatan masih menyelimuti lingkungan sekitar rumahnya. Dari celah pintu, jendela, dan ventilasi, asap perlahan masuk ke dalam rumah.

Masmurah pun berusaha membuat rumah menjadi tempat yang lebih aman bagi cucunya. Pintu utama ditutup rapat. Celah-celah yang memungkinkan asap masuk berusaha ditutup.

Baca Juga :  Petugas Padamkan Setengah Hektar Lahan Warga yang Sengaja Dibakar

“Asapnya masuk sampai ke dalam rumah. Pintu dan celah-celah langsung saya tutup rapat biar Arsy tidak terlalu banyak hirup asap,” tutur Masmurah, Jumat (28/8).

Namun, upaya tersebut tidak serta-merta membuat kekhawatirannya hilang. Dalam dua hari terakhir, kondisi Arsy menurun. Balita itu mengalami demam tinggi disertai muntah-muntah.

Electronic money exchangers listing

Kondisinya bahkan sempat memburuk pada malam hari. Arsy beberapa kali muntah sehingga membuat keluarga panik. Di tengah rumah yang masih dikepung asap, mereka berusaha memastikan kondisi sang balita tidak semakin memburuk.

Paparan asap karhutla menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok rentan seperti balita dan anak-anak. Asap kebakaran mengandung berbagai polutan dan partikel halus yang dapat mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan.

Kondisi Arsy kemudian mendapat perhatian dari petugas kesehatan. Petugas Dinas Kesehatan setempat mendatangi kediaman keluarga untuk melakukan pemeriksaan dan memberikan obat-obatan.

Baca Juga :  Cegah Karhutla, BPBD Seruyan Gencarkan Sosialisasi

Kondisi Arsy juga terus dipantau secara berkala untuk memastikan kesehatannya tidak mengalami penurunan.

Bagi Masmurah dan warga Landasan Ulin Selatan, kehadiran petugas kesehatan menjadi bantuan penting di tengah kepungan asap. Namun, kekhawatiran belum sepenuhnya sirna.

Sebab, selama api masih menyala dan asap masih menyelimuti lingkungan, rasa cemas tetap mengikuti keseharian mereka.

Masmurah hanya berharap karhutla segera berakhir. Ia ingin udara kembali bersih dan cucunya bisa bernapas dengan lega tanpa harus terus berlindung di balik pintu dan jendela yang tertutup rapat.

Bagi warga, padamnya api bukan sekadar soal berakhirnya kebakaran. Lebih dari itu, mereka ingin kembali mendapatkan hal yang paling sederhana: udara bersih untuk bernapas dan rasa aman di rumah sendiri. (al/ris/jpg)

 

 

Kabut asap pekat yang menyelimuti kawasan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, dalam beberapa hari terakhir tak lagi sekadar mengganggu jarak pandang. 

          ***

ASAP kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah masuk ke rumah-rumah warga dan membuat mereka semakin khawatir, terutama terhadap kesehatan anak-anak. Kecemasan itu dirasakan Masmurah, warga Jalan Jurusan Pelaihari Kilometer 26, RT 002/RW 001. Perempuan tersebut harus ekstra waspada menjaga cucunya, Arsy Rahmatunisza, yang baru berusia dua tahun.

Electronic money exchangers listing

Hingga pukul 09.00 WITA, asap putih kecokelatan masih menyelimuti lingkungan sekitar rumahnya. Dari celah pintu, jendela, dan ventilasi, asap perlahan masuk ke dalam rumah.

Masmurah pun berusaha membuat rumah menjadi tempat yang lebih aman bagi cucunya. Pintu utama ditutup rapat. Celah-celah yang memungkinkan asap masuk berusaha ditutup.

Baca Juga :  Petugas Padamkan Setengah Hektar Lahan Warga yang Sengaja Dibakar

“Asapnya masuk sampai ke dalam rumah. Pintu dan celah-celah langsung saya tutup rapat biar Arsy tidak terlalu banyak hirup asap,” tutur Masmurah, Jumat (28/8).

Namun, upaya tersebut tidak serta-merta membuat kekhawatirannya hilang. Dalam dua hari terakhir, kondisi Arsy menurun. Balita itu mengalami demam tinggi disertai muntah-muntah.

Kondisinya bahkan sempat memburuk pada malam hari. Arsy beberapa kali muntah sehingga membuat keluarga panik. Di tengah rumah yang masih dikepung asap, mereka berusaha memastikan kondisi sang balita tidak semakin memburuk.

Paparan asap karhutla menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok rentan seperti balita dan anak-anak. Asap kebakaran mengandung berbagai polutan dan partikel halus yang dapat mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan.

Kondisi Arsy kemudian mendapat perhatian dari petugas kesehatan. Petugas Dinas Kesehatan setempat mendatangi kediaman keluarga untuk melakukan pemeriksaan dan memberikan obat-obatan.

Baca Juga :  Cegah Karhutla, BPBD Seruyan Gencarkan Sosialisasi

Kondisi Arsy juga terus dipantau secara berkala untuk memastikan kesehatannya tidak mengalami penurunan.

Bagi Masmurah dan warga Landasan Ulin Selatan, kehadiran petugas kesehatan menjadi bantuan penting di tengah kepungan asap. Namun, kekhawatiran belum sepenuhnya sirna.

Sebab, selama api masih menyala dan asap masih menyelimuti lingkungan, rasa cemas tetap mengikuti keseharian mereka.

Masmurah hanya berharap karhutla segera berakhir. Ia ingin udara kembali bersih dan cucunya bisa bernapas dengan lega tanpa harus terus berlindung di balik pintu dan jendela yang tertutup rapat.

Bagi warga, padamnya api bukan sekadar soal berakhirnya kebakaran. Lebih dari itu, mereka ingin kembali mendapatkan hal yang paling sederhana: udara bersih untuk bernapas dan rasa aman di rumah sendiri. (al/ris/jpg)

 

 

Terpopuler

Artikel Terbaru