PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Tengah mencapai 72.431 kasus hingga pekan ke-33 tahun 2026. Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 16.166 kasus, di tengah meningkatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pelaksana Harian Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, Yaesarwawan, mengatakan musim kemarau yang disertai kabut asap karhutla menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat, terutama ISPA.
“Musim kemarau yang disertai kabut asap karhutla menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat, terutama ISPA,” kata Yaesarwawan, Rabu (26/8/2026).
Data Dinas Kesehatan Kalteng menunjukkan kasus ISPA tersebut tersebar di 14 kabupaten dan kota, seiring menurunnya kualitas udara di sejumlah wilayah selama musim kemarau.
“Masyarakat juga perlu mewaspadai penyakit lain yang berpotensi meningkat saat musim kemarau, seperti demam berdarah dan diare, selain gangguan saluran pernapasan akibat paparan asap,” ujar Wawan.
Dari seluruh daerah di Kalteng, Kota Palangka Raya mencatat 16.166 kasus ISPA, disusul Kabupaten Kotawaringin Barat sebanyak 12.467 kasus dan Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 7.982 kasus.
“Kelompok yang paling rentan terdampak kabut asap antara lain balita, lansia, ibu hamil, penderita asma, PPOK, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit jantung maupun hipertensi,” katanya.
Tingginya kasus ISPA di Palangka Raya dan sejumlah daerah lainnya terjadi bersamaan dengan meningkatnya dampak karhutla yang menyebabkan kualitas udara memburuk.
“Paparan asap dapat memperparah kondisi kesehatan kelompok rentan, sehingga mereka perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung pernapasan saat kualitas udara memburuk,” jelasnya.
Berdasarkan catatan Dinkes Kalteng, balita dan lansia menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
“Balita berisiko mengalami ISPA hingga pneumonia, sedangkan lansia yang memiliki penyakit penyerta berpotensi mengalami sesak napas maupun kekambuhan penyakit akibat paparan asap,” tutur Wawan.
Data Indeks Kualitas Udara (AQI) pada Selasa (25/8/2026) menunjukkan kualitas udara di Kota Palangka Raya berada pada angka 128 AQI (US) atau masuk kategori tidak sehat.
“Ibu hamil juga perlu meningkatkan kewaspadaan karena paparan asap dapat memengaruhi suplai oksigen kepada janin dan meningkatkan risiko gangguan selama masa kehamilan,” ujarnya.
Meski jumlah kasus ISPA di Kalteng telah mencapai puluhan ribu, hingga kini belum ditemukan kasus kematian yang dipastikan berkaitan langsung dengan dampak kemarau maupun karhutla.
“Belum ada laporan kematian yang dapat dipastikan sebagai dampak langsung kemarau atau karhutla. Namun jika kualitas udara terus memburuk, potensi peningkatan kasus ISPA tetap perlu diwaspadai,” tutupnya. (adr)


