Gubernur Nilai Penggunaan Shabondama Soap Sebagai Alternatif Pemadaman Karhutla Masih Perlu Dikaji

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –  Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran membuka peluang mendukung pengembangan metode pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut menggunakan Shabondama Soap, sabun asal Jepang yang tengah diuji oleh peneliti Universitas Palangka Raya (UPR).

Hal tersebut disampaikan Agustiar usai mengikuti Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Kalimantan Tengah di Kantor Gubernur Kalteng, Kamis (3/9/2026).

Menurut Agustiar, penggunaan Shabondama Soap sebagai alternatif pemadaman karhutla masih perlu dikaji lebih lanjut sebelum diterapkan secara luas di Kalimantan Tengah.

“Kita koordinasikan dulu, ya. Cari dulu barang dan alatnya. Kemarin saya juga sempat melihat dan mencoba saat berkunjung ke UPR,” katanya.

Dia menegaskan, setiap inovasi yang akan digunakan dalam penanganan karhutla harus melalui proses pembuktian dan pengujian yang matang agar manfaat serta efektivitasnya benar-benar dapat dipastikan.

Baca Juga :  Kalteng Siap Gerakkan Ekonomi Desa Lewat Koperasi Merah Putih

“Bisa jadi. Makanya masalah ini tidak boleh sembarangan. Kita buktikan lagi, ya,” tegas Agustiar.

Sebelumnya, ahli ekologi dan pengelolaan lahan gambut UPR, Kitso Kusin, menjelaskan bahwa penelitian penggunaan Shabondama Soap untuk pemadaman karhutla telah dilakukan sejak 2012 melalui kerja sama dengan peneliti dari Jepang.

Electronic money exchangers listing

Menurut Kitso, penelitian menunjukkan campuran air dan sabun tersebut mampu meningkatkan efektivitas pemadaman kebakaran gambut sekaligus mengurangi kebutuhan air secara signifikan.

“Hasil penelitian kami, di dalam ukuran 1,5×1,5 meter itu, kalau disiram pakai air memerlukan kurang lebih 19 liter. Tapi dengan menggunakan sabun hanya memerlukan air 3,7 liter,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).

Penelitian yang semula dilakukan pada petak percobaan skala kecil itu kembali dikembangkan pada 2024 melalui pengujian di lahan berukuran 20×20 meter. Hasilnya menunjukkan metode tersebut berpotensi diterapkan untuk membantu pemadaman karhutla pada kawasan gambut yang selama ini dikenal sulit ditangani.

Baca Juga :  Gubernur Sugianto Lantik Kepala BPKP Kalteng

Meski demikian, Kitso mengakui penggunaan Shabondama Soap masih terkendala biaya karena produk tersebut harus didatangkan langsung dari Jepang. Karena itu, pihaknya mendorong kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) agar produk serupa dapat diproduksi di Indonesia.

Jika dapat diproduksi di dalam negeri dengan biaya yang lebih terjangkau, metode tersebut diharapkan menjadi salah satu inovasi pendukung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Terutama saat kebutuhan air untuk pemadaman menjadi tantangan di wilayah gambut yang luas. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –  Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran membuka peluang mendukung pengembangan metode pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut menggunakan Shabondama Soap, sabun asal Jepang yang tengah diuji oleh peneliti Universitas Palangka Raya (UPR).

Hal tersebut disampaikan Agustiar usai mengikuti Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Kalimantan Tengah di Kantor Gubernur Kalteng, Kamis (3/9/2026).

Menurut Agustiar, penggunaan Shabondama Soap sebagai alternatif pemadaman karhutla masih perlu dikaji lebih lanjut sebelum diterapkan secara luas di Kalimantan Tengah.

Electronic money exchangers listing

“Kita koordinasikan dulu, ya. Cari dulu barang dan alatnya. Kemarin saya juga sempat melihat dan mencoba saat berkunjung ke UPR,” katanya.

Dia menegaskan, setiap inovasi yang akan digunakan dalam penanganan karhutla harus melalui proses pembuktian dan pengujian yang matang agar manfaat serta efektivitasnya benar-benar dapat dipastikan.

Baca Juga :  Kalteng Siap Gerakkan Ekonomi Desa Lewat Koperasi Merah Putih

“Bisa jadi. Makanya masalah ini tidak boleh sembarangan. Kita buktikan lagi, ya,” tegas Agustiar.

Sebelumnya, ahli ekologi dan pengelolaan lahan gambut UPR, Kitso Kusin, menjelaskan bahwa penelitian penggunaan Shabondama Soap untuk pemadaman karhutla telah dilakukan sejak 2012 melalui kerja sama dengan peneliti dari Jepang.

Menurut Kitso, penelitian menunjukkan campuran air dan sabun tersebut mampu meningkatkan efektivitas pemadaman kebakaran gambut sekaligus mengurangi kebutuhan air secara signifikan.

“Hasil penelitian kami, di dalam ukuran 1,5×1,5 meter itu, kalau disiram pakai air memerlukan kurang lebih 19 liter. Tapi dengan menggunakan sabun hanya memerlukan air 3,7 liter,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).

Penelitian yang semula dilakukan pada petak percobaan skala kecil itu kembali dikembangkan pada 2024 melalui pengujian di lahan berukuran 20×20 meter. Hasilnya menunjukkan metode tersebut berpotensi diterapkan untuk membantu pemadaman karhutla pada kawasan gambut yang selama ini dikenal sulit ditangani.

Baca Juga :  Gubernur Sugianto Lantik Kepala BPKP Kalteng

Meski demikian, Kitso mengakui penggunaan Shabondama Soap masih terkendala biaya karena produk tersebut harus didatangkan langsung dari Jepang. Karena itu, pihaknya mendorong kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) agar produk serupa dapat diproduksi di Indonesia.

Jika dapat diproduksi di dalam negeri dengan biaya yang lebih terjangkau, metode tersebut diharapkan menjadi salah satu inovasi pendukung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Terutama saat kebutuhan air untuk pemadaman menjadi tantangan di wilayah gambut yang luas. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru