ISPA di Palangka Raya Turun, September Tercatat 2.076

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama September 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, meski kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Cantik.

Kepala Dinkes Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, hingga Minggu (20/9/2026), jumlah kasus ISPA sepanjang September tercatat sebanyak 2.076 kasus.

“Jadi total keseluruhan untuk kasus ISPA sampai dengan kemarin, untuk bulan September itu 2.076 kasus. Jadi ada penurunan kasus dibanding di bulan Agustus kemarin,” ujarnya usai mendampingi Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin lakukan peninjauan Rumah Oksigen di Posyandu Cempaka, Jalan Asabri III pada Senin (21/9/2026) malam.

Riduan menjelaskan, pada Agustus 2026 jumlah kasus ISPA mencapai 3.104 kasus. Penurunan tersebut diduga dipengaruhi meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

Baca Juga :  Tepis Stigma Kampung Narkoba, Pemko Palangka Raya Benahi Kawasan Ponton

Menurutnya, berbagai imbauan yang disampaikan pemerintah dan tenaga kesehatan mulai berdampak terhadap perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan selama musim karhutla.

“Hubungannya mungkin dengan imbauan, orang tidak banyak keluar rumah sehingga kasus itu turun. Kemudian mungkin masyarakat juga sudah mendapat informasi untuk banyak mengonsumsi vitamin sehingga daya tahan tubuh meningkat,” katanya.

Berdasarkan data harian Dinkes, jumlah kasus ISPA dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan tren yang relatif stabil. Pada Minggu (20/9/2026) tercatat 87 kasus, sementara sehari sebelumnya sebanyak 92 kasus dan dua hari sebelumnya 83 kasus.

Electronic money exchangers listing

Meski demikian, Riduan mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap dampak kabut asap, terutama bagi warga yang memiliki penyakit penyerta seperti asma yang berisiko memperparah gangguan pernapasan.

“Kalau ada penyakit penyerta biasanya ada asma, nah itu yang memperparah. Kalau kasus asma biasanya kita rujuk ke rumah sakit karena penanganannya memerlukan waktu dua sampai tiga hari,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemko Palangkaraya Terima Piagam Penghargaan dari Pangdam XII Tanjungpura

Untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap, Pemerintah Kota Palangka Raya juga mengoperasikan rumah oksigen yang dapat dimanfaatkan warga yang mengalami sesak napas ringan.

“Rumah oksigen dimanfaatkan untuk warga yang ada batuk, pilek, dan sesak. Tapi sesaknya karena hirupan partikel asap. Jadi begitu diberikan oksigen biasanya sesaknya berkurang,” tuturnya.

Riduan memastikan hingga saat ini belum terdapat korban jiwa akibat ISPA maupun gangguan kesehatan yang berkaitan langsung dengan kabut asap karhutla di Kota Palangka Raya.

“Sampai hari ini tidak ada korban,” tegasnya.

Dia menambahkan, kasus ISPA akibat dampak musim karhutla tidak hanya terjadi pada kelompok usia tertentu. Berdasarkan data Dinkes, sekitar 30 persen kasus terjadi pada bayi dan balita, 40 persen pada kelompok usia dewasa, dan 30 persen pada kelompok lanjut usia (lansia).

“Kelihatan penyakit itu tidak di satu usia, merata,” pungkasnya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama September 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, meski kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Cantik.

Kepala Dinkes Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, hingga Minggu (20/9/2026), jumlah kasus ISPA sepanjang September tercatat sebanyak 2.076 kasus.

“Jadi total keseluruhan untuk kasus ISPA sampai dengan kemarin, untuk bulan September itu 2.076 kasus. Jadi ada penurunan kasus dibanding di bulan Agustus kemarin,” ujarnya usai mendampingi Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin lakukan peninjauan Rumah Oksigen di Posyandu Cempaka, Jalan Asabri III pada Senin (21/9/2026) malam.

Electronic money exchangers listing

Riduan menjelaskan, pada Agustus 2026 jumlah kasus ISPA mencapai 3.104 kasus. Penurunan tersebut diduga dipengaruhi meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

Baca Juga :  Tepis Stigma Kampung Narkoba, Pemko Palangka Raya Benahi Kawasan Ponton

Menurutnya, berbagai imbauan yang disampaikan pemerintah dan tenaga kesehatan mulai berdampak terhadap perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan selama musim karhutla.

“Hubungannya mungkin dengan imbauan, orang tidak banyak keluar rumah sehingga kasus itu turun. Kemudian mungkin masyarakat juga sudah mendapat informasi untuk banyak mengonsumsi vitamin sehingga daya tahan tubuh meningkat,” katanya.

Berdasarkan data harian Dinkes, jumlah kasus ISPA dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan tren yang relatif stabil. Pada Minggu (20/9/2026) tercatat 87 kasus, sementara sehari sebelumnya sebanyak 92 kasus dan dua hari sebelumnya 83 kasus.

Meski demikian, Riduan mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap dampak kabut asap, terutama bagi warga yang memiliki penyakit penyerta seperti asma yang berisiko memperparah gangguan pernapasan.

“Kalau ada penyakit penyerta biasanya ada asma, nah itu yang memperparah. Kalau kasus asma biasanya kita rujuk ke rumah sakit karena penanganannya memerlukan waktu dua sampai tiga hari,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemko Palangkaraya Terima Piagam Penghargaan dari Pangdam XII Tanjungpura

Untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap, Pemerintah Kota Palangka Raya juga mengoperasikan rumah oksigen yang dapat dimanfaatkan warga yang mengalami sesak napas ringan.

“Rumah oksigen dimanfaatkan untuk warga yang ada batuk, pilek, dan sesak. Tapi sesaknya karena hirupan partikel asap. Jadi begitu diberikan oksigen biasanya sesaknya berkurang,” tuturnya.

Riduan memastikan hingga saat ini belum terdapat korban jiwa akibat ISPA maupun gangguan kesehatan yang berkaitan langsung dengan kabut asap karhutla di Kota Palangka Raya.

“Sampai hari ini tidak ada korban,” tegasnya.

Dia menambahkan, kasus ISPA akibat dampak musim karhutla tidak hanya terjadi pada kelompok usia tertentu. Berdasarkan data Dinkes, sekitar 30 persen kasus terjadi pada bayi dan balita, 40 persen pada kelompok usia dewasa, dan 30 persen pada kelompok lanjut usia (lansia).

“Kelihatan penyakit itu tidak di satu usia, merata,” pungkasnya. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru