NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – BPBD Kabupaten Lamandau memperkuat kesiapsiagaan personel menghadapi situasi darurat dengan menggelar pelatihan High Angle Rescue Technique (HART). Pelatihan ini menjadi bekal penting bagi Tim Reaksi Cepat (TRC) dalam melakukan evakuasi korban di medan ekstrem seperti tebing, gedung tinggi, hingga area vertikal lainnya.
Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari personel BPBD, TNI, Polri, serta perwakilan Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana mengikuti pelatihan tersebut. Sejak hari pertama, halaman kantor BPBD Lamandau dipenuhi peralatan penyelamatan, mulai dari tali statis, helm, carabiner, hingga perangkat naik-turun tebing yang digunakan dalam simulasi lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Lamandau, Hendikel, mengatakan pelatihan HART menjadi modal krusial bagi TRC saat menghadapi bencana di lokasi yang sulit dijangkau.
“Pelatihan HART ini membekali personel dengan keterampilan teknis dan kesiapan fisik untuk melakukan penyelamatan secara aman di area vertikal, seperti gedung, tebing, atau menara, yang kerap menyulitkan proses evakuasi,” ujar Hendikel kepada wartawan, Rabu (24/12/2025).
Selama empat hari, peserta digembleng melalui tujuh materi utama yang disampaikan instruktur berpengalaman dari Basarnas Provinsi Kalimantan Tengah. Materi tersebut meliputi teknik penggunaan tali (roping), sistem katrol penyelamatan (hauling dan lowering), simulasi evakuasi di ketinggian, hingga uji keberanian dan ketangkasan di lapangan.
Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Lamandau, Abdul Hamid. Ia menegaskan bahwa penanganan bencana saat ini semakin kompleks dan membutuhkan kesiapan serta kolaborasi lintas sektor.
“Bencana adalah urusan semua pihak, everybody’s business. Karena itu, peningkatan kapasitas Tim Reaksi Cepat melalui pelatihan seperti ini sangat penting untuk memperkuat koordinasi dan respons di lapangan,” tegas Abdul Hamid.
Ia berharap para peserta tidak hanya menguasai teknik penyelamatan, tetapi juga mampu mengambil keputusan cepat, tepat, dan antisipatif, terutama saat melakukan evakuasi di lokasi berisiko tinggi seperti rumah sakit, gedung perkantoran, maupun objek wisata.
“Hasil dari pelatihan ini diharapkan bisa mempertajam intuisi dan kesiapan personel tentang apa yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi,” tambahnya.
Meski bencana tidak bisa dicegah sepenuhnya, Pemerintah Kabupaten Lamandau berkomitmen terus melengkapi fasilitas serta peralatan pendukung agar personel selalu siap diterjunkan kapan pun dibutuhkan. (bib)


