NANGA BULIK, PROKALTENG.CO — Memasuki musim kemarau tahun 2026, masyarakat di wilayah Bumi Bahaum Bakuba (Kabupaten Lamandau) mulai merasakan dampak nyata perubahan cuaca. Paparan cuaca panas terik yang melanda kawasan ini tidak hanya membuat jalanan berdebu hingga meresahkan warga, tetapi juga meningkatkan potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi vegetasi yang mengering dan tiupan angin kencang mempercepat tingkat kerawanan kebakaran di berbagai titik kawasan Lamandau. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau, sepanjang periode Januari hingga Juli 2026 tercatat sedikitnya 17 kejadian karhutla. Dari belasan peristiwa tersebut, total area yang hangus terbakar diperkirakan mencapai 26,16 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Lamandau, Hendikel, mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan hasil dari respons cepat pemadaman langsung oleh tim gabungan di lapangan serta verifikasi ground check terhadap titik panas (hotspot) yang terdeteksi satelit.
“Selama periode Januari sampai Juli 2026 terdapat 17 kejadian karhutla yang kami tangani, baik melalui pemadaman langsung maupun hasil pengecekan terhadap titik hotspot,” ujar Hendikel, Senin (20/7/2026).
Meskipun dampaknya cukup meluas, BPBD mengonfirmasi bahwa mayoritas titik kebakaran yang terjadi di Lamandau tergolong dalam tipe kebakaran permukaan (surface fire) di atas tanah mineral.
Menurutnya, api tidak sampai masuk ke dalam lapisan tanah dalam seperti pada kasus lahan gambut, keberadaan ilalang dan rumput kering di musim kemarau tetap menjadi bahan bakar potensial yang dapat mempercepat sebaran api jika diabaikan.
Untuk mencegah meluasnya dampak karhutla yang dapat memperburuk kualitas udara dan merugikan warga, BPBD Lamandau bersama pemangku kepentingan (stakeholders) terkait meningkatkan intensitas patroli di kawasan-kawasan rawan.
Guna meminimalkan risiko bencana yang lebih besar, BPBD memberikan imbauan penting kepada masyarakat.
“Stop membuka lahan dengan cara membakar saat pembersihan lahan secara konvensional ini sangat berbahaya di tengah cuaca terik dan berangin,” tuturnya.
Ia juga berharap, warga  segera melapor ke pihak berwenang jika melihat kepulan asap atau potensi kebakaran di sekitar lingkungannya.
“Laporan cepat dari masyarakat akan sangat membantu mempercepat proses penanganan dan pemadaman oleh petugas di lapangan,” tegas Hendikel. (bib)


