NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Cuaca panas ekstrem melanda Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, Senin (19/1/2026). Suhu udara yang menembus 34 derajat Celcius membuat terik matahari terasa menyengat sejak pagi, berdampak langsung pada aktivitas warga yang tampak menurun di sejumlah titik ruang publik.
Pantauan di lapangan menunjukkan ruas jalan protokol hingga pusat keramaian di Nanga Bulik terlihat lebih lengang dari biasanya. Warga memilih bertahan di dalam rumah atau menunda keperluan di luar ruangan demi menghindari paparan panas matahari. Kondisi ini makin terasa bagi pengendara roda dua karena minimnya peneduh di sepanjang jalan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau memastikan fenomena suhu panas tersebut telah terjadi dalam beberapa hari terakhir. Hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan kondisi ini berkaitan dengan anomali cuaca yang melanda sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah.
“Kenaikan suhu ini merupakan dampak dari anomali cuaca yang terjadi di Kalimantan Tengah,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lamandau, Hendikel, kepada wartawan.
BPBD menjelaskan, salah satu pemicu utama panas menyengat di Lamandau adalah menurunnya curah hujan secara signifikan. Berkurangnya tutupan awan membuat radiasi matahari langsung mengenai permukaan bumi, sehingga suhu udara melonjak di atas rata-rata normal harian.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak kesehatan akibat cuaca panas. Warga diminta tidak menganggap remeh risiko dehidrasi hingga kelelahan panas, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
“Cuaca panas bisa berdampak pada kesehatan. Kami minta warga menjaga kondisi tubuh dan segera beristirahat jika merasa tidak enak badan,” ujarnya.
BPBD juga mengingatkan masyarakat menyesuaikan aktivitas harian. Bagi warga yang harus bekerja di luar ruangan, disarankan menggunakan pelindung seperti topi atau payung serta memastikan asupan air mineral tetap tercukupi.
Selain itu, cuaca panas juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Vegetasi yang mengering dinilai lebih mudah terbakar, apalagi jika disertai angin kencang.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan. Api bisa dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan,” tegas Hendikel.
Pemerintah daerah berharap kondisi cuaca segera kembali normal. Hingga kini, BPBD bersama instansi terkait terus memantau perkembangan cuaca dan potensi titik panas demi menjaga keamanan dan kenyamanan warga Kabupaten Lamandau. (bib)


