Musim Kemarau Diprediksi Ekstrem, Bupati Ingatkan Seluruh Elemen Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

SAMPIT, PROKALTENG.CO – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), H.Halikinnor, mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih ekstrem. Selain berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), cuaca panas juga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan, aktivitas masyarakat hingga perekonomian daerah.

“Memasuki musim kemarau, berdasarkan informasi BMKG tahun ini diperkirakan menjadi salah satu periode dengan suhu terpanas dalam 30 tahun terakhir. Karena itu saya mengimbau masyarakat, terutama yang masih mengolah lahan, agar benar-benar berhati-hati,” ujar Halikinnor, Rabu (8/7).

Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Kotawaringin Timur kini telah memasuki musim kemarau dengan puncak musim diperkirakan terjadi pada akhir Juli hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan langkah antisipasi untuk meminimalkan risiko bencana.

Halikinnor menegaskan masyarakat tidak boleh membuka lahan menggunakan api. Menurutnya, karakteristik lahan gambut di Kotim sangat mudah terbakar sehingga api dapat dengan cepat meluas dan sulit dipadamkan.

Ia mencontohkan kebakaran yang sempat terjadi di kawasan sekitar Bandara Haji Asan Sampit beberapa waktu lalu. Meski luas lahan yang terbakar tidak terlalu besar, proses pemadaman membutuhkan upaya maksimal dari petugas.

Baca Juga :  Wim : Teruslah Membangun Kerja Sama dan Koordinasi Demi Tugas Kemanusiaan

“Kalau api sudah mulai membesar, kita akan sangat kesulitan memadamkannya. Seperti kebakaran di dekat bandara kemarin, dengan luasan yang tidak terlalu besar saja petugas bekerja sangat keras,” katanya.

Selain ancaman karhutla, Halikinnor juga mengingatkan masyarakat di kawasan permukiman agar lebih berhati-hati menggunakan instalasi listrik maupun tungku berbahan bakar kayu. Cuaca kering dinilai meningkatkan risiko terjadinya kebakaran rumah.

Electronic money exchangers listing

 

Pemerintah Kabupaten Kotim juga meminta perusahaan besar swasta, khususnya sektor perkebunan, ikut berperan aktif membantu penanganan kebakaran di sekitar wilayah operasional masing-masing sebelum api meluas.

Menurut Halikinnor. Kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci utama mengingat medan gambut di Kotim membutuhkan waktu, personel, dan peralatan yang besar dalam proses pemadaman.

“Kalau kebakaran sudah meluas akan sangat sulit ditangani. Dampaknya bukan hanya kabut asap yang mengganggu kesehatan, tetapi juga pendidikan, transportasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif dibandingkan harus menangani kebakaran yang telah meluas. Karena itu, masyarakat diminta menghindari segala aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api selama musim kemarau.

Baca Juga :  Pelayanan Terhadap Masyarakat Harus Tetap Berjalan Optimal, Jam Kerja ASN Diatur

“Lebih baik kita mencegah sejak awal daripada menghadapi kebakaran besar yang dampaknya dirasakan semua sektor kehidupan,” ucapnya.

Sementara terkait potensi kekeringan. Halikinnor menyampaikan hingga kini pemerintah daerah belum menerima laporan mengenai krisis air bersih di wilayah Kotim.

Meski demikian, Pemkab terus memperluas jaringan pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke wilayah selatan. Saat ini layanan telah menjangkau Desa Parebok dan secara bertahap ditargetkan dapat mencapai Pulau Hanaut.

“Jaringan PDAM sekarang sudah sampai Desa Parebok. Setiap tahun terus kita kembangkan sesuai kemampuan anggaran, dengan harapan ke depan masyarakat di wilayah selatan hingga Pulau Hanaut juga dapat menikmati layanan air bersih,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah juga telah menyiapkan skenario penyaluran air bersih apabila terjadi kekurangan pasokan di sejumlah wilayah selama musim kemarau.

“Kalau nanti memang terjadi krisis air bersih, pemerintah akan melakukan dropping air dari Sampit ke daerah yang membutuhkan,” pungkasnya.(bah/kpg)

SAMPIT, PROKALTENG.CO – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), H.Halikinnor, mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih ekstrem. Selain berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), cuaca panas juga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan, aktivitas masyarakat hingga perekonomian daerah.

“Memasuki musim kemarau, berdasarkan informasi BMKG tahun ini diperkirakan menjadi salah satu periode dengan suhu terpanas dalam 30 tahun terakhir. Karena itu saya mengimbau masyarakat, terutama yang masih mengolah lahan, agar benar-benar berhati-hati,” ujar Halikinnor, Rabu (8/7).

Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Kotawaringin Timur kini telah memasuki musim kemarau dengan puncak musim diperkirakan terjadi pada akhir Juli hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan langkah antisipasi untuk meminimalkan risiko bencana.

Electronic money exchangers listing

Halikinnor menegaskan masyarakat tidak boleh membuka lahan menggunakan api. Menurutnya, karakteristik lahan gambut di Kotim sangat mudah terbakar sehingga api dapat dengan cepat meluas dan sulit dipadamkan.

Ia mencontohkan kebakaran yang sempat terjadi di kawasan sekitar Bandara Haji Asan Sampit beberapa waktu lalu. Meski luas lahan yang terbakar tidak terlalu besar, proses pemadaman membutuhkan upaya maksimal dari petugas.

Baca Juga :  Wim : Teruslah Membangun Kerja Sama dan Koordinasi Demi Tugas Kemanusiaan

“Kalau api sudah mulai membesar, kita akan sangat kesulitan memadamkannya. Seperti kebakaran di dekat bandara kemarin, dengan luasan yang tidak terlalu besar saja petugas bekerja sangat keras,” katanya.

Selain ancaman karhutla, Halikinnor juga mengingatkan masyarakat di kawasan permukiman agar lebih berhati-hati menggunakan instalasi listrik maupun tungku berbahan bakar kayu. Cuaca kering dinilai meningkatkan risiko terjadinya kebakaran rumah.

 

Pemerintah Kabupaten Kotim juga meminta perusahaan besar swasta, khususnya sektor perkebunan, ikut berperan aktif membantu penanganan kebakaran di sekitar wilayah operasional masing-masing sebelum api meluas.

Menurut Halikinnor. Kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci utama mengingat medan gambut di Kotim membutuhkan waktu, personel, dan peralatan yang besar dalam proses pemadaman.

“Kalau kebakaran sudah meluas akan sangat sulit ditangani. Dampaknya bukan hanya kabut asap yang mengganggu kesehatan, tetapi juga pendidikan, transportasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif dibandingkan harus menangani kebakaran yang telah meluas. Karena itu, masyarakat diminta menghindari segala aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api selama musim kemarau.

Baca Juga :  Pelayanan Terhadap Masyarakat Harus Tetap Berjalan Optimal, Jam Kerja ASN Diatur

“Lebih baik kita mencegah sejak awal daripada menghadapi kebakaran besar yang dampaknya dirasakan semua sektor kehidupan,” ucapnya.

Sementara terkait potensi kekeringan. Halikinnor menyampaikan hingga kini pemerintah daerah belum menerima laporan mengenai krisis air bersih di wilayah Kotim.

Meski demikian, Pemkab terus memperluas jaringan pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke wilayah selatan. Saat ini layanan telah menjangkau Desa Parebok dan secara bertahap ditargetkan dapat mencapai Pulau Hanaut.

“Jaringan PDAM sekarang sudah sampai Desa Parebok. Setiap tahun terus kita kembangkan sesuai kemampuan anggaran, dengan harapan ke depan masyarakat di wilayah selatan hingga Pulau Hanaut juga dapat menikmati layanan air bersih,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah juga telah menyiapkan skenario penyaluran air bersih apabila terjadi kekurangan pasokan di sejumlah wilayah selama musim kemarau.

“Kalau nanti memang terjadi krisis air bersih, pemerintah akan melakukan dropping air dari Sampit ke daerah yang membutuhkan,” pungkasnya.(bah/kpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru