KUALA KAPUAS, PROKALTENG.CO – Kemarau yang berlangsung lebih dari satu bulan memicu peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kapuas.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai 305,51 hektare, menempatkan Kapuas sebagai daerah dengan dampak karhutla terluas keempat di Kalimantan Tengah (Kalteng)
Berdasarkan data harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas, setidaknya lebih dari 17 hektar lahan telah hangus terbakar dalam kurun waktu sepekan terakhir, terhitung sejak 13 hingga 19 Juli 2026.
Kepala BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, membenarkan bahwa kemarau panjang menjadi pemicu utama tingginya kerawanan api saat ini.
“Situasinya sama saja dengan kabupaten lain. Ini sudah satu bulan lebih tidak hujan, jadi rumput dan tumbuhan di atas lahan tanah itu sudah mulai kering. Potensinya untuk cepat terbakar itu semakin mudah kondisinya,” ujarnya dalam keterangannya kepada Prokalteng, Selasa (21/7/2026).
Tambahan luasan di pertengahan Juli ini kian memperpanjang daftar dampak karhutla di wilayah tersebut.
Merujuk pada data analisis citra Tim Hitung Luas Kementerian Kehutanan periode Januari hingga Juni 2026, Kabupaten Kapuas menempati urutan keempat wilayah dengan area terdampak terluas di Provinsi Kalimantan Tengah, yakni mencapai 305,51 hektar.
Penyumbang luasan terbakar terbesar dalam rentang sepekan terakhir berada di Kecamatan Kapuas Timur.
Laporan mencatat, sekitar 13 hektar lahan di kawasan Handel Maruta ludes dilalap api dalam dua kejadian terpisah. Selain itu, titik api yang cukup masif juga menghanguskan kurang lebih 4 hektar lahan di Desa Danau Pantau, Kecamatan Timpah. dan dipastikan masih terus berlanjut.
Berdasarkan laporan tanggal 19 Juli 2026, hasil patroli udara kembali menemukan kemunculan karhutla di Desa Bajuh, Kecamatan Kapuas Tengah, serta hotspot di Kecamatan Mantangai. Selain itu, titik api juga terpantau di kawasan antara Desa Lungkuh Layang dan Desa Danau Pantau, Kecamatan Timpah.


