Mobil Hybrid Makin Laris, Jangan Harap Insentif Tambahan dari Pemerintah

PROKALTENG.CO-Pemerintah memberikan sinyal bahwa mobil hybrid belum tentu mendapat insentif tambahan pada 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pasar mobil hybrid sudah tumbuh positif dan teknologi ini mampu menjadi solusi di tengah infrastruktur kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) yang masih berkembang.

Pemerintah belum berencana memberikan tambahan insentif mobil hybrid pada 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pasar mobil hybrid saat ini sudah tumbuh positif.

Airlangga menilai teknologi hybrid masih menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin menggunakan kendaraan elektrifikasi, terutama karena infrastruktur pengisian daya mobil listrik berbasis baterai atau BEV (Battery Electric Vehicle) belum sepenuhnya merata.

“Hybrid penjualannya naik karena dengan infrastruktur terbatas, teknologi ini menjadi solusi bagi masyarakat sebelum masuk ke BEV,” ujar Airlangga saat ditemui di GIIAS 2026, (7/8).

Penjualan Mobil Hybrid Naik 47 Persen

Pertumbuhan pasar menjadi salah satu alasan pemerintah belum melihat kebutuhan untuk menambah insentif mobil hybrid.

Baca Juga :  Bikin Mobil Kinclong! Perhatikan 5 Manfaat Detailing yang Wajib Diketahui

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales mobil hybrid sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 42.367 unit.

Electronic money exchangers listing

Angka tersebut meningkat 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Segmen Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) bahkan mencatat pertumbuhan lebih tinggi. Penjualannya mencapai 5.003 unit, naik 187,4 persen secara tahunan.

Insentif Hybrid Dinilai Sudah Cukup

Airlangga mengatakan dukungan pemerintah terhadap kendaraan hybrid sebelumnya diberikan untuk mendorong produksi kendaraan elektrifikasi di dalam negeri.

Saat ini, sejumlah mobil hybrid sudah diproduksi secara lokal. Karena itu, pemerintah menilai insentif yang tersedia sudah berjalan sesuai tujuan.

“Karena sudah jalan, insentifnya sudah full. Insentif itu diberikan untuk produksi nasional, dan ini produksinya sudah nasional,” kata Airlangga.

Dengan kondisi tersebut, tambahan insentif khusus untuk pembelian mobil hybrid belum menjadi prioritas pemerintah.

Mobil Listrik Justru Disiapkan Insentif Baru

Berbeda dengan mobil hybrid, pemerintah tengah menyiapkan dukungan baru untuk kendaraan listrik berbasis baterai.

Baca Juga :  BLT dari Pemerintah Mulai Cair, Dibagi Jadi 4 Tahap Sepanjang 2025

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengatakan belum mengetahui adanya pembahasan insentif baru untuk kendaraan hybrid, termasuk HEV, PHEV, maupun REEV.

Menurutnya, pembahasan pemerintah saat ini lebih mengarah kepada kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV.
Pemerintah juga menyiapkan skema insentif yang menyasar hingga 500 ribu mobil listrik dan 500 ribu motor listrik. Jika terealisasi, total kendaraan yang mendapat dukungan mencapai 1 juta unit.

Salah satu skema yang disiapkan adalah Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap percepatan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai.

Sementara itu, mobil hybrid masih memiliki peluang besar di pasar Indonesia karena menawarkan teknologi elektrifikasi tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya.

Dengan penjualan yang terus meningkat, hybrid kini menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam masa transisi dari mobil bermesin konvensional menuju kendaraan listrik. (jpg)

PROKALTENG.CO-Pemerintah memberikan sinyal bahwa mobil hybrid belum tentu mendapat insentif tambahan pada 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pasar mobil hybrid sudah tumbuh positif dan teknologi ini mampu menjadi solusi di tengah infrastruktur kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) yang masih berkembang.

Pemerintah belum berencana memberikan tambahan insentif mobil hybrid pada 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pasar mobil hybrid saat ini sudah tumbuh positif.

Airlangga menilai teknologi hybrid masih menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin menggunakan kendaraan elektrifikasi, terutama karena infrastruktur pengisian daya mobil listrik berbasis baterai atau BEV (Battery Electric Vehicle) belum sepenuhnya merata.

Electronic money exchangers listing

“Hybrid penjualannya naik karena dengan infrastruktur terbatas, teknologi ini menjadi solusi bagi masyarakat sebelum masuk ke BEV,” ujar Airlangga saat ditemui di GIIAS 2026, (7/8).

Penjualan Mobil Hybrid Naik 47 Persen

Pertumbuhan pasar menjadi salah satu alasan pemerintah belum melihat kebutuhan untuk menambah insentif mobil hybrid.

Baca Juga :  Bikin Mobil Kinclong! Perhatikan 5 Manfaat Detailing yang Wajib Diketahui

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales mobil hybrid sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 42.367 unit.

Angka tersebut meningkat 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Segmen Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) bahkan mencatat pertumbuhan lebih tinggi. Penjualannya mencapai 5.003 unit, naik 187,4 persen secara tahunan.

Insentif Hybrid Dinilai Sudah Cukup

Airlangga mengatakan dukungan pemerintah terhadap kendaraan hybrid sebelumnya diberikan untuk mendorong produksi kendaraan elektrifikasi di dalam negeri.

Saat ini, sejumlah mobil hybrid sudah diproduksi secara lokal. Karena itu, pemerintah menilai insentif yang tersedia sudah berjalan sesuai tujuan.

“Karena sudah jalan, insentifnya sudah full. Insentif itu diberikan untuk produksi nasional, dan ini produksinya sudah nasional,” kata Airlangga.

Dengan kondisi tersebut, tambahan insentif khusus untuk pembelian mobil hybrid belum menjadi prioritas pemerintah.

Mobil Listrik Justru Disiapkan Insentif Baru

Berbeda dengan mobil hybrid, pemerintah tengah menyiapkan dukungan baru untuk kendaraan listrik berbasis baterai.

Baca Juga :  BLT dari Pemerintah Mulai Cair, Dibagi Jadi 4 Tahap Sepanjang 2025

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengatakan belum mengetahui adanya pembahasan insentif baru untuk kendaraan hybrid, termasuk HEV, PHEV, maupun REEV.

Menurutnya, pembahasan pemerintah saat ini lebih mengarah kepada kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV.
Pemerintah juga menyiapkan skema insentif yang menyasar hingga 500 ribu mobil listrik dan 500 ribu motor listrik. Jika terealisasi, total kendaraan yang mendapat dukungan mencapai 1 juta unit.

Salah satu skema yang disiapkan adalah Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap percepatan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai.

Sementara itu, mobil hybrid masih memiliki peluang besar di pasar Indonesia karena menawarkan teknologi elektrifikasi tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya.

Dengan penjualan yang terus meningkat, hybrid kini menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam masa transisi dari mobil bermesin konvensional menuju kendaraan listrik. (jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru