Oleh: Miar
DI tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks, Indonesia Emas 2045 hadir sebagai visi besar pembangunan nasional yang menempatkan hilirisasi industri, swasembada pangan, dan kemandirian energi sebagai pilar utama dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar target pembangunan, visi tersebut merupakan agenda besar untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dan menjelma menjadi negara maju yang berdaya saing tinggi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan fondasi ekonomi yang kuat, berkelanjutan, dan mampu menghadapi berbagai dinamika global. Dalam konteks ini, hilirisasi industri, swasembada pangan, dan kemandirian energi menjadi tiga pilar strategis yang saling terkait dan menentukan masa depan ekonomi nasional.
Hilirisasi merupakan langkah transformasi ekonomi yang bertujuan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Selama puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai eksportir bahan mentah, mulai dari mineral, hasil perkebunan, hingga komoditas perikanan.
Pola ekonomi seperti ini menyebabkan sebagian besar nilai tambah justru dinikmati oleh negara lain yang mengolah bahan baku tersebut menjadi produk jadi.
Kebijakan hilirisasi yang saat ini dijalankan pemerintah telah menunjukkan hasil positif. Ekspor produk berbasis mineral olahan meningkat signifikan, investasi di sektor manufaktur tumbuh, dan lapangan kerja baru mulai tercipta.
Hilirisasi tidak hanya meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional sehingga perekonomian Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor komoditas primer yang rentan terhadap fluktuasi harga global.
Namun, hilirisasi semata tidak cukup. Ketahanan ekonomi nasional juga sangat ditentukan oleh kemampuan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Indonesia memiliki potensi pertanian yang besar dengan ketersediaan lahan, sumber daya air, dan keanekaragaman hayati yang melimpah.
Ironisnya, sejumlah komoditas pangan strategis masih bergantung pada impor ketika produksi domestik mengalami gangguan.


